Pengelolaan Bank Sampah Butuh Dukungan Pemerintah

Hera Marylia • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 14:10 WIB
BANK SAMPAH: Warga menimbang sampah di lapangan Perum Pondok Halim 2 Minggu (13/9). (INA HERDIYANA/JPRM)
BANK SAMPAH: Warga menimbang sampah di lapangan Perum Pondok Halim 2 Minggu (13/9). (INA HERDIYANA/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan pemilahan.

Salah satu upaya untuk menanggulangi penumpukan sampah yaitu dilakukan oleh Bank Sampah Unit Pondok Halim 2.

Sebulan sekali, petugas bank sampah menjadi wadah bagi warga yang ingin menimbang sampah anorganik.

Febriyanti Nuraini, salah satu pengurus bank sampah menuturkan, warga membawa sampah yang telah dipilah dari rumah untuk ditimbang di lapangan Perumahan Pondok Halim 2.

Sampah yang diterima beragam. Mulai botol, besi, buku, kardus, kertas, kaleng, plastik, aluminium, aki, hingga barang elektronik seperti ponsel, AC, TV, CPU, monitor, dan mesin cuci.

Bank Sampah Unit Pondok Halim 2 merupakan bagian dari Bank Sampah Induk Lavender.

Kegiatan tersebut dikelola tiga pengurus, yakni Febriyanti dari Puskesmas Bangkalan, Ummi Zulaicho selaku penyuluh pertanian lapangan Kecamatan Kamal, dan Robiah yang merupakan warga perumahan setempat.

Bank sampah itu telah berjalan sekitar tujuh tahun dan kini memiliki sekitar 100 anggota.

Febriyanti mengatakan, bank sampah dibentuk untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Warga didorong memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah sehingga tidak seluruh sampah dibuang ke TPS.

Sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat disetorkan ke bank sampah. 

Menurut dia, upaya tersebut bisa membantu mengurangi residu sampah yang masuk ke TPS maupun TPA.

Sayangnya, pengelolaan sampah berbasis masyarakat belum sepenuhnya ditopang fasilitas dan pendampingan yang memadai. 

Pihaknya berharap pemerintah maupun perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dapat membantu pengolahan sampah yang masih bisa didaur ulang sekaligus dikembangkan menjadi kegiatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Febriyanti menyebut, selama berjalan tujuh tahun, pihaknya beberapa kali menerima kunjungan dari mahasiswa maupun kementerian. Namun, belum ada bantuan fasilitas yang dibutuhkan.

Karena itu, dia berharap pemerintah memperbanyak pembentukan bank sampah di desa maupun kecamatan, sehingga masyarakat memiliki akses lebih dekat untuk mengelola sampah dan tidak semuanya berakhir di TPS atau TPA.

Sementara itu, Karim, warga sekitar, mengaku keberadaan bank sampah memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Selain lingkungan menjadi lebih bersih karena sampah dipilah, warga juga memperoleh nilai ekonomi dari sampah yang disetorkan.

”Selain bikin bersih, juga dapat tabungan uang,” ujarnya. (ina/jup)

Editor : Hera Marylia
Bank Sampah Unit Pondok Halim 2 memilah sampah bank sampah sampah anorganik