BANGKALAN, RadarMadura.id – Madura berpotensi menjadi pusat ekonomi baru di Jawa Timur (Jatim). Sebab, sejumlah perusahaan padat karya asal Tiongkok berencana merelokasi kegiatan industrinya di Pulau Garam.
Tepatnya di Kawasan Industri Wiraraja Madura yang berlokasi di Kabupaten Bangkalan. Hal itu mendapat respons positif dari Ketua Komisi D DPRD Provinsi Jatim asal Madura, yaitu Abdul Halim.
Politikus Partai Gerindra itu berharap, masyarakat dapat melihat rencana pengembangan kawasan industri itu sebagai peluang untuk mendorong kemajuan Madura. Sehingga, Madura mampu menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi baru di Jatim
Pihaknya mengajak masyarakat memberikan dukungan terhadap rencana pengembangan Kawasan Industri Wiraraja Madura. Kehadiran kawasan industri tersebut dinilai dapat membuka peluang kerja bagi masyarakat Madura.
"Support masyarakat sangat penting dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif. Dengan adanya kawasan industri yang berkembang, peluang tumbuhnya berbagai aktivitas ekonomi baru diharapkan semakin terbuka, " imbuhnya.
Halim menyatakan, masyarakat Madura tidak boleh menjadi penonton dengan hadirnya berbagai perusahaan asing di Madura. Tetapi, harus mengambil peran melalui peningkatan keterampilan, penyediaan tenaga kerja, serta pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Adanya kawasan industri juga diharapkan mampu mendorong pembangunan infrastruktur dan meningkatkan konektivitas antardaerah di Madura. Dampak berantai dari tumbuhnya kawasan industri dinilai dapat memperkuat perekonomian daerah.
"Namun yang harus digarisbawahi, pengembangan industri tetap memperhatikan kepentingan masyarakat dan aspek lingkungan," sambungnya.
Halim juga akan mendorong pemprov untuk turut ambil bagian dalam mempercepat rencana industrialisasi di Madura. Sehingga, harapan masyarakat untuk terbukanya kesempatan kerja bisa segera terealisasi.
"Apalagi investor yang akan masuk ke Bangkalan bersifat padat karya. Mulai dari industri tekstil, matras, benang, dan berbagai manufaktur lainnya, " katanya. (jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti