BANGKALAN, RadarMadura.id – Kondisi sungai di Kampung Bandaran, Kelurahan Pejagan, Bangkalan, dikeluhkan nelayan.
Sebab, pendangkalan membuat akses perahu menuju laut maupun sebaliknya menjadi sulit.
Nelayan khawatir kondisi itu mengganggu aktivitas melaut.
Mashuri, nelayan asal Kampung Bandaran, mengatakan, sungai tersebut merupakan jalur utama perahu nelayan menuju laut.
Baca Juga: Saudara Kembar di Kwanyar Kompak Edarkan Sabu, Terancam Hukuman Maksimal 20 Tahun Penjara
Saat kondisi air dangkal, perahu berisiko kandas sehingga nelayan harus menyesuaikan waktu keberangkatan dengan kondisi pasang-surut air.
”Sungai ini jalan menuju laut. Kalau air sungai dangkal, perahu bisa kandas,” ujarnya Jumat (4/9).
Menurut dia, normalisasi sungai terakhir dilakukan sekitar 10 sepuluh tahun lalu.
Sejak saat itu, sedimentasi membuat kedalaman sungai kembali berkurang. Karena itu, dia berharap pemerintah
memberikan perhatian terhadap kondisi sungai yang menjadi akses penting bagi nelayan.
Mashuri menilai, normalisasi tidak hanya menyangkut kepentingan nelayan, tetapi juga hajat banyak warga yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas melaut.
Baca Juga: Simpan Sabu di Kamar Mandi, Cara Kurir Makanan Kelabui Petugas Kepolisian
Sungai yang kembali memiliki kedalaman memadai akan memudahkan perahu keluar-masuk sehingga aktivitas mencari ikan berjalan lancar.
”Ini sangat dibutuhkan masyarakat nelayan. Kami sangat berharap adanya normalisasi sehingga lancar mencari nafkah,” ucapnya.
Keluhan serupa sebelumnya juga telah mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan.
Pada 15 Mei 2025, Bupati Lukman Hakim menyatakan segera melakukan normalisasi sungai.
Tepatnya di akses lalu lintas nelayan dari laut menuju tempat tambat perahu.
Saat itu, Lukman mengatakan, normalisasi diperlukan agar aktivitas nelayan tidak terhambat oleh kondisi sungai yang dangkal.
Terlebih, nelayan biasanya berangkat sejak dini hari dan memiliki waktu terbatas untuk menangkap ikan.
Baca Juga: Polresta Sumenep Buru Pemilik Tas Berisi Puluhan Gram Sabu-Sabu
Jika akses sungai terkendala pendangkalan, waktu keberangkatan maupun kepulangan nelayan berpotensi ikut terganggu.
”Kita usahakan secepatnya. Karena butuh alat berat khusus. Mungkin kami akan pinjam atau mengajukan ke provinsi,” ujar Lukman saat itu.
Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut dari pemkab.
Akibatnya, nelayan kembali mengeluh atas pendangkalan sungai tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Bangkalan Rizal Mardiansyah belum bisa memberikan keterangan secara detail menyikapi masalah itu.
”Untuk normalisasi sungai ini, silakan ke kantor pada hari aktif,” ucapnya. (ina/han)
Editor : Hera Marylia