Mengikuti Upacara Peringatan HUT Ke-81 RI di Tanjungbumi, Warga Berbaris Tepat Pukul 07.00 demi Menghormati Pejuang

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 09:34 WIB
SUARA DARI DESA: Petugas Paskibraka membentangkan bendera dalam upacara HUT Ke-81 RI di Balai Desa Banyusangka, Kecamatan Tanjungbumi, Bangkalan, Senin (17/8). (INA HERDIYANA/JPRM)
SUARA DARI DESA: Petugas Paskibraka membentangkan bendera dalam upacara HUT Ke-81 RI di Balai Desa Banyusangka, Kecamatan Tanjungbumi, Bangkalan, Senin (17/8). (INA HERDIYANA/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Lapangan Balai Desa Banyusangka, Kecamatan Tanjungbumi, dipenuhi warga dengan nuansa merah putih serta kebaya dan jarit pada Senin (17/8) pagi.

Nelayan, karyawan SPPG, guru, dan pelajar yang sehari-hari sibuk dengan aktivitas masing-masing berkumpul pagi itu.

Tujuannya, untuk mengikuti upacara memperingati HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

Upacara peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI berlangsung khidmat.

Baca Juga: PDI Perjuangan Sumenep Gelar Upacara dan Tasyakuran Kebangsaan

Bagi warga setempat, peringatan kemerdekaan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk kembali mengingat perjuangan para pendahulu sekaligus menyampaikan harapan untuk masa depan.

Upacara dimulai pukul 07.00 dan berakhir sekitar pukul 09.00.

Rangkaian kegiatan diawali dengan persiapan pasukan, masuknya pemimpin upacara, penghormatan, hingga laporan kepada pembina upacara.

Suasana semakin khidmat ketika bendera Merah Putih dikibarkan dengan iringan lagu "Indonesia Raya".

Setelah itu, peserta mengikuti mengheningkan cipta, pembacaan Pancasila, detik-detik Proklamasi, pembacaan Undang-Undang Dasar 1945, hingga amanat pembina upacara dan doa.

Kepala Desa Banyusangka Abd. Syukur mengatakan, kemerdekaan merupakan momentum yang patut diperingati setiap tahun.

Baca Juga: Imigrasi Pamekasan Gondol Dua Penghargaan, Jadi Momentum Mantapkan Langkah Strategis

Bukan semata untuk merayakan dengan hiburan, tetapi juga mengenang jasa para pejuang terdahulu.

"Momen ini bukan sekadar hura-hura. Kita harus mengenang betapa sengsaranya para pejuang yang mengorbankan nyawa dan hartanya demi kemerdekaan Indonesia," ujarnya.

Bagi generasi muda, kemerdekaan dimaknai sebagai kesempatan untuk menjalani kehidupan tanpa penindasan.

Aprilia, pelajar SMPN 1 Tanjungbumi, menyebut kemerdekaan sebagai kebebasan bangsa dari berbagai bentuk penindasan dan ketergantungan.

Makna kemerdekaan juga datang dari berbagai kelompok masyarakat.

Fahmi, perwakilan SPPG, memaknainya sebagai kesejahteraan rakyat. 

Dia berharap keberadaan SPPG terus berjalan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjadi ruang bagi para relawan yang antusias bekerja.

Sementara itu, suara berbeda datang dari kalangan nelayan.

Ruspandi, perwakilan nelayan Banyusangka, menilai kemerdekaan bagi masyarakat pesisir juga berkaitan erat dengan kesejahteraan ekonomi.

Dia berharap harga ikan lebih berpihak kepada nelayan.

Baca Juga: Di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Nelayan Masih Berperang dengan Harga BBM

Selain itu, perlindungan terhadap nelayan kecil juga menjadi perhatian, termasuk melalui larangan penggunaan cantrang yang dinilai dapat mengganggu aktivitas nelayan tradisional. 

"Merdeka itu ketika harga ikan memihak kepada masyarakat dan ada larangan penggunaan cantrang sehingga nelayan kecil tidak terganggu," katanya.

Tokoh masyarakat sekaligus Pembina Karang Taruna Banyusangka Imam Muhdi memandang kemerdekaan tidak berhenti setelah Bangsa Indonesia terbebas dari penjajahan.

Menurut dia, kemerdekaan harus dilanjutkan dengan pembangunan yang lebih baik, terutama dalam bidang ekonomi, hukum, dan keadilan.

Dia juga menyoroti persoalan korupsi yang dinilai dapat menghambat kesejahteraan masyarakat.

Penegakan hukum terhadap pelaku korupsi, kata dia, harus dilakukan secara tegas agar pembangunan dan kesejahteraan rakyat dapat berjalan lebih baik.

"Merdeka berarti kita bebas dari penjajah. Tidak hanya bebas, tetapi bagaimana kita membangun ke depan lebih baik, terutama ekonomi, hukum, dan keadilan yang perlu ditingkatkan," tuturnya.

Di sisi lain, Safira Nurfiani Safitri Fauzi, perwakilan panitia, memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan berekspresi dan menentukan sikap.

Baca Juga: Peluang Kerja bagi Lulusan SMA Tipis

Namun, kebebasan tersebut tetap harus berada pada jalur yang benar dan tidak merugikan orang lain.

"Merdeka itu bebas berekspresi dan bebas menentukan sikap, tetapi tetap di jalur yang benar tanpa intimidasi dari orang lain," ujarnya.

Setelah rangkaian inti upacara selesai, suasana berubah lebih semarak.

Peserta disuguhi penampilan Tari Merah Putih oleh siswa SD serta lagu-lagu bertema kemerdekaan, di antaranya "17 Agustus" dan "Kembang Mekar".

Pertunjukan tersebut menjadi penutup rangkaian peringatan kemerdekaan di Banyusangka. (*/yan)

Editor : Hera Marylia Damayanti
HUT Ke-81 Kemerdekaan RI Balai Desa Banyusangka kebebasan berekspresi upacara kesejahteraan rakyat