BANGKALAN, RadarMadura.id – Bupati Bangkalan Lukman Hakim menjadi pemateri dalam kuliah umum yang digelar di Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, Rabu (11/3).
Forum akademik tersebut mengusung tema, Strategi Peningkatan Sektor Kelautan, Perikanan, Pertanian, serta Peternakan.
Bupati Lukman menyatakan, Bangkalan memiliki letak geografis paling strategis dibandingkan tiga kabupaten lain di Madura.
Sebab, posisinya paling dekat dengan Kota Metropolitan seperti Surabaya, yang merupakan kutub pertumbuhan ekonomi di Jatim.
”Maka seharusnya Bangkalan bisa menjadi penopang perekonomian Surabaya. Sehingga, bisa mengejar ketertinggalannya dari segala aspek,” imbuhnya.
Namun nyatanya, pertumbuhan ekonomi Bangkalan cenderung lambat. Pada 2024, laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bangkalan hanya 1,94 persen.
Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan angka pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang mencapai 4,93 persen.
Dampak langsung dari lesunya perekonomian sektor pertanian menyebabkan petani enggan bekerja. Sebab, biaya produksi yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pendapatan.
”Sementara harga komoditas yang jatuh pada saat panen raya menjadi penyebab utama,” sambungnya.
Dampak lainnya yang ditimbulkan adalah, banyak lahan pertanian banyak yang telantar. Laju alih fungsi lahan pertanian juga semakin tinggi. Bahkan, mencapai 302 hektare dalam beberapa tahun terakhir.
”Lahan pertanian yang seharusnya menjadi aset pembangunan dibiarkan menganggur. Bahkan, karena dianggap kurang bernilai, banyak yang dialihfungsikan menjadi lahan perumahan, pertokoan, dan lainnya,” katanya.
Namun, keterpurukan di sektor pertanian harus dihentikan. Pihaknya menargetkan sektor pertanian bisa delapan persen.
Sehingga, bisa menjadi lapangan pekerjaan yang menyejahterakan semakin nyata didapatkan hingga ke pelosok desa.
Sementara peternakan menjadi subsektor unggulan yang selama ini menopang sektor pertanian. Jumlah sapi Madura sebanyak 280 ribu ekor.
Angka tersebut setara dengan sembilan persen populasi sapi di Jatim. Sementara komoditas peternakan yang menjadi primadona adalah bebek.
Kebutuhan bebek di Bangkalan sangat besar. Diperkirakan dalam satu hari, jumlah bebek yang dipotong sebanyak 7.000 ekor atau 2,5 juta ekor dalam satu tahun.
Peluang ini belum termanfaatkan dengan baik karena sebagian besar kebutuhan bebek masih didatangkan dari luar Bangkalan.
”Belum lagi kebutuhan ayam petelur, di Bangkalan masih cukup ketinggalan dibandingkan dengan daerah lain. Ke depan, bebek dan ayam petelur harus bisa berkembang untuk mendukung pertumbuhan sektor pertanian delapan persen,” katanya.
Pekerjaan rumah selanjutnya yang harus diselesaikan ke depannya adalah perikanan dan kelautan. Pada 2024, pertumbuhan ekonomi dari sektor perikanan dan kelautan minus 33,61%.
Masalah utamanya terletak di overfishing dan perikanan budi daya yang belum berkembang, sehingga menyebabkan jumlah tangkapan nelayan berkurang drastis.
”Ini diperparah dengan penggunaan alat tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan (mini trawl) oleh nelayan sekitar Bangkalan, bahkan sering terjadi konflik antarnelayan,” katanya.
Namun yang pasti, di tahun pertama kepemimpinannya, berbagai upaya yang dilakukan mulai terlihat. Luas panen selama 2025 mencapai 65.858 hektare, dan beras yang dihasilkan sebanyak 205 ribu ton.
Sedangkan konsumsi masyarakat Bangkalan sebanyak 96 ribu ton. ”Sehingga surplus beras Bangkalan sebanyak 108 ribu ton atau setara 13 bulan. (jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti