Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Dari Ruang Redaksi ke Ladang Tembakau, Kepedulian Mohammad Sugianto Membangun Harapan Petani Bangkalan

Hera Marylia Damayanti • Senin, 6 Juli 2026 | 07:53 WIB
KERJA KERAS: Moh. Sugianto menyiram bibit tembakau yang baru ditanam di Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan.
KERJA KERAS: Moh. Sugianto menyiram bibit tembakau yang baru ditanam di Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan.

BANGKALAN, RadarMadura.id – Di balik kesibukannya sebagai seorang jurnalis senior dan manajer di Jawa Pos Radar Madura, Mohammad Sugianto menyimpan kegelisahan yang tak banyak diketahui orang.

Bertahun-tahun mengamati denyut kehidupan masyarakat Madura melalui liputan jurnalistik, dia menyaksikan bagaimana tembakau mampu mengubah wajah perekonomian di Kabupaten Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Namun, ada satu daerah yang menurutnya masih tertinggal, yakni Bangkalan.

Kegelisahan itulah yang kemudian membawanya turun langsung ke lahan pertanian.

Baca Juga: Tembakau Jadi Harapan Baru Petani, Didorong Menjadi Komoditas Pengungkit Ekonomi Bangkalan

Bukan sekadar ingin mencoba peruntungan, melainkan menjadi bagian dari perubahan.

Selama ini Sugik dikenal sebagai sosok yang lama berkecimpung di dunia jurnalistik.

Kariernya di Jawa Pos Radar Madura mengantarkannya menduduki posisi manajerial setelah melalui perjalanan panjang sebagai wartawan. 

Dia memang mengemban jabatan manajerial di lingkungan Jawa Pos Radar Madura.

Namun, di sela-sela aktivitasnya mengelola media, kini dia memilih mengenakan topi caping dan turun ke sawah.

Baginya, menjadi petani bukanlah pekerjaan sampingan semata, tetapi sebuah bentuk kepedulian terhadap masa depan masyarakat Bangkalan.

"Saya melihat sendiri bagaimana tembakau menjadi penopang ekonomi ribuan keluarga di Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Kenapa Bangkalan yang sama-sama berada di Pulau Madura tidak bisa ikut merasakan keberhasilan itu? Ini pertanyaan yang terus mengusik pikiran saya," katanya.

Berbekal rasa ingin tahu, Sugik mulai mempelajari budi daya tembakau.

Dia tidak segan belajar dari petani-petani berpengalaman, mendatangi lahan, memahami karakter tanah, hingga mempelajari teknik budi daya yang tepat.

Baca Juga: VinFast Buka Kesempatan Konsumen Umum Miliki Limo Green, MPV Listrik Tujuh Penumpang Dibanderol Rp299 Juta dengan Beragam Keunggulan

Baginya, perubahan harus dimulai dari diri sendiri sebelum mengajak orang lain mengikuti.

Langkahnya terjun langsung ke dunia pertanian bukan didorong oleh ambisi menjadi petani besar.

Dia justru ingin memberi contoh bahwa komoditas tembakau memiliki peluang ekonomi yang menjanjikan apabila dikelola secara serius.

Menurut Sugik, Bangkalan memiliki potensi lahan yang tidak kalah dibanding tiga kabupaten lain di Madura.

"Yang dibutuhkan adalah keberanian mencoba, kemauan belajar, serta pendampingan agar petani semakin percaya diri menanam tembakau," tuturnya.

Dia berharap semakin banyak generasi muda yang tidak malu menjadi petani.

Baginya, sektor pertanian bukan lagi identik dengan pekerjaan tradisional, tetapi telah berkembang menjadi sektor usaha yang mampu memberikan kesejahteraan jika dikelola dengan pengetahuan dan inovasi.

Latar belakangnya sebagai jurnalis justru menjadi modal penting. Dia terbiasa melihat persoalan dari dekat, mendengar suara masyarakat, lalu mencari solusi.

Kini, solusi itu tidak lagi hanya dituangkan dalam tulisan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata di atas lahan pertanian.

Baca Juga: Daftar Lengkap Harga MacBook Terbaru di Indonesia Setelah Resmi Naik, Mulai MacBook Neo hingga MacBook Pro M5 Pro Alami Lonjakan Besar

Perjalanan Sugik menjadi petani tembakau merupakan bukti bahwa kepedulian terhadap daerah tidak selalu diwujudkan melalui pidato atau kebijakan.

Terkadang, perubahan dimulai dari keberanian seseorang untuk turun langsung ke lapangan dan memberikan teladan.

Bagi Mohammad Sugianto, tembakau bukan sekadar tanaman bernilai ekonomi.

Tembakau adalah harapan baru agar petani Bangkalan mampu menikmati kesejahteraan sebagaimana yang telah dirasakan petani di Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Dari ruang redaksi menuju hamparan ladang, Sugik membuktikan bahwa seorang jurnalis tidak hanya mampu menulis tentang perubahan, tetapi juga menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. (*/han)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Mohammad Sugianto #petani Bangkalan #tembakau #jurnalis #perubahan