Ziyadussadat Alfirdaus, Siswa SD Muhammadiyah 1 Bangkalan Peraih Medali Emas MEA 2026, Meski Pendiam, tapi Tekun Belajar

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 06:32 WIB
RAJIN: Ziyadussadat Alfirdaus meraih medali emas dalam MEA 2026. (SD MUHAMMADIYAH 1 BANGKALAN UNTUK JPRM)
RAJIN: Ziyadussadat Alfirdaus meraih medali emas dalam MEA 2026. (SD MUHAMMADIYAH 1 BANGKALAN UNTUK JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Ziyadussadat Alfirdaus tidak menyia-nyiakan kesempatan saat mengikuti Muhammadiyah Education Award (MEA) 2026.

Siswa SD Muhammadiyah 1 Bangkalan ini menunjukkan kemampuannya dalam ajang penghargaan dan kompetisi bergengsi bagi siswa, guru, tenaga kependidikan, serta sekolah dan madrasah di lingkungan Muhammadiyah itu.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen & PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.

Tahun ini lomba tersebut berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (8/8).

Baca Juga: Tim Kemendikdasmen Tinjau SDN Konang 4, Revitalisasi Direncanakan Dikerjakan Tahun Ini

Ziyad menempati posisi keempat dari lima besar dalam olimpiade mata pelajaran IPS dari ribuan peserta yang mengikuti MEA 2026.

Dalam kompetisi ini, lima peserta terbaik mendapat medali emas, sementara sepuluh besar mendapat medali perak, dan 15 besar menerima medali perunggu.

Prestasi itu terasa istimewa bagi Ziyad dan keluarganya. Sebab, persiapannya terbilang singkat.

Hanya sekitar dua minggu sebelum kompetisi, Ziyad mendapat pendampingan intensif untuk menghadapi olimpiade tersebut.

Intan Novianti Nur Hidayah, guru pembina IPS SD Muhammadiyah 1 Bangkalan, menuturkan, potensi Ziyad mulai terlihat sejak duduk di kelas IV.

Saat itu, dia masuk kelas talenta. Memasuki kelas V, kemampuan akademiknya semakin terlihat sehingga pada kelas VI Ziyad masuk kelas olimpiade.

Materi yang dipelajari sebelum lomba cukup luas. Mulai dari materi kelas IV hingga kelas VI. Di antaranya globalisasi, mata uang, hingga berbagai materi IPS lainnya.

”Persiapannya, kami mulai dari modul IPS, kisi-kisi soal, dan latihan yang menyesuaikan dengan materi yang diperkirakan masuk MEA,” tutur Intan.

Dia menjelaskan, Ziyad bukan tipe siswa yang banyak bertanya atau langsung menunjukkan kemampuannya.

Baca Juga: Elektabilitas PAN Melesat di Atas 5 Persen, Slamet Ariyadi Ucapkan Terima Kasih kepada Masyarakat

Karena itu, guru harus lebih aktif memancingnya dengan pertanyaan dan latihan soal.

”Ziyad itu pendiam. Jadi, guru yang harus aktif menguji. Dia memang belum bisa cepat. Agak ketinggalan sedikit, tapi diam-diam menghanyutkan,” ujar Intan.

Menurut dia, kemampuan akademik bukan satu-satunya modal yang dibawa Ziyad dalam kompetisi tersebut.

”Mungkin juga ada keberkahan ilmu dan adabnya bagus. Dia tenang, hanya memang kurang cepat,” ucapnya.

Intan berharap, capaian Ziyad menjadi pemantik bagi siswa lain untuk terus berusaha. Bagi mereka yang belum berhasil meraih prestasi, kegagalan bukan alasan untuk berhenti.

”Kami sangat bangga karena jerih payahnya dalam belajar dan berdoa terjawab dengan raihan gold medal. Mungkin ini juga berkat ikhtiar dan doa Ziyad,” tuturnya.

Bagi orang tua Ziyad, Suraji dan Nur Amalia Rohmah, capaian tersebut juga menjadi jawaban atas ikhtiar yang dilakukan.

Keduanya yang sama-sama berprofesi sebagai guru PNS berusaha memberikan dukungan tanpa membebani anak dengan target juara.

Suraji, ayah Ziyad, menyampaikan, selama persiapan, Ziyad lebih banyak dibimbing guru mata pelajaran di sekolah.

Orang tua memasrahkan proses pembinaan kepada guru sekaligus tetap memberikan fasilitas yang dibutuhkan. Ziyad juga mengikuti kursus bahasa Inggris.

”Sebenarnya tidak menyangka karena saingannya berat. Tapi, kami berusaha dulu, tidak memikirkan hasil. Yang penting anak berani tampil,” kata Suraji.

Menurut Suraji, kompetisi tersebut penting diikuti Ziyad. Sebab, putranya direncanakan melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Muallimin Muhammadiyah Jogjakarta.

Baca Juga: Huawei Pura 90s Pro Punya Kamera 50 MP dan Wi-Fi 7, Ini Kelebihan Menarik hingga Kekurangan yang Wajib Dipertimbangkan

Salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah memiliki prestasi dalam olimpiade tersebut. ”Alhamdulillah, ternyata benar-benar juara,” ungkapnya.

Sebagai orang tua, Suraji menyebut, ada beberapa hal yang dilakukan sebagai kunci keberhasilan anak. Di antaranya mendidik, membimbing, memberikan waktu belajar, dan memberikan pengalaman.

”Sering komunikasi juga tentang kekurangan anak dengan guru di sekolah dan memberikan fasilitas yang memadai sesuai kebutuhan anak dalam pendidikan,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala SD Muhammadiyah 1 Bangkalan Isrotul Sukma menilai, prestasi Ziyad bukan hanya tentang menjadi juara, tetapi bagaimana seorang anak belajar menjadi pemimpin.

Sebagai ketua IPM Kids, Ziyad sudah terbiasa berkolaborasi, berkomunikasi, mengambil inisiatif, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya.

”Kami sangat bangga atas capaian Ziyad dalam MEA 2026. Ziyad menunjukkan bahwa prestasi akademik akan semakin bermakna ketika berjalan bersama kecerdasan sosial dan kepemimpinan,” tuturnya. 

Menurut Isrotul Sukma, esensi pendidikan tidak sekadar mencetak anak berprestasi. Tetapi, juga menyiapkan generasi yang mampu mengembangkan potensi diri, bekerja bersama, dan kelak memberi dampak bagi orang lain. 

”Semoga prestasi ini menjadi langkah awal bagi Ziyad untuk terus tumbuh, memimpin, dan menginspirasi,” harapnya. (ina/bil)

Editor : Hera Marylia Damayanti
Ziyadussadat Alfirdaus MEA 2026 SD Muhammadiyah 1 Bangkalan medali emas prestasi gemilang