BANGKALAN, RadarMadura.id – Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Bangkalan terbilang tinggi. Buktinya, sepanjang 2025 hingga Juli tercatat ada 29 kasus AKI dan AKB.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Aris Budiarto mengatakan, AKI dan AKB di Kota Salak jumlahnya fluktuatif (lihat grafis).
Pihaknya terus berupaya memberikan edukasi hidup sehat untuk menekan angka kematian pada ibu hamil dan anak.
”Kasus AKI ada empat dan AKB 25 bayi. Semoga angka kematiannya dari tahun ke tahun bisa ditekan,” ujarnya.
Menurut dia, ada sejumlah faktor yang menyebabkan AKI dan AKB tinggi. Ibu meninggal bisa karena perdarahan, preeklampsia atau eklampsia, dan infeksi. Terkadang, bisa dipengaruhi penyakit bawaan.
Kasus bayi meninggal bisa terjadi karena factor langsung dan tidak langsung. Faktor langsung meliputi berat badan lahir rendah (BBLR), asfiksia, infeksi, dan kelainan kongenital.
Faktor tidak langsung bisa terjadi karena faktor ibu, pelayanan kesehatan, dan lingkungan.
”Di bangkalan kasus ibu meninggal karena eklamsia atau preklamsia dan pendarahan. Kalau kasus bayi meninggal karena BBLR dan asfiksia dan lain-lainnya,” terang Aris.
Berbagai langkah dilakukan untuk menekan AKI dan AKB. Diantaranya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) bidan dan dokter dalam pelayanan antenatal care (ANC), persalinan, nifas dan bayi baru lahir.
Disamping itu, Dinkes Bangkalan melengkapi sarana dan prasarana (sarpras) di 22 puskesmas yang tersebar di 18 kecamatan di Bangkalan.
Termasuk merealisasikan lokakarya mini lintas sektoral (linsek), lintas program serta melibatkan kader, tokoh agama (koga) dan lain sebagainya.
”Pemantauan dan pengawalan capaian program tiap bulan di puskesmas,” ujarnya.
Aris menegaskan, kasus bayi dan ibu meninggal bergantung pada kesehatan ibu selama mengandung.
Dia menyarankan, ibu hamil rutin melakukan pemeriksaan atau kunjungan (ANC) selama enam kali. Tujuannya mencegah terjadinya kematian pada ibu atau bayi.
”Kami sarankan periksa dua kali ke dokter dan empat kali ke bidan, sehingga bisa dideteksi dini apa gejala dan pengobatanya,” sarannya. (lil/bil)
Editor : Amin Basiri