Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Fauzi Judo vs Fauzi Gerung

Dafir. • Jumat, 10 Mei 2024 | 05:53 WIB
Photo
Photo

Oleh: Akhmadi Yasid

ADA tiga nama orang di sini yang sibuknya totalitas. Tiga nama ini begitu disebut, orang langsung manggut-manggut. Tiga nama ini begitu familiar, jauh dari kata liar. Gilanya, tiga nama ini kebetulan sama. Namanya pasti tersenyum kalau Anda tahu: Fauzi.

Ya. Namanya memang Fauzi. Sebuah nama yang mudah dilafalkan. Gampang untuk diingat.
Memori kita juga begitu jamak mendengar. Meski tentu tak sama dengan nama Asep. Atau nama Agus, Budi dan Joko, yang memang tidak hanya jamak. Tapi, juga banyak.

Tentu Fauzi disini tak hanya sekadar entitas pelafalan. Tapi, sekaligus sebagai entitas dengan latar belakang berbeda. Tidak juga karena namanya yang lebih dari sekadar kombinasi panca suku kata. Namun, karena keunikan nama ini hadir dengan stori masing-masing.

Baca Juga: Tes Ombak Peselancar Politik

Pertama, Achmad Fauzi Wongsojudo. Kedua, Fauzi AS. Lalu, yang ketiga Kyai Faizi. Untuk yang ketiga ini meski beda huruf U dan I, tapi artinya kurang lebih sama: sukses atau menang. Karena baik Fauzi maupun Faizi sama-sama dari asal kata Fa’iz dalam Bahasa Arab.

Fauzi yang pertama, disini sangat mewakili harapan dan asa. Begitu banyak harapan orang pada Fauzi ini. Tentang hidup dan kehidupan tentunya. Tentang kesejahteraan dan kemakmuran. Tentang apapun juga. Saking banyaknya, orang kadang lupa kalau Fauzi juga manusia. Banyak keterbatasan. Banyak pula kekurangan. Bahkan, mungkin juga kealpaan.

Maka, ketika nama lahir sebagai Achmaf Fauzi lalu berganti, memang seolah muncul harapan baru. Terlebih dibelakang nama Achmad Fauzi bertambah panjang dengan tambahan kata Wongsojudo. Saya sangat awam ketika mencari padanan kata Wongsojudo ini. Rujukannya agak susah. Baik secara harfiah, etimologis maupun terminologis.

Tapi kalau sekadar diotak atik kasar, Wongsojudo bisa berarti keturunan atau keluarga raja yang penuh kelemahlembutan. Wongso dalam Bahasa Jawa memang artiya keturunan raja. Sedangkan judo berasal dari dua kata Jepang, yaitu "ju" yang artinya lembut dan "do" yang berarti jalan. Secara harfiah, judo adalah jalan kelemahlembutan.

Terlepas dari makna, Fauzi pertama ini memang membawa harapan banyak pihak. Terlebih setelah naik pangkat dari wakil bupati menjadi bupati. Begitu banyak harapan digantungkan. Tapi begitu banyak pula kekecewaan. Wajar.

Bupati juga manusia. Tapi jangan lupa, dengan menjadi bupati ia bisa lebih memanusiakan manusia. Program dan kebijakannya bisa mengentas. Tanda tangannya bisa merubah dunia.

Maka berharaplah Fauzi yang bupati ini menjadi raja yang betul-betul lemah lembut. Seperti beban berat arti penambahan namanya: Wongsojudo. Sehingga akan tetap menang dan sukses sebagaimana arti Fa’iz dalam nama Fauzi yang melekat pada dirinya.

Fauzi kedua, Fauzi As. Fauzi yang satu ini cukup unik. Karena kerjaannya mengkritik Fauzi yang pertama. Dalam banyak kesempatan, Fauzi ini seperti Rocky Gerung dalam konteks Jokowi. Tidak ada benarnya. Tidak ada positifnya. Semua sama: dungu.

Meski begitu, Fauzi yang kedua ini tetap menarik. Dalam sudut pandang jurnalistik, Fauzi masuk kategori sumber penting. Pada diri dan isi otaknya memang banyak hal penting. Juga mungkin genting. Tentang arah kebijakan Fauzi pertama yang tidak pro poor. Tentang remeh temeh pemerintahan yang mengarah pada bahasa Rocky Gerung tadi.

Tapi, itu termasuk versi. Versi ya sesuai versinya. Ketika versi, sudah pasti subyektif. Mudah menyalahkan. Memang menyalahkan tak perlu bayar paket data atau pulsa. Nah, versi Fauzi yang bupati tentu dengan kacamata versi “Fauzi Gerung”, selalu salah.

Lihat saja Tiktoknya: Fauzi As. Berulangkali muncul di beranda. Berulangkali pula tentang Fauzi pertama dengan segala kelemahannya. Jarang, bahkan mungkin tidak ada kelebihannya. Tapi ingat, ini kan lagi-lagi versi.

Pada Tiktok versi Fauzi ini yang dapat bingkisan lebaran, saya awalnya kagum. Meski tak menyebut siapa pemberi bingkisan, Fauzi As lalu membagikan isi amplop untuk sekitar. Ada unsur berbaginya. Sayangnya, yang dibagi bukan punya sendiri, tapi dari pejabat pemberi.

Meski amplopnya dibagi, sarungnya mungkin dipakai. Belakangan saya curiga, bingkisan itu justru dari Fauzi pertama: Fauzi Judo. Bungkus bingkisan dan sarungnya sama dengan yang dikirim ke saya, hehe. Maaf.

Bagaimana dengan Fauzi yang Faizi? Anda pasti sudah lebih paham. Perpaduan empat sehat lima sempurna pada dirinya, sungguh membuat kita kagum.

Pada predikatnya sebagai kyai, musisi, penyair, maupun predikat penyuka bus AKAP, begitu sangat paripurna. Kepiawaian dalam ber-fiqh, begitu totalitas. Lengkap dan tuntas. Takbir!!! (*)

*)Mantan Pemred Jawa Pos Radar Madura

 

Editor : Dafir.
#sumenep #Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo #bupati