Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pondok Pesantren Ibnu Cholil, Bangkalan, Berdiri sebelum Listrik Masuk Madura

Fatmasari Margaretta • Selasa, 18 Maret 2025 | 14:50 WIB
ASRI: Masjid Pondok Pesantren Ibnu Cholil Bangkalan.
ASRI: Masjid Pondok Pesantren Ibnu Cholil Bangkalan.

BANGKALAN, RadarMadura.id – Suasana di Pondok Pesantren (Ponpes) Ibnu Cholil Bangkalan tak seramai biasanya, Rabu (5/3).

Suara tadarus Al-Qur’an di masjid dengan arsitektur klasik itu membuat suasana hening hilang.

Tak lama kemudian, khadam pesantren mengajak JPRM masuk ke kediaman pengasuh.

Rupanya KH Muhammad Imam Buchori sudah menunggu kedatangan koran ini.

Seorang khadam menyuguhkan secangkir kopi, kata Ra Imam agar obrolan semakin afdal.

Ra Imam mulai mengawali perbincangan seputar sejarah pesantren yang dipimpinnya.

Diceritakan, Ponpes Ibnu Cholil didirikan setelah ayahanda Ra Imam, yakni KH Kholil AG wafat. Tepatnya pada 1996 silam.

Semasa kecil hingga dewasa, Ra imam tumbuh di lingkungan Ponpes Demangan.

Grafis oleh Sigit AP/JPRM
Grafis oleh Sigit AP/JPRM

Sepeninggalan ayahanda, dia pindah dan mendirikan rumah di daerah ringroad atau Jalan Halim Perdanakusuma.

Waktu itu belum ada perkampungan warga karena lokasinya berada di area persawahan. Kondisi jalan juga rusak dan sangat sepi.

Ra Imam mulai membangun musala dan rumah yang sangat sederhana untuk ditempati.

Kala itu listrik belum masuk ke Pulau Madura. Mayoritas masyarakat menggunakan petromaks dan lampu teplok.

Dia menyebut, saat baru berdiri, ada lima santri yang menemani di tempat tinggalnya yang baru.

”Lokasinya, jauh dari tetangga. bahkan jauh dari peradaban, walaupun tempat ini masuk kawasan kota,” kenang Ra Imam.

Ra Imam masih ingat betul, kala itu di lingkungannya hanya memiliki beberapa tetangga di daerah Kampung Pungsang yang rutin mengikuti salat tarawih ke kediamannya.

Lambat laun Perumahan Nilam mulai dibangun. Jumlah santri dari warga sekitar juga semakin banyak.

SEDERHANA: Pengasuh Ponpes Ibnu Cholil Bangkalan KH Imam Bukhori saat ditemui di kediamannya, Rabu (5/3).
SEDERHANA: Pengasuh Ponpes Ibnu Cholil Bangkalan KH Imam Bukhori saat ditemui di kediamannya, Rabu (5/3).

Akhirnya, Ra Imam membangun kamar untuk santri putra dan musala untuk santri putri.

Pada 1997, Ponpes Ibnu Cholil belum mendirikan lembaga formal. Saat itu Ra Imam mengajar langsung santri-santrinya yang jumlahnya di bawah 100 orang.

Seusai subuh santri belajar mengaji Al-Qur’an. Setelah duhur dan asar ngaji kitab kuning, dan setelah magrib mengaji lagi.

”Untuk mengajar kitab ilmu fikih saya mengambil guru tugas dari Ponpes Sidogiri, untuk membantu saya mengajar,” ungkapnya.

Pada 2000, listrik masuk ke Madura. Saat itu santri mulai berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia.

Di tahun itu juga dibangun masjid di pesantren setelah mendapat wakaf sebidang tanah dari pemilik Rumah Makan Amboina.

Ra Imam juga mendirikan sekolah formal dan nonformal.

”Karena santri mulai banyak, akhirnya kami dirikan madrasah ibtidaiyah (MI), SMP, dan SMK Ibnu Cholil,” paparnya.

Ra Imam sengaja memilih mendirikan SMK. Dia menilai SMK lebih tepat untuk santri-santrinya.

Sebab, mereka diajarkan kejuruan dan keahlian tertentu. Saat ini ada tiga jurusan yakni komputer, mesin, dan perikanan.

”Saat itu Ponpes Ibnu Cholil merupakan pesantren pertama di Bangkalan yang mendirikan SMK,” tukasnya. (za/bil)

Editor : Fatmasari Margaretta
#arsitektur #smk #Pengasuh #musala #listrik #mengajar #ponpes #santri #lembaga