Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Ngemis, Tradisi Lisan yang Menguak Nilai Sosial dan Filosofis

Hera Marylia Damayanti • Senin, 7 Juli 2025 | 16:32 WIB
BEDAH RISET: Dari kiri, Pemateri Hidrochin Sabarudin, Ahmad Faishal, Lukman Hakim, Ina Herdiyana, dan Muhlis Al-Firmany dalam FGD Ngemis; Tradisi Lisan Madura di Dhin Aju Barung Suramadu.
BEDAH RISET: Dari kiri, Pemateri Hidrochin Sabarudin, Ahmad Faishal, Lukman Hakim, Ina Herdiyana, dan Muhlis Al-Firmany dalam FGD Ngemis; Tradisi Lisan Madura di Dhin Aju Barung Suramadu.

BANGKALAN, RadarMadura.id – Forum group discussion (FGD) bertema ”Ngemis: Tradisi Lisan Madura” yang digelar di Resto Dhin Aju Barung Suramadu, Kecamatan Tragah, Bangkalan, kemarin berjalan lancar. Acara itu dihadiri seniman, budayawan, praktisi budaya, hingga tokoh masyarakat.

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Muhlis Al-Firmany yang merupakan periset Ngemis, Tradisi Lisan Madura. Sejumlah narasumber kompeten turut memberi warna dalam forum tersebut.

Di antaranya budayawan Bangkalan Hidrochin Sabarudin, dosen STKW dan Ciputra Surabaya Ahmad Faishal, Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Lukman Hakim, dan Ina Herdiyana yang bertindak sebagai pemandu jalannya diskusi.

Acara diawali dengan pemaparan hasil riset bertahap mengenai tradisi lisan ngemis, yang berakar dari sejarah panjang islamisasi Madura. Tradisi ini berkembang di wilayah pesisir selatan, khususnya di kawasan Kwanyar, Bangkalan.

Secara turun-temurun, masyarakat melestarikan tradisi ngemis dengan cara berkeliling dari satu langgar ke langgar lainnya. Saat ngemis mereka sambil melantunkan syiir-syiir bernuansa spiritual yang diiringi musik tradisional.

Dalam konteks kebudayaan Madura, kata ngemis memang berarti ”meminta”. Namun, makna yang dikandung jauh lebih dalam, bukan sekadar meminta materi, melainkan ampunan, berkah, dan petunjuk dari Allah SWT.

Budayawan Hidrochin Sabarudin menjelaskan, ngemis atau emmes menyimpan nilai filosofis dan spiritual yang tinggi. Tidak hanya menjadi tradisi lisan yang religius, tetapi juga mencerminkan semangat gotong royong dan saling mendoakan antarwarga.

”Tradisi ini tergolong pekerjaan yang halal dan bermartabat,” tegasnya.

Sementara itu, Muhlis Al-Firmany meneliti ngemis dari sisi teks syiir yang dilantunkan. Berbeda dengan Ahmad Faishal yang melihatnya dari sudut pandang dramaturgi.

Dosen STKW Surabaya itu menilai bahwa ngemis layak dikaji secara pertunjukan. ”Sebab, unsur naskah dan performatifnya sangat kental,” paparnya.

Pemred JPRM Lukman Hakim membahas bagaimana masyarakat desa menerima dan memaknai pesan moral dalam tradisi lisan. Dia mengenang masa kecilnya saat ungkapan dan pantun berbahasa Madura menjadi bagian dari permainan anak-anak.

Namun, kini ekspresi tradisi tersebut mulai memudar di tengah generasi muda. Lukman menilai, pelestarian tradisi lisan harus dimulai dengan memahami makna yang dikandung.

Dia mencatat adanya dua sisi: kemajuan dan kemunduran. Di satu sisi, banyak toponimi di Madura tetap memakai bahasa lokal. Namun, di sisi lain, penulisan dan pengucapan masih membutuhkan pembenahan bersama.

Menanggapi hasil riset ini, Kabid Kebudayaan Disbudpar Bangkalan Hendra Gemma Dominant menegaskan pentingnya dukungan kolektif dalam pelestarian ngemis. Dia mengusulkan agar tradisi lisan tersebut dikenalkan sejak dini melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

”Dengan begitu, nilai-nilai luhur dalam tradisi ini dapat diwariskan kepada generasi muda,” pungkasnya. (yan)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#ngemis #spiritual #diskusi #Tradisi Lisan Madura #Nilai filosofis #pelestarian #Forum #tradisi