81 Tahun Kemerdekaan, Kebutuhan Sarpras Sekolah Belum Terpenuhi, Siswa SDN Konang 4 Merasa Belum Merdeka karena Tak Punya Kelas Sendiri

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 09:17 WIB
HORMAT GRAK!: Nuri Fauzia Ahadini, siswa kelas V SDN Konang 4, Kecamatan Konang, Bangkalan, memberi hormat pada Sang Saka Merah Putih di halaman sekolahnya yang ambruk, Minggu (16/8). (SDN KONANG 4 UNTUK JPRM)
HORMAT GRAK!: Nuri Fauzia Ahadini, siswa kelas V SDN Konang 4, Kecamatan Konang, Bangkalan, memberi hormat pada Sang Saka Merah Putih di halaman sekolahnya yang ambruk, Minggu (16/8). (SDN KONANG 4 UNTUK JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Meski fasilitas terbatas, siswa SDN Konang 4 masih bisa meraih Juara I lomba Gerak Jalan dan Senam Kreasi dalam rangka HUT Ke-81 Kemerdekaan RI.

Prestasi ini sedikit bisa memberikan suntikan semangat di tengah musibah yang dialami atas runtuhnya ruang kelas mereka.

Sejak gedung sekolah ambruk pada Kamis (30/7), para siswa SDN Konang 4 harus menjalani kegiatan belajar mengajar (KBM) di madrasah.

Sekolah yang selama ini menjadi tempat mereka membaca, menulis, dan bermain dengan teman-teman untuk sementara harus ditinggalkan.

Baca Juga: Senandung Cinta Nabi dan Cinta Negeri Bergema di Pocang Temor

Suasana belajar di madrasah, tentu tak sama seperti sekolah sebelumnya. Satu ruangan harus dibagi menjadi dua kelas.

Suara guru dari satu kelas bisa terdengar ke kelas lainnya. Sementara siswa dituntut tetap konsentrasi di tengah kondisi yang serba terbatas.

Nuri Fauzia Ahadini, siswa kelas V SDN Konang 4, menceritakan, perpindahan tersebut menghadirkan pengalaman yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. ”Agak sedih dan canggung,” ujarnya.

Dini menuturkan, kondisi paling terasa adalah fasilitas belajar. Tidak ada lagi bangku dan meja sekolah seperti yang selama ini dia gunakan.

Para siswa harus belajar secara lesehan. Meja kayu yang tersedia merupakan meja untuk mengaji. ”Orang sini menyebutnya kattok,” ucapnya.

Dini menerangkan, guru tidak bisa leluasa memberikan materi kepada siswa karena ada dua kelas dalam satu ruangan.

Baca Juga: Teladani Perjuangan dan Pengorbanan Para Pejuang, Siswa SMAN 2 Bangkalan Kunjungi Kediaman Veteran

Papan tulis hanya tersedia satu. Pengaturan pembelajaran pun harus bergantian. 

Bahkan, guru terpaksa berada di luar ruangan agar proses belajar dua kelas tetap berjalan.

”Tidak nyaman, tapi tidak ada pilihan,” tuturnya.

Karena musibah itu, tutur Dini, semua kegiatan harus dilakukan dengan menyesuaikan tempat.

Termasuk ketika ada pembagian makan bergizi gratis (MBG). Siswa tidak bisa menikmati makanan di dalam ruangan agar tidak kotor.

Dini menyampaikan, perubahan juga terasa dalam kegiatan di luar pembelajaran. Misalnya, kegiatan senam dan latihan gerak jalan.

”Latihan gerak jalan tidak ngumpul di sekolah lagi, tetapi ketemu di jalan dan bubar di jalan juga,” katanya.

Saat ini, lanjut Dini, hanya ada sekitar 10 siswa yang bertahan di kelas V.

Sebagian lainnya dipindahkan oleh orang tua ke sekolah lain karena khawatir terhadap keselamatan anak. 

Menurut Dini, perhatian pemerintah terhadap fasilitas pendidikan sangat penting.

Baca Juga: Harga Rp13 Jutaan, Insta360 X6 Tawarkan Rekaman 8K dan Perspektif 360 Derajat untuk Kreator yang Ingin Hasil Video Lebih Fleksibel

Sebab, sekolah merupakan tempat anak-anak mempersiapkan masa depan.

”Tolong, Bapak Pemerintah, lebih perhatikan fasilitas pendidikan daripada gedung MBG,” harapnya.

Siswa berparas cantik itu merasa belum merdeka karena belum punya kelas sendiri.

”Kami ingin memiliki sekolah dengan fasilitas lengkap. Nyaman dan aman untuk belajar. Itulah kemerdekaan yang sebenarnya,” ucapnya. 

Guru SDN Konang 4 Abdul Azis menegaskan, keterbatasan sarana dan prasarana sekolah tidak menyurutkan semangat siswa untuk berprestasi.

Hal itu dibuktikan dengan keberhasilan SDN Konang 4 meraih juara I gerak jalan tingkat kecamatan.

”Sekalipun secara sarana dan prasarana sekolah kami kurang layak, alhamdulillah secara kualitas siswa kami masih mampu bersaing dengan sekolah-sekolah lain yang kondisi gedungnya lebih bagus. Semoga prestasi ini terus dipertahankan,” harapnya.

Sementara itu, Kepala SDN Konang 4 Musafak berharap bangunan sekolah yang roboh sekitar tiga pekan lalu segera dibangun kembali.

Seluruh ruang kelas diperbarui dan dilengkapi fasilitas yang memadai.

Dengan begitu, siswa bisa belajar dengan nyaman dan memiliki harapan besar untuk terus mengembangkan potensi serta mengharumkan nama sekolah.

Baca Juga: Perempuan Berprestasi: Menyoal Narasi "Menyalahi Aturan"

”Di bulan Agustus ini, kami mendapat prestasi yang cukup membanggakan. Yakni, juara I lomba gerak jalan dan juara senam kreasi,” ujarnya.

Menurut Musafak, pembangunan gedung sekolah bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat.

Sebab, selama ini, sejumlah orang tua masih ragu menyekolahkan anaknya di SDN Konang 4 karena khawatir roboh.

Hal ini berdampak pada jumlah peserta didik yang relatif minim.

Harapan ini sejalan dengan tema HUT Ke-81 Kemerdekaan RI. Yakni, Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.

”Kami sudah berupaya melakukan pendekatan kepada stakeholder, tokoh ulama, tokoh masyarakat, dan pihak-pihak lainnya,” tukasnya. (*/bil)

Editor : Hera Marylia Damayanti
SDN Konang 4 sekolah ambruk kemerdekaan ri Suasana Belajar harapan