BANGKALAN, RadarMadura.id – Menu makan bergizi gratis (MBG) yang disalurkan kepada pelajar di SMAN 3 Bangkalan pada Selasa (16/9) diduga basi. Untungnya, pelajar belum mengonsumsi makanan tersebut. Sebab, pihak sekolah melakukan pengecekan sebelum makanan tersebut didistribusikan kepada anak didik.
Hal itu dibenarkan oleh Kepala SMAN 3 Bangkalan Hendrik Dewantara. Dia mengatakan, menu MGB yang diterima sekolah pada Selasa (16/9) tidak dikonsumsi murid karena lembaganya disiplin menerapkan standar operasional prosedur (SOP).
”SOP yang kami terapkan, mengecek terlebih dulu sebelum MBG diserahkan kepada murid,” katanya.
Menurut dia, setelah dicek, menu MBG yang diterima lembaganya pada hari tersebut tidak seperti biasanya. Sebab, tercium aroma tidak sedap. Dia lalu memanggil sejumlah murid untuk mengamati dan mencium aroma menu MBG yang disalurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Sehat Luhur Mandiri Martajasah. ”Setelah kami cium, diduga basi,” ujarnya.
Hendrik Dewantara lalu menghubungi supervisor SPPG penyedia MBG untuk mengecek secara langsung.
”Setelah dilakukan pemeriksaan, penyalur langsung menarik kembali 552 porsi menu MBG tersebut lantaran terindikasi basi,” paparnya.
Dijelaskan, menu MBG yang diterima pada hari tersebut berupa nasi putih, tempe goreng, bistik daging, cah pakcoy dan sawi putih, serta melon. ”Aroma tidak sedap itu berasal dari olahan daging. Kalau untuk nasi dan sayuran aman,” imbuhnya.
Sementara itu, Kusuma Gigih Prakoso selaku kepala SPPG Yayasan Sehat Luhur Mandiri Martajasah mengaku menerima keluhan dari SMAN 3 Bangkalan. Setelah menerima laporan, dirinya langsung melakukan pengecekan. Setelah dicek, ternyata saos tiram pada olahan daging terasa sedikit asam sehingga terasa seperti basi.
Dia memastikan yang diduga basi itu bukan daging. Tapi, berasal dari saos tiram. ”Saat itu juga semua menu MBG yang disalurkan kepada semua sekolah penerima manfaat langsung ditarik. Tapi, kami memastikan, sebelum disalurkan, menu MBG tersebut sudah layak dikonsumsi. Sebab, sudah dicoba oleh ahli gizi kami,” ucapnya.
Kejadian tersebut akan menjadi pelajaran bagi SPPG dan ahli gizi untuk terus meningkatkan pelayanan, kontrol, serta pengawasan. Kualitas bahan baku ditegaskan akan selalu dicek. Bahkan, proses pengolahan hingga pangemasan juga akan terus dipantau.
”Kejadian ini akan menjadi pelajaran berharga bagi kami untuk terus memperketat pengawasan,” janjinya.
Merespons peristiwa tersebut, pihaknya menyampaikan permohonan maaf kepada sekolah penerima manfaat program MBG Yayasan Sehat Luhur Mandiri. Dia berjanji akan meningkatkan kualitas layanan agar tidak terjadi insiden serupa.
”Kami akan terus berbenah agar bisa menyajikan makanan berkualitas bagi penerima manfaat,” tegasnya. (za/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti