Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Sejarah Kabupaten Bangkalan pada Masa Kerajaan

Ina Herdiyana • Senin, 23 Oktober 2023 | 16:33 WIB

 

IKON: Warga keluar dari Masjid Agung Bangkalan setelah melaksanakan salat, Jumat (20/10). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/JPRM)   
IKON: Warga keluar dari Masjid Agung Bangkalan setelah melaksanakan salat, Jumat (20/10). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/JPRM)  

BANGKALAN, RadarMadura.idMadura sama dengan daerah Nusantara lainnya. Sebelum Islam datang, agama mayoritas yang dianut yaitu Hindu-Buddha. Islam dikenal dan akhirnya menjadi agama mayoritas pasca pemimpin Kerajaan Madura Barat Raden Pratanu memeluk Islam.

Madura kental dengan nuansa islami. Namun, jauh sebelum Islam menyebar di Pulau garam, agama mayoritas yaitu Hindu-Buddha. Dengan demikian, banyak ditemukan situs-situs bersejarah yang berkaitan dengan Hindu-Buddha di Madura. Salah satunya arca.

Namun, Islam mulai masuk dan menjadi agama mayoritas pada masa kepemipinan Raden Pratanu sebagai raja Madura Barat. Kemudian, diikuti oleh dua penguasa lainnya di Madura. Yaitu, raja yang memimpin Pamekasan dan Sumenep.

Ketua Peguyuban Kesultanan Bangkalan Abdul Hamid Mustari menyatakan, cikal bakal berdirinya Kerajaan Madura Barat dimulai pada abad ke-15. Yaitu, diawali dengan perjalanan seorang bernama Ki Demung yang berasal dari daerah Sampang. Dalam sejarahnya, Ki Demung berkelana ke Madura bagian barat.

Setiba di daerah Desa Plakaran, Kecamatan Arosbaya, Ki Demung bertemu dan menikah dengan Nyai Sumekar. Dari pernikahannya dikuruniai lima anak. Salah satunya bernama Pragalba atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Islam Ongguk.

Jauh sebelum Islam masuk ke Bumi Madura, agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat dan raja-raja yang ada di Madura yaitu Hindu-Buddha. Kepercayaan itu juga dianut Raden Pragalba yang saat itu meneruskan kepemimpinan ayahnya, Ki Demung Plakaran.

”Sampai di sini, ada kesimpangsiuran sejarah. Sebab, Ki Demung sebenarnya beragama Islam karena dia berdakwah. Apa buktinya? Dia dimakamkan bukan di bakar. Sementara anaknya (Raden Pragalba) tercatat berkeyakinan Hindu,” imbuhnya.

Raden Pragalba memeluk Islam saat-saat menjelang kematiannya. Saat itu, dia dituntun mengucapkan dua kalimat syahadat oleh putranya yang bernama Raden Pratanu. Namun, ayahandanya, Raden Pragalba, saat itu tidak mengucapkannya, tetapi hanya menganggukkan kepala.

Karena itu, Raden Pragalba dikenal dengan istilah sebutan Pangeran Islam Ongguk (mengangguk). Setelah wafat, Pangeran Pratanu melanjutkan kepemimpinannya sebagai raja Madura Barat pertama dengan gelar Panembahan Lemah Duwur.

Pangeran Pratanu memeluk Islam melalui patihnya yang bernama Empu Pageno. Semasa Pangeran Pragalba masih hidup, Raden Pratanu bermimpi didatangi Maulana Maghribi yang tidak lain Kanjeng Sunan Kudus. Dalam mimpinya, Pangeran Pratanu diminta untuk memeluk Islam.

Kemudian, Raden Pratanu menyampaikan mimpinya itu kepada ayahandanya. Karena itu, diutuslah salah satu patihnya Empu Pageno untuk menemui Maulana Maghribi guna belajar tentang Islam. ”Kalau menurut catatan, Empu Pageno belajar Islam selama enam bulan,” imbuhnya. 

Setelah kembali, Empu Pageno mulai mengenalkan dan menuntun ke Raden Pratanu untuk mengucapkan dua Kalimat syahadat. Hal itu menjadi cikal bakal masuknya agama Islam ke Madura. Sejak saat itulah Islam menjadi agama yang  banyak dianut warga Madura.

Bahkan, dua raja yang memimpin Madura juga turut memeluk Islam. Yaitu, kerajaan di Pamekasan dan Sumenep. ”Kerajaan Madura Barat bisa dengan mudah memengaruhi masyarakat dan raja-raja di Madura untuk memeluk Islam. Sebab, saat itu Madura Barat menjadi panutan dan disegani,” katanya. (jup)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

 

 

Editor : Ina Herdiyana
#islam #Kabupaten Bangkalan #Pangeran Ongguk #jprm #Pratanu #kota salak #sejarah #Pragalba #Ki Demung #Kerajaan Madura Barat