oleh: FAYAT MUHAMMAD
FORUM Group Discussion pada Kamis, 18 Maret 2001, dengan judul FGD (Perkembangan Konvensi Teaer pada Era Digitalisasi hari ini). Ada tiga peneliti sekaligus narasumber dalam kesempatan itu.
Pertama Bapak Dr. Benny Yohanes, dosen ISBI Bandung. Kedua, Ibu Fani Dila Sari. S.Sn. M. Sn dosen ISBI Aceh. Ketiga, Bapak Dede Pramayosa S. Sn. Ma, dari dosen ISI Padang Panjang.
Abstrak yang sudah ditulis oleh Arung Wardhana El-hafifie dari aplikasi teater “bertukar” oleh Studio Klampisan dan Game Station oleh Sun Community pada Jakarta Teater Platform 2020 Ur-Fear, Huhu and he Multitude of Virgin oleh Teater Garasi bisa digunakan sebagai salah satu contoh yang cukup menarik dalam membaca perkembangan Konvensi Teater di Indonesia dalam era digitalisasi.
Kalau merujuk pada tulisan Rebecca New Dramaturgi for Digital Dance Performance Art and Installation dan Gabriela Gianaci Virtual Theatre and Introduction.
Ketiga karya tersebut secara substansi memiliki konsep metafora, perbatasan yang telah lama melambangkan perhatian fundamental, tidak terkecuali antara penonton dan panggung, dunia dan realitas yang menghadirkan batas lebih kompleks untuk dunia ketiga yang dibayang-bayangi oleh teori digital barat.
Barat termasuk dari ketiga tulisan tersebut mengisahkan medan perbatasan baru yang kuat, tepatnya virtual dan nyata, bentuk ruang baru dan wilayah. Ketiganya ingin membongkar batas dimasa kini.
Rumusan secara umum dari kinerja karya digital tersebut, merujuk pada teoritik Barat, dapat dipahami melalui budaya cyber yang memungkinkan konvensi teater di era digitalisasi lebih terbuka lebar, dan juga bisa terus bergerak, berubah-ubah dengan ide-ide yang spesifik bahkan semakin memiliki kecenderungan tidak akan pernah stabil.
Tergantung seberapa jauh dunia digital turut aktif mengkonstruksi situasi dan kondisi zaman, sehingga secara otomatis konvensi teater pun terus bergerak pula pada ruang-ruang kritisnya.
Arung Wardhana El-Hafifie: Di dalam abstrak yang saya tulis merupakan pengamatan terbatas untuk melihat perkembangan konvensi, kemudian saya pantulkan pada Gabrielle Ganiasi yang ditulis 2004, dia adalah salah satu Profesor di University Ofexeter. Step Byson tulisannya ditahun 2007, Profesor Installeclipse of the Heart di Singapura, kemudian tulisan Rebecca Rus, Profesor University of di Swedia kalau tidak salah ditulis tahun 2013.
Fani Dila Sari: Bagaimana perkembangan teater di era digitalisasi? Menurut saya ada dua fase, kalau kita bicara tentang digitalisasi, sebenarnya ketika tekhnologi masuk ke ranah teater baik dari segi musiknya, kemudian masuk ke dalam spektakel pertunjukan, itu sudah mengalami perkembangan secara pilihan spektakel dan juga estetika tapi setelah itu terus berkembang.
Ingat sekali, pertunjukan kontemporer simulakra yang masih menjadi perbincangan antara realita maya dalam dunia kontemporer. Itu menjadi pandangan perkembangan estetika. Perkembangan pilihan spektakel yang dihadirkan di panggung teater itu sudah menyentuh teknologi yang akhirnya kita menyatakan bahwa digitalisasi tidak hanya satu atau dua tahun ini pegunaannya, para pelaku teater mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan estetika yang lain, karena yang kita sadari era digital ini bukan lagi masa depan, tapi adalah realitas hari ini.
Kemudian era pandemi yang jatuh pada tahun lalu, tepatnya di bulan Maret 2019. Para seniman, pemerintah dan semua aspek mencoba untuk mendigitalisasi produknya. Semua lini akhirnya mencoba menjadi 4.O di masa pandemi, walaupun dalam perkembangan teater, ataupun dunia seni pertunjukan, digitalisasi memiliki fase-fase hanya dalam tahap estetika saja, tapi di dalam estetika juga sebagai dokumentasi ataupun pengarsipan karya. Misalnya, dalam pertunjukan garapan teater yang biasanya musiknya live kemudian menggunakan media rekam, maka suara itu masuk ke ranah digitalisasi.
Di masa pandemi, selain sebagai spektakel lain untuk mencapai estetika atau untuk berinovasi, digitalisasi menjadi sarana media rekam, poin pentingnya adalah bagaimana kreatifitas dan proses teater tetap berjalan. Ini pun masih tumpang tindih di tengah kelatahan kita menggunakan media rekam, apalagi orang-orang seni pertunjukan merasa spiritnya terganggu dengan adanya media rekam. Hal ini sangat dilematis ketika ada istilah pagelaran virtual, atau pertunjukan digital, seperti memaksakan, ataupun mengganggu eksistensi dari seni pertunjukan itu sendiri.
Saya sedang dalam proses rekaman karya, bekerjasama dengan Taman Seni dan Budaya Aceh, agar geliat berproses kreatif itu tetap ada. Awalnya media rekam yang menyorot, kita menjadi pusat perhatian dan berfungsi sebagai dokumentasi saja, tapi ketika sudah digabungkan dalam pegelaran virtual, apakah itu live atau tidak live, ada freming yang harus kita jaga. Ada proses adaptif sebagai kreator, sutradara maupun aktor di atas panggung. Semuanya harus adaptif, penyesuaian dengan kacamata kamera, kemudian audio visual kamera, jadi kita bisa melihat sebuah kreativitas baru karena ada dua kali proses kreatif.
Saya berproses teater bersama rekan-rekan, semua tim produksi dengan protokol kesehatan ketika latihan, kita tetap dengan spirit dan tidak mengurangi standar kualitas proses kreatifnya, walaupun setelah kita berada di panggung ada proses lain yang harus disesuaikan, beradaptasi dengan media rekam untuk memvirtualkannya, di mana harus ada kerjasama antara sutradara, kameramen. Jadi harus ada komunikasi yang baik karena kadang kita sama-sama mempunyai idealis dalam berkarya, ada alih wahana secara proses kreatif.
Saya berpikir, kenapa tidak, kalau misal berproses dengan standar teater, tapi ketika sudah memasuki ranah kamera, ada adaptasi lagi selama beberapa hari dengan panggung yang sudah di-freming, diatur disepakati dengan para pelaku media rekam ini. Walaupun nanti hasilnya akan melihat cibiran. Ngapain akan menghilangkan spirit berteater? Saya tidak melihat lagi menjadi kualitas, dalam artian, apakah ada ruh yang tetap ada penontonnya? Tapi bagaimana kami tetap melakukan latihan kreativitas walaupun penontonnya seperti semu, tapi tetaplah total seperti proses kreatif biasanya.
Jadi, poin pentingnya bagi saya bukan masalah hasilnya dulu, tapi bagaimana proses kreatifnya terus ada dan berjalan. Perlu komunikasi yang lebih intens dengan para pelaku media rekam, karena mereka punya konvensi sendiri, ibaratnya orang-orang media rekam ini bagaimana mengatur kamera. Tapi saya tidak bersepakat, bahwa jangan sampai proses kreatif kami ini tidak menjadi apa-apa.
Saya sebagai salah satu pelaku tetap berlatih dan berusaha agar daya proses kreatif ini tetap berjalan, walaupun harus mengalami dua fase. Pertama, fase berproses secara teater sebagaimana biasanya, tapi ketika sudah masuk ke dalam masa perekaman, kita sama-sama adaptif dengan media rekam ini. Yang paling penting bagi saya adalah sistem pelatihan, daya kreatifnya tetap berjalan walaupun pasti akan berbeda, ketika kita berdiri di atas panggung, ada tepuk tangan penonton, ada mata penonton, ya, harus ngurut dada, karena pandemi ini bukan keinginan kita semua.
Para aktor pun lebih diminta tidak hanya ketika pentas di panggung tanpa media rekam, tapi juga harus ada kesadaran ruang, sejauh mana aktor bisa menggantikan itu. Kalau dulu, sejauh mana ruang imajiner yang dibangun? Sekarang sejauh mana, frame kamera, kesadaran ruang itu tetap dilatihkan kepada para aktor. Sensitifitas itu mungkin hanya bergeser.
Saya tidak mengarah ke hasil sebuah virtual, tapi bagaimana proses kreatif, teater tetap ada walaupun hasilnya pertunjukan teater virtual, atau pun digital lebih ke dalam bersama tim proses kreatifnya yang saya tangkap, bukan hasil akhirnya, terus gagah-gagahan di atas panggung. Itu yang saya ambil hikmah dari masa pendem ini, kemudian mencoba untuk tetap berbuat.
Arung Wardhana: Bagaimana melihat arsip dan dokumentasi bisa lebih detail mengenai fungsi di dalam era digitalisasi ini, selain membentuk estetika baru?
Fani Dila Sari: Sejauh ini dunia internet sangat luas, dalam arti, sebenarnya dunia digitalisasi menurut saya bisa menjadi media pembelajaran dan apresiasi. Saya sedang ada dalam riset seni pertunjukan 4.o, Augmented Reallity, bagaimana mengembangkan seni pertunjukan menjadi karya, dan itu menjadi media pembelajaran. Saya sebenarnya menyetujui, selain menjadi pilihan spektakel ataupun pengembangan estetika dari bentuk teater juga sebagai media pembelajaran arsip-arsip ini, karena kecenderungan kita manfaatkan teknologi itu di ranah akademisi ataupun non-akademisi, dalam menggarap kita butuh apresiasi, tidak semua karya seluruh dunia bisa kita datangi, dan kita tonton dalam ruang ke penontonan yang saat ini kehilangan ruangan ke penontonan dan kajian kepenontonan di masa pandemi, ini salah satu kerugian efek dari pergelaran virtual sebagai aspek yang cukup penting dalam teater ataupun seni pertunjukan.
Arung Wardhana, bertanya soal penelitian yang dilakukan oleh Ibu Fani Dila Sari.
Fani Dila Sari: Sebenarnya pemerintah itu sudah menggaungkan wacana 4.o, dibalik apakah pandemi ini adalah sebuah mitos atau tidak, tapi memang dunia kita saat ini, digital teknologi bukan lagi masa depan, tapi realitas hari ini, dimana teknologi itu lebih bersifat maju, adaptif dan juga protektif. Kita harus memiliki kearifan bagaimana memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran. Salah satu project saya dalam pertunjukan Augmented Reallity walaupun belum rampung dan juga acapkali gagal, karena kayak misalnya di dunia museum, kalau di Barat sudah sangat booming sekali, dan kebetulan ada beberapa jurnal saya, hasil kerja sama dengan kampus Seni Budaya Indonesia dan riset penugasan, salah satunya dari ISBI Bandung: Mbak, Wanda Listiani, beliau orang seni rupa, juga Ibu, Dr. Sri Rustianti, kemudian ada dari ISBI Papua, namanya, Bli Surya. Jadi kami mencoba, dari seni tradisi di Aceh, kami melakukan perekaman dengan kain hijau, file-nya kami kirimkan ke tim di Bandung, di sana teknologinya lebih maju dibandingkan Aceh dan Papua, kami mencoba membuat pengkodeannya dengan orang teknologi yang cukup paham dan membuat benda tiga dimensi bergerak dengan barcode di layar handphone.
Arung Wardhana: Satu hal lagi Ibu, tadi dijelaskan sama ibu bahwa di dalam proses digitalisasi, kemudian yang paling penting adalah bagaimana proses komunikasi antara direct sinema dengan direct panggung, ada kerja ganda ketika dikatakan sistem pelatihan terhadap aktor: sensitifitas terhadap ruang dan kameramen. Sistem pelatihan seperti apa yang mungkin bisa dipaparkan dalam digitalisasi sebagai satu pengetahuan yang lebih efektif seperti yang sudah pernah dilakukan oleh teman-teman, kira-kira seperti apa, Ibu?
Fani Dila Sari: Sebenarnya untuk sadar terhadap ruang-ruang panggung, tidak baru dalam berteater, seorang aktor memang harus adaptif, harus sadar ruang bahwa dalam konvensi realis itu ada hal-hal yang memang perlu diperhatikan, kesadaran ruang yang sudah kita latih seperti berproses biasa. Ada dua proses kreatif, dari awal sampai ketika sudah masuk ke ranah panggung, inilah proses kreatif. Kedua, dimana harus ada komunikasi dengan yang bertanggung jawab dengan media rekam. Komunikasi ini yang harus dibangun bagaimana sama-sama menyepakati, frame-nya sejauh mana, kesadaran ruangnya sejauh mana?
Arung Wardhana: Nah, kesepakatan itu dengan komunikasi, dan freming, Apakah ada metode-metode tertentu? Aktor disuruh ngapain untuk menuju kesepakatan di dalam komunikasi dengan sutradara frame?
Fani Dila Sari: Ya, tentu saja ada diskusi, kita menggabungkan tim kreatif teater dengan tim kreatif di media rekam karena estetikanya akan mempengaruhi. Dari segi cahaya, saya ingin kontras karena biasanya sudut pandang penonton, sekarang cahayanya harus disesuaikan dengan sudut pandang mata kamera. Jadi, saya tidak hanya berdiri di depan panggung, memberikan instruksi kepada aktor ataupun yang membantu pertunjukan. Tapi saya harus melihat monitor dan media rekam. Jadi, ada dua proses kreatif dan saya harus cek sound tidak lagi pakai vokal teater seutuhnya karena ada sistem mixing yang juga harus ditangkap secara audio.
