SAYA mengenal Ra Tohir saat saya masuk ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata pada 1995. Kala itu saya masuk tsanawiyah A dan beliau ada di tsanawiyah B. Sebagai anak pengasuh pesantren, beliau adalah bintang di angkatan kami.
Saat itu rambutnya panjang sebahu, punya komunitas santri bernama Gasak. Salah satu anggotanya yang terkenal adalah Inami, room mate (teman satu kamar) saya di Blok L/7. Anggota lain yang terkenal adalah Bebek. Dia terkenal karena lihai bermain sepak bola. Saat menjadi gelandang tengah pintar menyuplai bola ke Ra Tohir yang suka menjadi striker atau gelandang serang.
Saat itu salah satu yang kami senangi adalah tatkala Ra Tohir mengajak teman-teman bermain bola. Sebab, itu pertanda bahwa kami bisa libur sekolah. Saat itu dia dikenal dengan nama Raul, sebuah singkatan dari Lora Gaul.
Diperlakukan sebagai seorang anak kiai, ternyata tak membuat beliau terlena. Beliau lalu mengikuti kakak kandungnya, Lora Hasan, mondok ke Pondok Pesantren Langitan, Tuban, yang saat itu sedang diasuh oleh Kiai Abdullah Faqih.
Cuma berbeda dengan Ra Hasan yang memilih menjadi abdi dalem Kiai Faqih sebagai sopir beliau, Ra Tohir belajar sungguh-sungguh selama di Langitan. Selain Ra Tohir dan Ra Hasan, adik beliau Ning Maria Ulfa juga tercatat sebagai santri Langitan.
Selepas di Langitan, beliau kembali ke Bata-Bata. Lalu, melanjutkan kuliah sarjana strata satu di kampus milik keluarganya yaitu IAI Al Khairat, Palduding, Pamekasan (saat itu kalau tidak salah namanya masih STIT Al Khairat). Sedang saya melanjutkan ke IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Walau saya kuliah di Surabaya, bukan berarti komunikasi kami terputus. Apalagi saya menjadi salah satu deklarator Ikatan Mahasiswa Bata-Bata (Imaba) di Hotel Madinah Pamekasan dan menjadi ketua Imaba Surabaya pertama. Skripsi Ra Tohir lalu kami edit menjadi buku berjudul Lora; Status dan Kompetensi Keilmuan sebagai Penerus Pimpinan Pesantren.
Pertemuan kami semakin intens saat saya menulis tesis dengan judul Tradisi Kitab Kuning di Pesantren. Salah satu pesantren yang menjadi objek studi saya adalah Bata-Bata. Selain Bata-Bata, saya memasukkan Tambakberas, Guluk-Guluk, dan Buduran. Dalam proses itu kami sering diskusi termasuk tentang kualitas para lora di Madura dan Jawa. Banyak di antaranya yang memprihatinkan.
Dari diskusi tersebut lahirlah tulisan saya di Jawa Pos Radar Madura berjudul Lora Bodoh dan Santri Pintar. Tulisan ini dianggap kasar oleh sebagian masayikh. Tapi, saya beruntung beliau membela saya dan membenarkan tulisan saya. Dalam masa itu, beliau bercerita bahwa beliau hanya sedikit dari para anak kiai yang ikut bahtsul masail, yang dominan justru para santri biasa. Ide itulah yang kemudian saya tangkap menjadi tulisan.
Ra Tohir adalah seorang putra kiai yang berjiwa pemberontak. Dia tak ingin orang-orang menghormati dirinya hanya karena anak seorang kiai besar di Madura. Itulah kenapa, saat mudanya, ia lebih suka memakai nama Muhammad Tohir Zain dibanding nama Muhammad Tohir Abdul Hamid.
Ide-ide pemberontakan juga tampak dalam cara berpakaian. Dalam sebuah diskusi, kami mengkritik para kiai yang menjadikan serban sebagai sebuah simbol status sosial elite kelompok pemuka agama. Itulah kenapa dalam sepanjang hayatnya berceramah di berbagai tempat saya tidak pernah melihat beliau memakai serban layaknya kiai lain.
Cara berpakaian ini pula yang menjadi rujukan saya sehingga saat saya diminta untuk memberikan materi agama atau mauidah hasanah, saya menolak memakai serban. Saat seorang takmir masjid di Surabaya meminta saya berceramah dan request agar saya memakai dua serban, satu di kepala dan satu di pundak, saya menolaknya.
Melihat saya juga melakukan hal ini, beliau pernah berseloroh, ”mungkin dirimu memang butuh simbol itu, Ihsan, beda dengan saya yang anak kiai”. Saya tetap menolak saran beliau, apalagi tak ada niat dalam hati saya ingin jadi kiai atau mubalig panggung.
Kiai Sahal Mahfudz mengumandangkan konsep siyasah a’la dan siyasah adna. Saya kemudian mendiskusikan konsep ini dengan beliau. Siyasah a’la adalah pemihakan pada politik nilai, sedangkan siyasah adna adalah politik praktis yang berorientasi pada kekuasaan. Konsep ini sempat beliau pakai dalam beberapa tahun dengan pemilihan beliau pada siyasah a’la.
Tapi, DNA Bata-Bata yang sering kali terlibat dalam politik praktis sejak masa Kiai Abdul Hamid Baqir membuat beliau kemudian terlibat lagi dalam dukungan politik praktis dan bahkan mendirikan lembaga ”politik” bernama Al-Akbar.
Atas keputusannya ini saya pernah bertanya, ”kenapa kembali lagi dalam ranah politik praktis, Ra?” saat itu jawaban beliau, ”Kalau saya tidak memihak siapa-siapa, suara santri Bata-Bata ini akan diklaim banyak pihak. Maka dalam kapasitas saya, saya pada akhirnya juga harus bersikap”.
Beliau adalah orang yang sangat sederhana. Beliau sering kali makan nasi bungkus di depan para santri walau beliau adalah kiai besar, pewaris trah priayi dan kiai. Dia juga tak suka jika ada santri yang terlalu menghormatinya.
Bagi dia, pengabdian terbesar bagi pesantren bukanlah membungkuk di depannya, melainkan membuat dia dan keluarga Bata-Bata bangga saat melihat santrinya. Bangga dalam arti bahwa si santri jadi orang benar dan jadi orang yang hidup dalam nilai-nilai keagamaan. Apalagi ditambah prestasi akademik atau entrepreneurship. (*)
*)Deklarator Ikatan Mahasiswa Bata-Bata
Editor : Administrator