BANGKALAN, RadarMadura.id– Pertumbuhan sektor perikanan di Kabupaten Bangkalan masih menunjukkan tren negatif. Hingga saat ini, angkanya masih berada di bawah satu persen.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan berupaya memperbaiki capaian sektor tersebut agar sesuai target.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Bangkalan Henry Kusuma Kryadinata mengatakan, pertumbuhan sektor perikanan saat ini masih minus satu persen.
Karena itu, pihaknya terus berupaya meningkatkan kualitas sektor tersebut.
Menurut dia, kemajuan sektor pertanian di Bangkalan sangat bergantung pada pertumbuhan sektor perikanan.
"Faktanya, sektor pertanian secara umum sudah tumbuh lima persen, meliputi tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Setelah kami telaah, persoalannya ada di sektor perikanan karena pertumbuhannya masih minus satu persen," ujarnya kemarin (7/5).
Dia menjelaskan, kondisi tersebut menjadi perhatian serius. Sebab, kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bangkalan mencapai 21 persen.
Sementara itu, sektor perikanan menjadi salah satu subsektor terbesar penopangnya.
Karena itu, pihaknya menargetkan pertumbuhan sektor perikanan bisa membaik pada tahun ini.
"Kalau ingin memajukan sektor pertanian, maka pertumbuhan sektor perikanan juga harus meningkat. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kami," terangnya.
Pada 2026, DPPKP Bangkalan menargetkan pertumbuhan sektor perikanan berada di kisaran tiga hingga empat persen.
Menurut dia, meski pertumbuhan sektor pertanian secara umum telah mencapai delapan persen, capaian tersebut belum optimal jika subsektor perikanan masih mengalami pertumbuhan negatif.
“Target kami jelas, jangan sampai minus. Syukur-syukur bisa mencapai tiga sampai empat persen. Yang penting tahun ini pertumbuhannya positif. Karena itu, kami harus memperbaiki tata kelola nelayan dan mendorong Bangkalan mandiri lele. Sebab, sektor perikanan bertumpu pada dua hal, yakni perikanan tangkap dan budi daya," paparnya.
Terkait anggaran, hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat.
Meski demikian, tidak seluruh program membutuhkan anggaran besar karena masih ada pendampingan dan pelatihan yang bisa dilakukan secara mandiri.
"Selama ini memang belum ada anggaran. Kami juga sudah audiensi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Kami diminta memperbaiki master plan serta menyiapkan sejumlah data pendukung. Tidak semua sektor bisa langsung teranggarkan,” katanya.
Dia menambahkan, pihaknya siap membantu masyarakat yang ingin membudidayakan lele maupun nila melalui penyediaan bibit. Kebutuhan lele di Bangkalan mencapai 10 ton per hari.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dibutuhkan sekitar 48 juta bibit per tahun atau sekitar empat juta bibit per bulan.
"Kami siap mendampingi masyarakat yang ingin membudidayakan lele. Bangkalan harus mandiri lele,"tandasnya. (c1/han)
Editor : Amin Basiri