BANGKALAN, RadarMadura.id - Penyebab kematian Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Bangkalan Ruly Yunis Setiawati (RYS), belum jelas.
Berdasarkan pemeriksaan awal yang dilakukan rumah sakit Bhayangkara Porong menyatakan bahwa RYS terindikasi mati tidak wajar.
Pihak keluarga menduga ada indikasi pembunuhan yang menyebabkan korban meninggal dunia.
Hal itu dilihat dari bekas kekerasan pada bagian cuping telinga korban sobek. Hasil pemeriksaan menyebutkan ada bekas benda tumpul.
”Ada bekas benda tumpul yang menyebabkan cuping telinga korban sobek,” ujar kuasa hukum korban, Risang Bima Wijaya.
Tidak hanya itu, ditemukan pembengkakan pada pembuluh darah, bibir atas dan bawah, serta tanda kehitaman di lidah yang lazim ditemukan pada asfiksia atau kekurangan oksigen yang masuk ke tubuh korban dari saluran pernafasan yang diakibatkan tersentak atau tercekik.
”Dari hasil pemeriksaan itu tidak ada pembengkakan pada tenggorokan. Hanya ada pembengkakan pada bibir atas dan bawah yang diindikan korban ini dibekap,” ungkapnya.
Risang menyatakan, keluarga korban menduga korban dibekap sehingga tidak ada oksigen yang masuk ke saluran pernafasan. Sebab lain, asfiksia bisa disebabkan racun sianida.
Pihak kepolisian sudah mengirimkan sampel swab ke laboratorium forensik untuk diuji toksikologi untuk mengetahui apakah ada kandungan racun di dalam tubuh korban.
”Kita tunggu hasil pemeriksaan labfor. Tapi dari hasil pemeriksaan sementara, keluarga menyimpulkan ada indikasi pembunuhan,” paparnya.
Untuk mengetahui motif dan penyebabnya, lanjut Risang, harus ada pelaku yang ditangkap. Dari rekaman CCTV dikantongi ada orang yang tampak membawa mobil korban di dalam bandara Juanda.
Risang meyakini korban tidak ada acara ke bandara dan saat masuk sudah dalam keadaan meninggal dunia.
”Korban ini sudah meninggal dunia saat dibawa ke bandara. Jadi pelaku sengaja membuangnya,” sambungnya.
Dia menambahkan, korban meninggalkan rumah sejak Kamis (18/6) pagi. Pada Kamis malam masih komunikasi dengan anaknya dan mengirimkan lokasi keberadaan korban saat di Pujon, Malang.
Pada Jumat malam korban sempat video call dengan adiknya dan posisinya masih di Malang.
”Keluarga tidak ada kecurigaan karena memang korban sering ke Malang, ke rumah kerabatnya,” tandasnya. (za/bil)
Editor : Amin Basiri