BANGKALAN, RadarMadura.id – Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Kamal, Bangkalan, pada Jumat malam (22/5) kembali memicu banjir di kawasan Universitas Trunodjoyo Madura (UTM).
Drainase yang sempit dan buruknya sistem saluran air dituding menjadi penyebab utama genangan yang merendam jalan raya hingga rumah kos mahasiswa.
Genangan air terlihat memenuhi akses jalan menuju kampus UTM di Desa Telang. Ketinggian air diperkirakan mencapai 40–60 sentimeter.
Baca Juga: Ban Pecah, Xenia Pengangkut Rokok Ilegal Kecelakaan
Akibatnya, arus lalu lintas tersendat dan aktivitas warga terganggu.
Tidak hanya menggenangi jalan raya, air juga masuk ke sejumlah indekos mahasiswa di sekitar kampus.
Kondisi seperti itu disebut menjadi persoalan tahunan setiap musim hujan tiba.
Presiden Mahasiswa UTM Mahrus Ali menyampaikan, banjir di kawasan Desa Telang merupakan persoalan klasik yang hingga kini belum terselesaikan.
Menurut dia, buruknya sistem drainase menjadi penyebab utama banjir terus berulang.
”Ini persoalan klasik yang terjadi setiap musim hujan karena drainase yang tidak memadai,” ujarnya.
Dia menilai, minimnya perhatian pemerintah membuat persoalan banjir di kawasan kampus terus terjadi.
Padahal, setiap tahun kawasan sekitar UTM semakin padat bangunan dan permukiman.
”Ini harus menjadi perhatian pemerintah. Tidak boleh dibiarkan begitu saja,” katanya.
Menurut dia, drainase yang sempit membuat aliran air tersendat hingga meluap ke jalan raya dan permukiman warga.
Baca Juga: TPID Sumenep Ancam Pedagang Nakal, Jual MinyaKita di Atas HET Dikenakan Sanksi
Bahkan, banjir kali ini disebut lebih parah karena sudah masuk ke kawasan indekos mahasiswa.
”Setiap hujan deras akses lalu lintas terganggu dan kali ini banjir sudah masuk ke permukiman warga,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan Moh. Zainul Qomar menjelaskan, hujan deras berdurasi singkat yang terjadi akhir-akhir ini merupakan dampak masa peralihan musim atau pancaroba.
Menurut dia, cuaca pada fase pergantian musim memang cenderung tidak stabil dan dapat memicu hujan deras secara tiba-tiba.
”Fase ini, cuaca memang tidak stabil. Hujan deras bisa terjadi secara tiba-tiba,” jelasnya.
Dia menerangkan, hujan pada masa pancaroba umumnya berlangsung singkat, sekitar 15–60 menit, serta disertai angin kencang dan petir.
Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi bencana seperti banjir maupun pohon tumbang.
”Masyarakat harus tetap waspada karena peralihan musim ini masih berpotensi menimbulkan bencana alam,” tandasnya. (za/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti