MADURA, RadarMadura.id – Ratusan ribu santri yang menimba ilmu di Madura berasal dari luar daerah.
Di antaranya, Kalimantan, Bangka Belitung, Palangka Raya hingga mancanegara, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.
Kepala Kemenag Sampang Abdul Wafi mengatakan, jumlah pondok pesantren (ponpes) di Kota Bahari mencapai 395 lembaga dengan jumlah santri 55.549 orang.
Mereka tidak hanya dari Pulau Madura, tetapi juga dari berbagai wilayah di Indonesia hingga mancanegara.
Banyaknya potensi pesantren itu diimbangi dengan program dari pemerintah. Tujuannya, untuk mendorong kemajuan lembaga tersebut.
Bahkan, Kementerian Agama (Kemenag) RI membuat sistem untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan pesantren.
Di antaranya, Sistem Informasi Manajemen Bantuan (Simba) yang dikelola bagian Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren).
”Ada bantuan-bantuan yang disalurkan melalui Simba PD Pontren meskipun jumlah kuota sedikit. Tentu belum sesuai dengan jumlah lembaga pesantren yang ada,” paparnya.
Kemudian, ada program khusus pengembangan potensi santri. Yakni, program kemandirian pesantren di bidang ekonomi.
Sebab, pesantren yang memiliki sumber daya ekonomi kuat dan berkelanjutan, akan dapat menjalankan fungsi dengan optimal. Khususnya, fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga mendorong kemandirian ekonomi pesantren. Yakni, melalui program one pesantren one product (OPOP).
Setiap lembaga bisa mengusulkan melalui aplikasi yang sudah dibuat oleh Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur.
”Program ini sangat baik dan sangat membantu pesantren. Khususnya, dalam pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Dorongan untuk kemajuan ponpes juga dilakukan oleh Kankemenag Bangkalan. Berbagai program diterapkan dengan maksimal di masing-masing pesantren.
Kasi PD Pontren Kemenag Bangkalan Miftahul Arifin menyampaikan, salah satu program yang sangat bermanfaat adalah beasiswa santri berprestasi.
Melalui program tersebut, para santri yang keluarganya memiliki keterbatasan ekonomi tetap bisa menimba ilmu dengan baik.
Kemudian, dukungan kepada lembaga diberikan berupa bantuan operasional sekolah (BOS) dan bantuan operasional pendidikan (BOP). Bantuan tersebut sebagai wujud dukungan untuk pengembangan pendidikan dan sarana yang memadai.
”Kami juga mendorong pesantren menjalankan bisnis, seperti beternak lele untuk mendorong kemandirian pesantren,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Kemenag Sumenep Chaironi Hidayat menyampaikan, perhatian pemerintah terhadap ponpes ini sangat luar biasa.
Perhatian itu berupa pemberdayaan kepada santri maupun kepada ponpes secara kelembagaan.
Di antaranya, beasiswa kuliah untuk santri, baik di dalam maupun luar negeri. Kemudian, program kewirausahaan untuk mendorong kemandirian pesantren di bidang ekonomi.
”Bantuan dana inkubasi bisnis pesantren yang berorientasi pada kemandirian ekonomi pesantren sudah dijalankan,” katanya.
Di Pamekasan, pemerintah juga memberikan perhatian tinggi pada ponpes dan santri. Salah satunya, program beasiswa santri yang menyasar ratusan ponpes dan ribuan santri.
Kabag Kesra Setkab Pamekasan Abrori Rais mengatakan, selain beasiswa santri, pemkab juga berkomitmen membentuk koperasi pesantren.
Tujuannya, untuk menunjang kemandirian pesantren. ”Masing-masing santri mendapatkan beasiswa Rp 500 ribu setiap bulan,” tuturnya.
Pemerintah juga mendorong pembangunan di pesantren dengan memberikan bantuan hibah.
Bantuan itu diberikan setiap tahun untuk masing-masing ponpes sesuai kekuatan anggaran pemerintah. ”Hibah dilaksanakan setiap tahun,” katanya.
Secara regulasi, Pemkab Pamekasan sudah membentuk Peraturan Daerah (Perda) tentang Fasilitasi Pondok Pesantren.
Regulasi itu akan dibuatkan peraturan bupati sebagai turunan dan petunjuk pelaksanaan teknis di lapangan.
”Kami juga memberikan bantuan hibah untuk madrasah diniyah (MD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) yang berada di bawah naungan pesantren,” tandasnya. (bil/ay/bai/via/pen)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia