Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pesantren Itu Keren, Santri Siap Hadapi Tantangan Zaman

Ina Herdiyana • Jumat, 4 April 2025 | 02:41 WIB

 

 

 

Ketua PCNU Bangkalan KH Muhammad Makki Nasir. (IMAMUDIN/JPRM)
Ketua PCNU Bangkalan KH Muhammad Makki Nasir. (IMAMUDIN/JPRM)

TIDAK berlebihan jika Madura disebut sebagai Pulau Santri. Di pulau ini berdiri ribuan pondok pesantren. Peran lembaga pendidikan itu tidak bisa dipandang sebelah mata dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) berilmu dan berakhlakul karimah.

Merujuk pada data Kementerian Agama (Kemenag), jumlah pondok pesantren di Madura mencapai 1.419 lembaga. Ribuan pesantren itu tersebar di empat kabupaten. Perinciannya, 223 pesantren di Bangkalan, 427 pesantren di Sampang, 426 pesantren di Pamekasan, dan sisanya 343 pesantren di Kabupaten Sumenep.

Jumlah santri di 223 pesantren di Bangkalan itu sebanyak 28.719 orang. Dengan perincian, 15.321 laki-laki dan 13.398 perempuan. Kemenag mencatat, pesantren yang menyelenggarakan diniyah formal ulya dan penyelenggara diniyah formal wustha masing-masing dua lembaga. Sementara penyelenggara madrasah diniyah takmiliyah tingkat ula 1.179 pesantren, 4 pesantren tingkatan ulya, dan 168 pesantren tingkatan wustha.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bangkalan KH Muhammad Makki Nasir mengungkapkan, salah satu kewajiban di pesantren menyampaikan keilmuan. Tujuannya, jelas dia, untuk mengimplementasikan ulama sebagai pewaris para nabi.

Selain sebagai tempat untuk memperdalam ilmu agama Islam, pesantren juga mengajarkan pemahaman pentingnya hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia. Termasuk komitmen untuk tetap menjaga identitas kebangsaan.

”Karena Allah menciptakan suku dan bangsa agar tercipta interaksi dan saling mengenal dengan perbedaan adat dan kerakteristik,” ujarnya.

Menurut dia, pesantren juga berperan penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebab, agama dan negara tidak bisa dipisahkan. ”Aturan dalam agama tidak lepas dari pemerintahan,” paparnya.

Bukti konkret cinta tanah air dicontohkan oleh Syaikhona Muhammad Kholil. Pemikiran guru para ulama itu sangat penting dalam perkembangan peradaban  Indonesia. Di antara pemikirannya ditemukan melalui tulisan pada 1891 Hijriah.

”Ada temuan manuskrip hubbul wathon minal iman dengan tulisan langsung tangan Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan,” ungkap Kiai Makki.

Dari temuan tersebut, bahwasanya cinta tanah air sudah diajarkan Syaikohna Kholil kepada santrinya jauh sebelum pergerakan kemerdekaan. Cinta tanah air sudah ditanamkan pada santri Syaikhona yang kemudian menjadi tokoh pergerakan kemerdekaan dan ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

”Peranan Syaikhona Kholil membangun SDM yang menanamkan ajaran agama dengan karakteristik bangsa,” ulasnya.

Setelah membentuk SDM yang mumpuni, Syaikhona Kholil mengarahkan untuk membentuk gerakan untuk menyatukan perbedaan. Yakni, lewat pergerakan terorganisasi dan terpimpin dengan melepas egosektoral.

”Seperti KH Muhammad Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahid Hasyim, dan kiai yang lain bukan hanya membentuk ormas. Saya meyakini hal itu untuk menjaga kedaulatan negara,” ujarnya.

Kiai Makki meyakini KH Hasyim Asy’ari bukan anti negara Islam. Tetapi, dalam gerakan yang dibangun tetap menjalankan konsep yang diterapkan oleh Syaikhona Kholil. ”Untuk menyatukan negara, harus bisa menyatukan dari berbagai agama, suku, agar negara ini tetap bisa tegak berdiri,” terangnya.

