Oleh MOH. SUBHAN
”ROKOK ini memakai tembakau berkualitas tinggi dengan tembakau Madura yang manis baunya dan tembakau Amerika yang harum.”
Kalimat tersebut tertulis jelas di kemasan salah satu rokok keretek paling favorit, Dji Sam Soe. Kali pertama membaca tulisan itu, saya heran, kok bisa rokok dengan reputasi baik di kalangan tokoh dibuat dari tembakau Madura. Padahal, di Madura tidak ada pabriknya.
Saya bukan perokok, sehingga tidak begitu mengerti tentang rokok dan tembakau. Akhirnya, mencoba cari informasi di internet. Hasilnya, banyak media yang mengupas tentang kualitas dan keunikan tembakau Madura, baik media asal Madura bahkan dari luar.
Seperti yang terbit di Jawa Pos radarmagelang.id pada 14 Oktober 2025. Kanal tersebut menulis bahwa tembakau campalok yang berasal dari Madura merupakan tembakau dengan harga termahal, yakni bisa mencapai Rp 5 juta per kilogram. Lebih mahal dari tembakau srintil asal Magelang dengan harga Rp 1 juta.
Fakta baru saya temukan saat sharing dengan Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean (KPPBC TMP) C Madura Novian Dermawan bersama dua stafnya. Mereka menyampaikan bahwa tembakau Madura merupakan salah satu yang terbaik di dunia.
Tembakau Madura tak hanya soal lokal, tapi punya potensi global. Apalagi, pasar ekspor untuk rokok produksi Madura sangat besar. Seperti ke Malaysia, Filipina, Timor Leste, Belanda, Polandia, hingga Timur Tengah.
Kekaguman saya terhadap komoditas pertanian andalan Pulau Garam itu tak berhenti sampai di situ. Saat ngobrol dengan salah satu pemilik pabrik rokok di Madura, saya mendapat informasi bahwa tembakau Madura merupakan bahan baku utama pembuatan rokok.
Dia menjelaskan, untuk membuat satu rokok dibutuhkan minimal 12 campuran. Tembakau Madura menjadi bahan utama. Sedangkan tembakau dari daerah lain hanya sebagai pelengkap. Tanpa tembakau Madura, tidak bisa membuat rokok yang enak.
Namun, berbagai keunggulan komoditas Madura tersebut nyaris tak pernah didengar. Sebaliknya, justru yang beredar di masyarakat dimonopoli dengan pemberitaan negatif. Stigma rokok bodong kerap menempel pada pulau ini.
Rubrik Eksplorasi Tembakau Madura berupaya untuk mengonter isu-isu negatif tentang tembakau dan rokok asal Madura. Yakni, dengan memberitakan seputar keunggulan, manfaat, dan dampak dari komoditas bernama tembakau, mulai dari hulu hingga hilir.
Di samping merebaknya isu mengenai rokok polos, kehadiran industri rokok telah berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat Madura. Dampak secara ekonomi sangat besar. Industri tembakau juga menyediakan lapangan pekerjaan yang banyak menyerap tenaga kerja.
Juga, mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah (UKM), seperti warung makan, jasa transportasi, dan pedagang di sekitar pabrik. Redaksi Jawa Pos Radar Madura membuat lipsus ini dengan harapan stigma negatif tentang Madura berubah menjadi stigma positif. Yakni, Madura sebagai pusat rokok modern yang mampu menembus pasar internasional. (*/han)
*)Pemred Jawa Pos Radar Madura
Editor : Hera Marylia Damayanti