BANGKALAN, RadarMadura.id – Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) kembali mengukuhkan empat guru besar (gubes) dalam rapat senat terbuka di Gedung Pertemuan RP Moch. Noer Rabu (22/4).
Mereka adalah Prof. Dr. Eny Suastuti, S.H., M.Hum; Prof. Insafitri, S.T., M.Sc. Ph.D; Prof. Dr. Elys Fauziyah, S.P., M.P; dan Prof. Dr. Ir. Mohamad Imron Mustajib, S.T., M.T.
Prof. Dr. Eny Suastuti dikukuhkan sebagai gubes dalam kepakaran hukum pidana dan korupsi. Prof. Insafitri dikukuhkan sebagai gubes dengan kepakaran biologi laut.
Sedangkan Prof. Dr. Elys Fauziyah dikukuhkan sebagai gubes dalam kepakaran ekonomi produksi pertanian, dan Prof. Dr. Ir. Mohammad Imron Mustajib dikukuhkan sebagai profesor kepakaran rekayasa sistem manufaktur.
Dalam pidatonya, Prof. Dr. Eny Suastuti menyinggung soal tindak pidana korupsi (tipikor) dan perizinan pertambangan. Pengaturannya mengacu pada Undang-Undang 31/1999 sebagaimana telah diubah berdasarkan UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tipikor.
Sementara keleluasaan dalam pemberian penerbitan izin pertambangan sebagaimana tercantum dalam Pasal 35 UU Pertambangan tanpa didasari pengawasan dan kontrol yang baik. Sehingga, berpotensi terjadi penyalahgunaan wewenang dan korupsi.
Sedangkan Prof. Dr. Elys Fauziyah menyebutkan, struktur komoditas pertanian di Madura didominasi tanaman pangan lahan kering. Khususnya jagung yang memiliki luas tanam mencapai 300 ribu hektare yang tersebar di empat kabupaten di Madura.
Komoditas itu menjadi tulang punggung produksi pangan sekaligus sumber utama pendapatan petani.
Salah satu aspek utama yang menjadi fokus penelitiannya adalah produktivitas usaha tani pada lahan kering.
Salah satu permasalahan utama pertanian di Madura adalah rendahnya produktivitas berbagai komoditas.
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data lapangan, produktivitas komoditas pertanian di Madura masih berada di bawah rata-rata produktivitas komoditas dari wilayah lain di Jawa Timur.
Baca Juga: Peringati Hari Bumi, BRI Tanam 500 Mangrove di Muara Gembong Bekasi
Kemudian Prof. Insafitri memaparkan hasil penelitiannya berkenaan level mikroskopis sekecil debu seperti ostracoda adalah biota yang lemah, tak berdaya, dan terancam punah.
Itu menunjukkan bahwa harmoni bukan konsep abstrak. Tetapi, hadir dalam bentuk anatomi mulut yang presisi.
Fungsi dari mulut itu untuk isap untuk menempel di alga yang hidup di perairan berarus deras.
Namun, memiliki mempunyai strategi reproduksi yang adaptif dengan dua organ reproduksi untuk jantan.
Padahal biota lainnya hanya memiliki satu dan memproduksi sperma terpanjang di lautan, sehingga memiliki lebih besar peluang meneruskan keturunannya.
Sementara Prof. Dr. Ir. Mohammad Imron Mustajib dalam orasi ilmiahnya menjelaskan tentang galangan kapal.
Itu yang merupakan manufaktur bergerak di sektor perkapalan yang dapat dikategorikan sebagai sistem manufaktur build-to-order (BTO).
Karakteristik BTO ditandai dengan proses manufaktur pada sistem manufaktur kapal yang cenderung lambat untuk menghasilkan output produk bervolume rendah.
Respons manufaktur terhadap order dari konsumen/owner dilakukan dengan menggunakan tata letak mesin produksi berbasis job shop.
Manufaktur dapat dilihat sebagai proses transformasi atau sebagai suatu sistem. Sebagai proses transformasi, memberikan definisi yang sempit bahwa manufaktur adalah proses transformasi di mana bahan mentah diubah menjadi produk.
Rektor UTM Prof. Dr. Safi’ mengaku bangga dan bahagia, sebab di momen Hari Kartini kampus dipimpin kembali mengukuhkan empat gubes.
Apalagi tiga di antaranya perempuan. Dia berharap gelar tertinggi sebagai dosen itu harus memberikan tanggung jawab yang lebih besar.
”Harus berkorelasi positif dengan peningkatan kebermanfaatkan para gubes yang sudah dikukuhkan, termasuk kinerjanya harus lebih baik,” ujarnya.
UTM kini sudah memiliki 35 gubes. Peningkatan gelar akademik diharapkan terus berkorelasi positif.
Termasuk kegiatan riset harus berdampak kepada masyarakat, sebagaimana tagline Kampus Berdampak. ”Gelar akademik tertinggi ini harus berdampak kepada masyarakat,” imbuhnya.
Sejak 2013, UTM fokus pada pengembangan potensi Madura. Harapannya, hasil riset dosen berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat madura.
Namun kadang hasil riset itu belum disambut baik oleh pemerintah daerah. ”Hasil riset itu semestinya digunakan oleh pemerintah,” tutupnya. (za/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti