BANGKALAN, RadarMadura.id – Proses identifikasi korban tragedi runtuhnya musala Ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, belum rampung. Dari 67 kantong jenazah yang diterima, Tim DVI Polda Jatim telah berhasil mengidentifikasi 48 korban. Artinya, masih ada 19 kantong jenazah yang masih dalam proses pendalaman data antemortem (AM) dan postmortem (PM).
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan M. Zainul Qomar menyebut, hingga saat ini jumlah korban meninggal dunia asal Bangkalan dalam tragedi tersebut sebanyak dua belas orang. Satu di antaranya baru teridentifikasi Kamis (9/10) dan langsung dimakamkan.
”Namanya Abdullah As Syadid, 16, alamat Kampung Nangger, Desa Alas Kokon, Kecamatan Modung,” kata Kalaksa BPBD Bangkalan M. Zainul Qomar Jumat (10/10).
Sementara itu, masih terdapat dua santri dari Bangkalan yang belum teridentifikasi. Mereka adalah Raihan Rafa Aldiansyah, alamat Desa Banyoning Laok, Kecamatan Geger, dan Moh. Alfin Mutawakkil Alallah, asal Desa Lomaer, Kecamatan Blega. Kedua korban statusnya masih dalam proses identifikasi dari 19 kantong jenazah tersebut.
”Yang Banyoning Laok itu keponakannya Pak Bupati (Bupati Bangkalan Lukman Hakim, Red),” tegasnya.
Menurut Qomar, ada kemungkinan data santri yang belum teridentifikasi dan ber-KTP Bangkalan pada tragedi nahas itu bisa lebih dari dua orang. Mengingat, tidak semua keluarga atau camat melapor kepada BPBD.
”Data yang kami sampaikan itu berdasar laporan dari camat,” tegsnya.
Pria berbadan tegap itu mengaku, hingga saat ini pihaknya terus berkoordinasi dengan Tim DVI Polda Jatim. Mengingat proses identifikasi dilakukan setiap hari secara berkala. Apabila terdapat korban yang teridentifikasi dari Bangkalan, pihaknya langsung melakukan pengawalan untuk proses pengantaran dan pemakaman.
”Untuk sementara itu yang bisa kami sampaikan. Kami tidak bisa menyampaikan data di luar laporan yang kami terima,” pungkasnya. (lil/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti