BANGKALAN, RadarMadura.id - Batik tidak selalu identik dengan motif klasik. Batik Peri Kecil tetap mempertahankan ragam hias tradisional Madura. Namun, mengolahnya lewat permainan warna dan komposisi motif agar lebih dekat dengan selera pemakai yang kian beragam.
Lestari Puji Rahayu, staf produksi Batik Peri Kecil, mengatakan, ciri khas produknya terletak pada spektrum warna yang luas dan motif geometris yang mengambil unsur ragam hias Sekar Jagad Madura. Salah satu produk turunannya yang menjadi andalan ialah pakaian batik tulis untuk anak-anak.
Usaha itu dikelola bersama suaminya, Mulat Nur S. Proses produksi dilakukan dengan menggandeng rekanan pada setiap tahapan pengerjaan.
Menurut Rahayu, perjuangan mengenalkan batik kepada anak muda sebenarnya sudah terlewati sejak lebih dari satu dekade lalu. Kini batik justru telah menjadi bagian dari gaya berpakaian. Anak muda bahkan dinilai tidak lagi menuntut batik harus berubah mengikuti selera mereka.
”Anak muda sekarang malah punya pride ketika memakai batik klasik tanpa merasa tampak tua,” ujarnya kemarin (2/10).
Namun, mempertahankan pakem bukan perkara sederhana. Menurut Rahayu, motif pakem membutuhkan biaya produksi dan keterampilan mencanting maupun mewarnai yang lebih tinggi. Jika hanya bertahan pada pakem, batik berpotensi tetap eksklusif dan sulit berkembang lebih luas.
Karena itu, Batik Peri Kecil memilih berjalan di dua jalur. Pakem tetap diproduksi sebagai bagian dari pelestarian, sedangkan motif baru dikembangkan melalui modifikasi unsur-unsur tradisional.
Salah satunya dengan mengambil motif kecil dari ragam hias pakem Madura untuk dijadikan motif utama pada sehelai kain. ”Unsur karakter goresan dan isian tidak boleh hilang,” jelasnya.
Modifikasi juga dilakukan melalui warna. Motif pakem yang identik dengan warna sogan, misalnya, dapat dihadirkan dengan warna pastel atau warna yang sedang digemari. Warna sage dan dusty pernah menjadi bagian dari eksplorasi tersebut.
Rahayu menilai, selera generasi muda kini semakin luas. Pilihan batik tidak hanya ditentukan usia, tetapi juga karakter pribadi, lingkungan pergaulan, hingga tempat seseorang mengenakan pakaian. Karena itu, Batik Peri Kecil berusaha menyediakan spektrum motif dan warna yang beragam.
Di sisi lain, dia tetap berhati-hati agar inovasi tidak membuat batik kehilangan akar. Untuk memastikan unsur lokal tetap terjaga, Rahayu melakukan riset mandiri dengan menelusuri sejarah, nama motif, hingga berburu spesimen batik Madura. Narasi dari para penutur juga dibandingkan karena referensi mengenai batik Madura masih terbatas.
Bagi Rahayu, pelestarian tidak cukup hanya dengan memakai batik. Pengetahuan mengenai cara membuatnya juga harus semakin tersebar. Dia pernah membagikan pengetahuan membatik, termasuk membuat batik dengan pewarna alam di Kabupaten Malang.
”Semakin banyak yang bisa membuat, apalagi yang bisa membuat adalah anak-anak, ini buat saya investasi melawan kepunahan,” tuturnya.
Dia berharap pelestarian batik Madura mendapat dukungan lebih kuat dari berbagai pihak. Salah satunya melalui kebijakan pemerintah. Menurut Rahayu, Bangkalan hingga kini belum memiliki museum yang secara khusus menghimpun koleksi motif batik. Padahal, keberadaan pembatik tradisional yang masih aktif bisa menjadi kesempatan untuk mendokumentasikan motif sebelum pengetahuannya hilang.
”Banyak tradisi dan produk budaya punah karena hanya dikuasai secara eksklusif oleh keluarga atau komunitas tertentu. Kalau keturunan asli menolak meneruskan, pengetahuannya akan punah,” katanya.
Dia juga mengapresiasi kegiatan membatik untuk anak-anak di sekolah. Menurut dia, pengenalan sejak dini bisa menjadi salah satu cara membangun iklim pelestarian batik agar tidak bergantung pada tren semata.
Rahayu berharap, batik tetap dikenakan bukan sekadar karena mode. Lebih dari itu, batik dapat dipahami sebagai wastra tradisional Indonesia yang memiliki sejarah, keterampilan, dan pengetahuan yang perlu diwariskan lintas generasi. (*/han)
Editor : Amin Bashiri