Sementara itu, Kemenag Sampang mencatat jumlah pesantren di Kota Bahari 427 lembaga. Dari lebih 400 pesantren itu, hanya 34 lembaga yang masuk kategori pesantren besar. Versi Kemenag, jumlah santri pesantren besar sekitar 1.000 hingga 3.000 orang.

Sedangkan pesantren yang masuk kategori standar dengan santri sekitar 300 orang. Beberapa pesantren besar di Sampang seperti Ponpes Nazhatut Thullab, Prajjan, Camplong; Ponpes At-Taroqqi Karongan; dan Ponpes Miftahul Ulum Karang Durin.

Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Kasi PD Pontren) Kemenag Sampang Imam Mahmudi mengatakan, mayoritas pesantren di Sampang menjaga dan mengembangkan warisan ulama. Pengelola pesantren yang satu dengan pesantren lain saling terikat.

”Banyak pesantren yang masih satu nasab. Karena para pendiri pesantren di Sampang menginginkan memajukan desa ataupun tempat baru yang tidak ada ponpesnya,” katanya.

Imam mengungkapkan, metode pendidikan pesantren umumnya menggunakan metode salaf. Namun, tidak sedikit yang yang bertransformasi dengan membuka pendidikan formal. Semua kegiatan untuk mendorong kemajuan pesantren terpusat di Kemenag RI. Pihaknya hanya bisa melakukan verifikasi dan merekomendasi layak tidaknya pesantren mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Selain itu, dalam melakukan pembinaan pesantren, pihaknya memiliki Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP). Selain itu, Kemenag berkolaborasi dengan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama (NU). ”Kami berkolaborasi untuk melakukan pembinaan ponpes bersama RMI,” jelasnya.

Terpisah, Kemenag Pamekasan membagi pesantren dalam tiga kategori. Yakni, pesantren besar, pesantren sedang, dan pesantren kecil. Pesantren kecil memiliki lebih seribu santri, pesantren sedang 100–200 santri, dan pesantren kecil di bawah 100 santri. Dari 426 pesantren di Pamekasan, sekitar 20 lembaga masuk pesantren besar, 200 lebih lembaga pesantren sedang, dan sisanya pesantren kecil. Total santri di 426 pesantren mencapai 30.558 dengan 1.964 ustad/ustadah.

Kasi Pondok Pesantren (Pontren) Kemenag Pamekasan Nurul Ulum memaparkan, mayoritas pesantren di Pamekasan telah mandiri. Banyak lembaga  tidak mengandalkan bantuan pemerintah, meski pemerintah hadir melalui UU 18/2019 tentang Pesantren. ”Karena memang bantuan pemerintah sudah tidak begitu intens akibat terkendala anggaran,” katanya.

Ulum mengungkapkan, beberapa pesantren besar dan baru kini telah menerapkan metode modern klasik. Mereka menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Perkembangan teknologi di lingkungan pesantren membawa dampak yang cukup baik. Khususnya pada pola pendidikan dan perkembangan pesantren di ranah sosial. Sehingga, stigma santri gagap teknologi (gaptek) atau terbelakang bisa ditepis.

”Memang targetnya santri tidak hanya pintar mengaji dan membaca kitab kuning, tapi harus mampu di segala bidang seperti teknologi, enterpreneur, olahraga, dan sebagainya,” ungkapnya.

Menurut dia, keberadaan teknologi mendukung modernisasi di lingkungan pesantren. Meski demikian, nilai keislaman tetap dipertahankan dengan memegang teguh kaidah al-muhafadhatu 'ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah. ”Metode keahliannya kebanyakan seperti program bahasa dan fiqih,” terangnya.

Dia mengakui modernisasi pesantren di sejumlah lembaga memang belum merata. Sebab, beberapa pesantren masih mempertahankan sistem salaf. Namun, dirinya mendorong minimal pesantren dapat meng-update data education management information system (EMIS).

”Sehingga, struktural pesantren seperti jumlah siswa, ustadah/ustad, guru dapat terdata dengan baik. Karena dari EMIS juga pesantren bisa mengajukan bantuan,” ucapnya.

Selain melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap pesantren, Kemenag juga bekerja sama dengan FKPP. ”Meskipun syaratnya saat ini pesantren harus jelas berafiliasi dengan ormas apa, sehingga bisa kami pertimbangkan,” imbuhnya.

Fakta yang tidak terbantahkan yaitu tentang pesantren sebagai pusat pendidikan dan pengembangan literasi. Literasi di pesantren merupakan kekuatan utama yang memungkinkan santri untuk tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman.

”Kami sangat mengapresiasi adanya pesantren dan lembaga pendidikan yang terus menjaga tradisi literasinya. Sehingga, melahirkan banyak penulis, tentu ini merupakan berkah dari konsentrasi pondok pesantren yang terus mengembangkan literasi para santrinya,” kata Kepala Kemenag Sumenep Abdul Wasid.

Dia mengungkapkan, terdapat 343 pondok pesantren di Sumenep yang terdaftar di Kemenag. Dari ratusan pesantren itu, tidak sedikit yang melahirkan penulis kenamaan, baik dalam karya sastra maupun nonsastra. ”Lahirnya banyak penulis dari kalangan pesantren di Sumenep tidak lepas dari peran para pengasuhnya yang juga gemar menulis,” terangnya.

Dalam bidang sastra, misalnya seperti Kiai M. Faizi dan KM Zamiel El-Muttaqien dari Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk. Sehingga, dari pesantren tersebut juga lahir banyak penulis yang namanya menghiasi dunia kesusastraan.

Tidak hanya dalam bidang sastra, di kabupaten paling timur Pulau Madura ini juga tidak sedikit kiai yang melahirkan banyak kitab. Seperti halnya KH Thoifur Ali Wafa, seorang alim yang produktif menulis kitab berbahasa arab.

”Dengan menulis, kita akan terus mengembangkan kemampuan berpikir kita, memublikasikannya, dan mengabadikannya dalam tulisan. Itulah yang dilakukan oleh para kiai dan santri di Sumenep. Sehingga, tradisi itu tetap terjaga hingga saat ini,” tuturnya.

Karena itu, menurut Wasid, langkah konkretnya, santri harus terus difasilitasi agar tetap bisa mengembangkan potensi. Dia yakin akan banyak lahir para penulis dan intelektual dari kalangan santri mencurahkan pikirannya dalam bentuk tulisan. ”Ini akan membantu kita semua dalam mencerdaskan kehidupan anak bangsa, dan dalam konteks umum ini akan meningkatkan indeks pembangunan sumber daya manusia di Sumenep,” jelasnya.

Kemenag Sumenep tidak mempunyai program khusus yang bersentuhan langsung dengan pengembangan literasi di pesantren. Namun, pihaknya terus mendorong pesantren untuk terus mengembangkan potensi literasi. ”Tetapi, kita tetap mengadakan kegiatan di beberapa pesantren, baik itu berhubungan langsung dengan pengembangan literasi maupun tidak langsung,” ujarnya.

Wasid berharap, pesantren terus memfasilitasi santri agar dapat mengembangankan kemampuan. Seperti dengan mengadakan pelatihan penulisan, pengembangan media pesantren seperti buletin, majalah, dan lainnya. Termasuk juga memfasilitasi santri untuk mengikuti lomba kepenulisan.

”Selain itu, harus ada pendampingan khusus dari para guru. Sehingga, mereka semakin termotivasi untuk mengembangkan potensinya,” tandasnya. (din/bai/ay/tif/luq)

Editor : Ina Herdiyana
#tantangan zaman #Pulau santri #pesantren #madura