BANGKALAN, RadarMadura.id – Selain dikenal dengan penghasil garam, Madura juga menjadi salah satu pulau yang kaya hasil laut.
Salah satunya yang tidak sulit ditemukan di bibir pantai berupa kerang bambu atau biasa disebut lorjuk.
Kerang bambu menjadi salah satu jenis makanan laut yang paling diminati oleh pencinta seafood.
Sehingga, bisa dimanfaatkan menjadi salah satu bisnis yang sangat menghasilkan.
Peluang ini dimanfaatkan oleh Nur Izat, warga Desa Pandian, Kecamatan Kwanyar, Bangkalan.
Dia menjadi distributor lorjuk atau lortop untuk dikirim ke luar daerah. Dari usaha itu dia meraup pendapatan puluhan juta per bulan.
”Saat ini saya jual kerang bambu frozen yang dikirim ke luar kota semua,” kata Izat saat ditemui oleh Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Minggu (20/10).
Izat tinggal di daerah pesisir pantai yang mayoritas warganya mencari kerang bambu.
Pasaran kerang bambu tersebut sebelumnya hanya di daerah lokal dan harganya minim.
Karena itu, dia mempunyai inisiatif untuk menjadi distributor untuk dijual ke luar kota.
”Saya menjadi pengepul kerang bambu dari hasil masyarakat sekitar desa,” imbuhnya.
Sebelum jadi distributor, Izat masuk di komunitas penghasil laut se-Indonesia.
Dari wadah ini dia manfaatkan untuk mencari peluang pemasaran kerang bambu.
Akhirnya menemukan salah satu resto seafood daerah Jakarta.
”Pertama saya bawa sampel 50 kilogram ke Jakarta dan alhamdulillah bisa diterima dan banyak peminatnya,” ungkapnya.
Menurutnya, dalam menjalani usaha tersebut tidak mudah, namun dirinya tetap berusaha.
Dia bersyukur bertahan menjadi distributor kerang bambu. Usaha itu dia tekuni selama sembilan tahun sejak 2016.
Pengiriman lortop disesuaikan dengan permintaan pasar. Biasanya yang paling banyak permintaan ketika akhir tahun atau menjelang tahun baru.
”Biasanya dalam satu kali kirim antara 1,5 ton hingga 2 ton ke setiap daerah Semarang, Bandung, dan Jakarta,” terang pria 48 tahun tersebut.
Ayah satu anak itu menjelaskan, dalam distribusi kerang bambu tersebut dirinya membanderol harga sesuai ukuran.
Ukuran sedang Rp 27 ribu dan ukuran jumbo Rp 16 ribu per kilogram. ”Biasanya dalam satu bulan bisa omzet antara Rp 80 juta,” jelasnya.
Selain menjadi pengepul dari masyarakat sekitar desanya, dia juga mengulak dari daerah Sampang.
Sebab, hasil kerang bambu yang ada di daerahnya rata-rata ukuran sedang. Sementara yang ukuran jumbo dibeli dari Sampang.
Izat dalam menjalankan usahanya tersebut juga dibantu oleh lima karyawan. Mereka bertugas untuk menyortir dan mengemas.
Jika ada banyak pesanan, dia juga melibatkan tetangga untuk membantu.
”Sebelum ada corona saya kirim ke Malaysia, biasanya dalam sekali kirim bisa 24 ton,” ungkapnya. (c5/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti