BANGKALAN, RadarMadura.id – Syaikhona Muhmmad Kholil tidak hanya dikenal sebagai gurunya para ulama. Namun, juga sosok yang produktif karena melahirkan banyak karya.
Salah satunya, kitab Ta’lim As Shibyan yang akan diluncurkan dalam acara haul akbar satu abad Syaikhona Muhammad Kholil pada Jumat (11/4).
Suasana halaman Masjid Syaikhona Muhammad Kholil di Desa Martajasah, Kecamatan Kota Bangkalan, Rabu (9/1) berbeda dari biasanya. Dua tenda berukuran jumbo berdiri di sisi utara dan timur masjid.
Dua tenda tersebut dipersiapkan untuk penyelenggaraan haul akbar satu abad Syaikhona Muhammad Kholil yang dijadwalkan Jumat (11/4). Saat ini ratusan peziarah dari berbagai daerah terlihat memadati kawasan wisata religi itu.
Jawa Pos Radar Madura (JPRM) bertemu dua sosok yang berperan serta dalam penyelenggaraan haul akbar satu abad Syaikhona Kholil. Yaitu, Asrhorulloh Farouk dan Utsman Hasan Al Akhyari.
Tidak lama setelah berjabat tangan, keduanya mengajak ke rumah yang letaknya di sisi selatan masjid untuk berbincang banyak berkaitan dengan acara haul akbar. Khususnya, tentang launching kitab Ta’lim As Shibyan.
Kitab yang terdiri atas 52 halaman itu merupakan karya Syaikhona Muhammad Kholil. Judul aslinya Ta’limusshibyan Fi Arkanil Islam wal Iman (Mengajar anak-anak di dalam rukun Islam dan iman).
Kitab tersebut menjadi literatur dalam mendidik generasi penerus. Tidak heran, tangan dingin Syaikhona Muhammad Kholil mampu melahirkan tokoh dan ulama tersohor. Di antaranya, KH Muhammad Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah.
Utsman Hasan Al Akhyari menyatakan, kitab Ta’lim As Shibyan diperkirakan dikarang saat Syaikhona Muhammad Kholil berusia 68 tahun.
Itu mengindikasikan bahwa Syaikhona Muhammad Kholil memiliki kepedulian terhadap anak-anak sebagai generasi penerus masa depan.
”Jika anak tidak mendapat pengajaran atau edukasi yang tepat, maka masa depan bangsa akan celaka,” ujar panitia haul tersebut.
Naskah kitab Ta’lim As Shibyan didapatkan tim Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil sebelum Ramadan.
Pemilik naskahnya yaitu keluarga besar Siti Aminah yang merupakan istri Syaikhona Muhammad Kholil di Desa Tlaga Biru, Kecamatan Tanjungbumi.
Banyak kitab maupun manuskrip Syaikhona Muhammad Kholil yang dirahasiakan pemilknya. Sebab, khawatir tidak dikembalikan setelah dipinjam.
Namun, setelah dilakukan pendekatan, banyak pihak yang mengakui dan terbuka memiliki manuskrip Syaikhona Muhammad Kholil.
Kini sudah ada sekitar 35 kitab karya Syaikhona Muhammad Kholil yang berhasil dikumpulkan tim lajnah.
”Pada dasarnya, warisan yang berupa literasi dan keilmuan harus disebarluskan. Sedangkan fisik dari kitabnya tetap milik pewaris. Sebab, kitab itu dibuat bukan hanya untuk dzurriyyah Syaikhona Kholil saja,” ujar pria yang juga ketua Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil itu.
Kondisi fisik kitab Ta’lim As Shibyan yang didapatkan tim Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil dalam keadaan baik sehingga langsung di-scan, disunting, dan disalin ulang untuk dilakukan penyesuaian kata.
Sebab, ada beberapa kosakata yang sudah mengalami pergeseran. ”Misalnya, kata sittor yang artinya sittung (satu),” katanya.
Utsman menerangkan, kitab yang akan di-launching membahas tentang pola pendidikan anak. Khususnya berkaitan dengan rukun iman dan Islam. Seperti pengertian kalimat syahadat, salat, bersuci, dan lain-lain.
Hal itu bisa dengan mudah dipelajari anak-anak yang baru belajar agama Islam. Kitab tersebut akan menjadi kado indah dari Syaikhona Muhammad Kholil setelah wafat seabad. Khususnya bagi masyarakat Madura dan rakyat Indonesia pada umumnya. Kitab tersebut ditulis dengan bahasa Madura.
”Harapannya, kitab Ta’lim As Shibyan bisa dijadikan bahan pelajaran di kampung-kampung, madrasah, dan pondok pesantren,” tandasnya. (*/jup/yan)
Editor : Ina Herdiyana