BANGKALAN, RadarMadura.id – Jarak boleh memisahkan tubuh dari kampung halaman. Namun, karakter akan selalu tersemat pada jiwa orang Madura.
Kalimat itu menjadi salah satu gambaran dari kumpulan puisi Madura, Aku Pernah Jauh.
Buku kumpulan puisi yang diterbitkan Terakata pada Juli 2026 ini menghimpun karya 33 penyair dari Komunitas Masyarakat Lumpur (KML) Bangkalan.
Ada 145 puisi yang lolos kurasi dari 200 karya. Tiap penyair menyumbangkan tiga hingga lima puisi.
Buku ini mengangkat tema kearifan lokal Madura. Namun, dalam prosesnya, lokalitas tersebut tidak hanya hadir sebagai gambaran tradisi.
Baca Juga: Ide Camilan Unik dari Pasta dan Keju, Resep Mac and Cheese Roll Renyah dengan Isian Creamy
Ada upaya untuk memberi makna baru terhadap simbol-simbol Madura sekaligus merekam pengalaman masyarakatnya.
Dalam bedah buku yang menjadi bagian dari Mancing Sastra Ke-63 KML, Rozekki, sebagai pemateri, menyebut terdapat dua skema yang digunakan para penulis dalam memotret lokalitas Madura.
Pertama, melalui romantisasi berbagai peristiwa dan simbol yang dimaknai ulang sebagai mitos modern dalam perspektif Roland Barthes.
Misalnya, karapan sapi, tidak sekadar ditempatkan sebagai tradisi.
Dalam buku ini, ia bisa dibaca sebagai lambang kejantanan dan heroisme.
Begitu pula celurit yang dapat dimaknai kembali sebagai simbol kearifan.
”Penyair menciptakan lapisan makna baru dari simbol-simbol yang selama ini lekat dengan identitas Madura,” ujarnya.
Rozekki menjelaskan, skema kedua berkaitan dengan etos masyarakat Madura.
Baca Juga: Polytron PartyMax Go Punya Kemampuan Menghubungkan 99 Speaker Sekaligus untuk Mengisi Area Pesta
Rantau dan keinginan untuk kembali ke kampung halaman menjadi salah satu gambaran kuat.
Judul Madura, Aku Pernah Jauh seperti menjadi pintu masuk untuk memahami pengalaman tersebut.
Seseorang boleh pergi jauh, tetapi hubungan dengan tanah kelahiran tidak serta-merta terputus.
Penyair Joko Sucipto, yang karyanya berjudul Slempet juga dimuat dalam buku tersebut, melihat sebagian besar puisi menyuarakan romantisasi Madura melalui mitos, legenda, tradisi, dan sejarah.
Namun, menurut dia, belum banyak karya yang benar-benar berbicara tentang Madura hari ini.
Salah satu yang dianggap berbeda adalah puisi karya Muhri. Madura tidak hanya dipuji dan dikenang, tetapi juga dikritik.
Puisi menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahan sekaligus bentuk perlawanan.
Salah satunya melalui Surabaya Hanyalah Madura Selatan yang dinilai memiliki gagasan kuat dan menjadi antitesis dari judul buku.
Baca Juga: Ini Daftar Lengkap HP OPPO yang Mendapat ColorOS 16 Beserta Perkiraan Jadwal Update dari Find Series
Madura ada di darah, bukan di tanah// Dan Surabaya hanyalah Madura selatan//.
Artinya, ketika orang-orang Madura merantau, sejatinya ia tidak pernah jauh dari kemaduraannya.
Menurut Joko, puisi tersebut seolah berdialog dengan karya Arba, Madura, Aku Pernah Jauh.
Gagasan keduanya bertemu pada satu pemahaman. Yakni, perantauan tidak membuat seseorang tercerabut dari asalnya.
Ketika orang Madura pergi mencari ilmu, pekerjaan, atau kehidupan yang lebih baik, Madura tetap menjadi bagian dari dirinya.
Joko juga melihat perbedaan motif merantau dalam sejumlah puisi.
Menurut dia, puisi Arba lebih dekat dengan gagasan Imam Al-Ghazali tentang perjalanan mencari ilmu yang mengarah pada pencarian eksistensi manusia.
Sementara beberapa puisi merantau lainnya lebih dekat dengan pemikiran Ibnu Khaldun, yakni merantau untuk mencari penghidupan.
Baca Juga: Punya Nasi Sisa di Rumah? Ubah Jadi Baked Egg Rice, Olahan Nasi Panggang Bertopping Telur dan Keju
Di antara karya yang mendapat sorotan dari sisi estetika adalah puisi Abdul Halim berjudul Rebba.
Karya tersebut dinilai memiliki kekuatan estetik yang menonjol di tengah beragam cara para penyair menerjemahkan Madura ke dalam bahasa puisi.
Bagi Hayyul Mubarok, diskusi tersebut tidak hanya membedah isi sebuah buku.
Mancing Sastra ke-63 itu menjadi penanda produktivitas para pegiat sastra di Bangkalan.
Potensi penulis dinilai cukup besar sehingga perlu diberi ruang dan wadah untuk terus berkembang.
Karena itu, pembukuan karya secara bersama-sama diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan.
”Agenda pembukuan harus diprogramkan agar produktivitas para penulis tetap terjaga dan membuka peluang bagi lahirnya karya-karya baru,” ujarnya.
Sementara itu, Pembina KML sekaligus kurator Madura, Aku Pernah Jauh M. Helmy Prasetya menyatakan, buku tersebut menjadi bagian dari proses regenerasi.
Bangkalan dinilai masih membutuhkan banyak penerus di bidang kesusastraan, terutama dari kalangan generasi muda.
Pemilihan tema kearifan lokal Madura, lanjut Helmy, merupakan upaya membuka pintu yang relatif dekat dengan pengalaman para penulis.
Dari sana, mereka diharapkan mampu mengembangkan perspektif yang lebih luas tentang Madura.
Buku tersebut juga merupakan bagian dari program kemitraan dengan Senat Akademik Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Dalam hal ini melibatkan Setya Yuwana Sudikan, Endah Imawati, dan Titik Indarti sebagai tim editor. (ina/bil)
Editor : Hera Marylia