BANGKALAN, RadarMadura.id – Tak banyak yang tahu, dari sudut Kabupaten Bangkalan lahir karya seni musik bernilai tinggi yang mampu menembus pasar internasional. Adalah Juang Flute, industri rumahan yang sejak 2018 konsisten memproduksi seruling dengan desain tak biasa dan penuh karakter.
Bentuknya yang unik menjadi daya tarik utama. Setiap seruling dibuat dengan sentuhan artistik berbeda, menjadikannya tidak sekadar alat musik, tetapi juga karya seni bernilai tinggi.
Pada Jumat (24/4), Juang Flute menggelar pameran sekaligus diskusi santai bersama Samuel Pollack, turis asal Amerika Serikat yang menjadi salah satu pelanggan setia produk tersebut.
Elok Teja Suminar, founder Juang Flute, menjelaskan usaha yang dirintis suaminya, Robi Akbar, masih belum tersentuh dukungan pemerintah. Bahkan, kegiatan pameran digelar secara mandiri dengan biaya pribadi. "Tujuan kami sederhana, agar masyarakat tahu bahwa seruling buatan Bangkalan ini sudah menembus pasar internasional," ujarnya.
Menurut Elok, Juang Flute digagas oleh Robi Akbar sebagai flute maker dengan konsep berbeda. Produk yang dihasilkan tidak menyerupai seruling pada umumnya, melainkan memiliki bentuk dan skala beragam.
"Keunikan bentuk ini yang menjadi daya tarik, karena tidak semua pembuat seruling mampu membuat model dengan variasi seperti ini," jelasnya.
Jenis seruling yang diproduksi pun beragam, mulai dari Moldavian Kafal, Anasazi, Ocarina, Native American flute, hingga drone flute dan triple flute. Seluruhnya dibuat secara mandiri dengan ciri khas tersendiri.
Meski demikian, perjalanan usaha tidak selalu mulus. Pada 2021, Juang Flute sempat membuka peluang kerja bagi anak muda. Namun, sebagian justru meniru ide dan konsep produk untuk dijual sendiri. "Kami pernah membina lalu ditiru. Ide kami diambil tanpa izin," ungkapnya.
Nilai jual seruling Juang Flute tergolong fantastis. Untuk kategori terbaik, satu seruling bisa dibanderol hingga Rp 10 juta. Sementara produk standar dijual mulai Rp 1 juta.
Harga tersebut sebanding dengan proses produksi yang tidak sederhana. Setiap seruling dibuat secara handmade dengan tingkat kesulitan berbeda. Waktu pengerjaan pun bervariasi, mulai dua hari hingga satu bulan. "Karena setiap bentuk berbeda, waktu pengerjaannya juga tidak sama," terang Elok.
Bahan baku yang digunakan umumnya kayu pilihan seperti jati. Namun, pelanggan juga kerap meminta bahan lain seperti akasia atau mahoni.
Produk Juang Flute kini telah menembus pasar luar negeri. Bahkan, mereka memiliki reseller di sejumlah negara seperti Jerman, Spanyol, dan Swiss. "Harga untuk pasar internasional tentu berbeda, termasuk untuk reseller kami di luar negeri,” pungkasnya. (za/han)
Editor : Amin Basiri