BANGKALAN, RadarMadura.id – Pemerintah Kabupaten Bangkalan berhasil menurunkan angka prevelensi stunting hingga 10,2 persen.
Pencapaian tersebut berada di bawah target nasional. Salah satu lembaga yang berperan besar dalam pengentasan stunting adalah Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Bangkalan.
Yakni, dengan menyediakan sarana sanitasi yang layak kepada masyarakat. Tujuannya, mendukung kualitas lingkungan.
DPRKP juga berkontribusi dalam pengentasan stunting melalui program pembangunan sistem penyediaan air minum (PDAM).
Kepala DPRKP Bangkalan Moh. Hasan Faisol menyatakan, program sanitasi dan pembangunan SPAM dilaksanakan di 20 desa tersebar di delapan kecamatan (lihat grafis). Anggarannya bersumber dari dana alokasi khusus (DAK).
”Dua program tersebut dihadirkan untuk mengakomodasi keinginan masyarakat. Utamanya yang masuk dalam garis kemiskinan,” ujarnya.
Pembangunan sarana sanitasi dan SPAM dilaksanakan desa yang sama. Yakni, dengan mempertimbangkan lokus stunting dan daerah terdampak kekeringan saat musim kemarau.
Sementara sarana sanitasi berupa mandi, cuci, dan kakus (MCK) yang dibangun di tiap desa tidak sama.
”Satu desa ada yang dibangun MCK 50–60 unit, karena disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing desa,” imbuhnya.
Hadirnya program pembangunan sarana sanitasi bertujuan meningkatkan taraf kehidupan dan kesehatan masyarakat. Khususnya warga yang masih menggunakan jamban tradisional untuk buang air besar (BAB).
”Jamban tradisional sangat tidak layak. Sebab, biasanya kurang tertutup dan bisa berdampak buruk terhadap kesehatan,” ujar dia.
Salah satu dampak buruk dari penggunaan jamban konvensional adalah terlahirnya generasi stunting.
Sehingga, dapat memengaruhi kesehatan dan kembang anak. Alasan itulah yang mendasari DPRKP Bangkalan menjadikan lokus stunting sebagai lokasi pembangunan sarana sanitasi.
”Oleh karena itu, pembangunan sarana sanitasi ini juga untuk mengatasi stunting,” katanya.
Sedangkan program pembangunan SPAM dihadirkan untuk mengurangi daerah kekeringan saat musim kemarau.
Sebab, masih banyak wilayah yang kesulitan air bersih. Penyediaan sarana infrastrukur air itu dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah.
Salah satu upaya penyediaan air bersih di wilayah yang mengalami kekeringan yakni dropping air. Langkah tersebut merupakan upaya jangka pendek. Sedangkan untuk jangka panjang dilakukan pembangunan SPAM.
”Adanya pembangunan SPAM, pemerintah bisa membantu masyarakat mendapatkan air bersih. Yaitu, dengan melakukan pengeboran dan membangun penampungan air yang besar untuk dialirkan ke rumah-rumah masyarakat,” katanya.
Sementara Kabid Penyehatan Lingkungan dan Air Minum DPRKP Bangkalan Yenny Repeliyanti menyatakan, ada beberapa manfaat dari program pembangunan MCK.
Yakni, mengurangi angka stunting, mengurangi masyarakat buang air besar sembarangan (BABS), dan meningkatkan kualitas lingkungan.
”Jamban tradisional itu dapat memengaruhi kualitas lingkungan. Sebab, biasanya tidak tertutup, sehingga bisa menimbulkan penyakit yang dibawa udara,” katanya. (jup)