Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kais Rezeki dari Menjahit Alas Kaki Pelanggan di Bangkalan, Suliyanto Habiskan Lebih Separo Masa Hidup di Madura

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 8 Desember 2024 | 14:30 WIB
FOKUS: Suliyanto menjahit sandal milik pelanggan di tempat mangkalnya di tepi Jalan Soekarno-Hatta, Bangkalan, Jumat (6/12). (IMAMUDIN/JPRM)
FOKUS: Suliyanto menjahit sandal milik pelanggan di tempat mangkalnya di tepi Jalan Soekarno-Hatta, Bangkalan, Jumat (6/12). (IMAMUDIN/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Keterampilan menjadi sumber penghasilan. Termasuk mereka yang melayani jahit sandal dan sepatu dengan tekun selama bertahun-tahun.

Mereka juga membuktikan hidup di Madura dengan aman dan nyaman.

Jalan Soekarno-Hatta menjadi tempat Suliyanto untuk mengais rezeki. Setiap hari dia ”ngantor” di jalan itu.

Sudah tidak terhitung jumlah pelanggan yang bisa lebih percaya diri atas jasanya.

Pria itu akan setiap melayani pelanggan. Setiap hari dia berjibaku dengan jarum, benang, lem, dan alat potong.

Peralatan itulah yang selama puluhan tahun menemaninya sebagai penjahit sandal dan sepatu.

Sebagai tukang sol, sudah tidak terhitung merek, warna, dan ukuran alas kaki yang dibikin layak pakai kembali.

Sudah tidak terhitung pula jenis kelamin, umur, dan karakter pelanggan yang mendapat layanannya.

Suliyanto sudah menghabiskan lebih separo masa hidupnya mencari nafkah di Madura. Dari masa bujang hingga kini berusia 49 tahun.

Madura menjadi tempat pencarian nafkah. ”Saya (masuk Madura) mulai ongkos kapal masih Rp 350 hingga saat ini,” tutur Suliyanto kepada JPRM Jumat (6/12).

Warga Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, itu menjalankan usaha jasa jahit sepatu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Sebelum menjalankan usaha jasa tersebut, Suliyanto berjualan mainan anak-anak dan telur puyuh.

”Dulu saya keliling jalan kaki se-Madura. Saya mulai jahit sepatu sudah tiga tahunan sampai sekarang,” kenangnya sambil mengerjakan ”tugas” dari pelanggan.

Suli beralih menjahit sepatu karena sudah berumur dan karena kurang modal untuk menjalankan jual mainan dan telur puyuh.

Dia belajar jadi tukang sol dari temannya. Ilmu dan keterampilan itulah yang dia tekuni hingga saat ini.

”Saat ini, anak saya juga usaha jahit sepatu di depan Makam Pahlawan,” ungkapnya.

Suliyanto setiap hari mangkal di sisi barat Jalan Soekarno-Hatta, Bangkalan. Dia sudah berada di tempat mulai pukul 06.00 hingga 16.00.

”Saya ngekos di Bangkalan bareng sama anak di daerah Kemayoran,” sambungnya.

Dalam menjalankan usaha jasanya tersebut, Suliyanto menarif upah Rp 15 ribu–Rp 25 ribu.

Meskipun pendapatan tidak pasti, Suliyanto tetap menjalankan usahanya tersebut karena menjahit sepatu merupakan satu-satunya keahliannya.

”Saya biasanya pulang ke Lamongan dua minggu sekali, paling lama satu bulan sekali untuk ngasih nafkah kepada keluarga,” ungkapnya. (din/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#sepatu #Nafkah #mata pencarian #menjahit #sandal #tukang sol