Jadi, saya harus pakai headphone juga, “ini cukup, Oh ini pas, Oh ini tidak”. Harus bisa menstandarkan hitungan audio. Lebih cenderungnya ke freming dan audio, artinya ada dua estetika yang bertemu: estetika panggung dan estetika digital kamera, kemudian didiskusikan, artinya lebih banyak mencoba berkomunikasi dengan estetika
Dan kami sama-sama sepakat bahwasanya tidak seperti di film yang ada sistem Cut yang menjadikan sebuah proses mudah, tetapi aktor berlatih dari awal berproses sampai dia siap pentas, “Ini kan cuma pengambilan gambar, Ya, udah hafal setengah aja, adegan nanti bawa masuk lagi” tidak seperti itu, spiritnya tetap ada
Mungkin yang saya bisa tangkap dari pemaparan ini estetika panggung dan estetika digital atau kamera, kerja direct sinema yang harus berhubungan, komunikasi secara intens, dan lain sebagainya. Butuh komunikasi yang sangat efektif dan sistem metode latihan di panggung bukan serta-merta hilang, tapi juga terus digunakan.
Pak Benny: Saya kira kita menyadari bahwa literasi digital itu bagian yang niscaya, memang harus diikuti oleh seniman khususnya, karena itu, akan menjadi fenomena yang mempengaruhi aspek-aspek penciptaan yang lebih luas. Tetapi bersamaan dengan itu, kita harus ikut membaca konsekuensi-konsekuensinya, bisa saja positif bisa saja juga punya implikasi negatif. Sebetulnya saya ingin membandingkannya antara teater yang berbasis panggungg dengan teater yang berbasis digital.
Pada teater yang berbasis panggung, tujuan utamanya pertunjukan itu mengunci penonton. Jadi kehadiran penonton di ruang pertunjukannya secara fisikal nyata. Hal itu membuat penonton terikat di ruang itu. Sebaliknya teater yang berbasis digital memang membuat penonton bisa mendekat lebih banyak lewat perantaraan teknologi digital, tetapi penonton itu kemudian menjadi tidak terikat. Dia tidak punya kewajiban untuk menonton seluruh pertunjukan kalau pada 10 menit pertama pertunjukan itu membosankan. Ini berbeda kalau di ruang pertunjukan yang meskipun kita bosan ada etika untuk tetap duduk di gedung pertunjukan, jadi pergeserannya itu antara posisi penonton terikat dan tidak terikat.
Di dalam teater yang berbasis panggung pertunjukan adalah satu-satunya otoritas, jadi apa yang disajikan di atas panggung, kemudian menjadi sumber persepsi dan pengalaman estetik penonton yang di serap secara indrawi. Di dalam teater yang berbasis digital, peristiwa itu lebih cenderung jadi game atau permainan, artinya penonton bisa saja mem-pause pertunjukan berdasarkan intervensinya sendiri, dan ini menandakan bahwa pertunjukan tidak punya otoritas internal. Penonton bisa memperlakukan pertunjukan dengan orientasinya sendiri. Efek dari screen itu berbeda dengan efek dari panggung, kalau panggung memang secara fisik menjaga distansi, jadi ada jarak antar penonton dengan pertunjukan. Tetapi distance ini dipakai untuk aproksimasi untuk kedekatan.
Jadi teater yang berbasis panggung memang menjaga distansi untuk mendekatkan. Sedangkan teater yang berbasis digital bisa kita tonton lewat screen memang membuat kita mendekat, apakah screen, smartphone atau laptop, mendorong kita untuk mendekat. Artinya screen itu membawa pada aproksimasi, tapi jarak yang dekat itu justru membuat kita berjarak dengan pertunjukan.
Pertunjukan yang berbasis digital tidak bisa membangun efek atau energi bersama seperti yang bisa dialami kalau kita hadir di panggung pertunjukan, di dalam teater berbasis panggung, penonton itu bisa membangun energi bersama, bisa ketawa bersama kalau adegan lucu, dan bisa menjadi kontemplatif kalau adegannya memberikan hal-hal yang membutuhkan perenungan.
Sebaliknya di dalam teater yang berbasis digital, meskipun penonton banyak, seperti misalnya, diskusi kita kali ini (zoom), tapi kita sendiri-sendiri, di dalam space-waktu kita sendiri-sendiri: ada yang di kamar, di beranda, di halaman, dan sebagainya, itu perbedaannya. Kalau yang berbasis panggung distansi untuk aproksimasi teater yang berbasis digital justru aproksimasi yang menghasilkan distansi.
Kemudian suara itu menjadi faktor krusial, ketika aktor yang berbasis panggung, terutama suara aktor itu menjadi satu-satunya otoritas. Apa yang disampaikan aktor adalah apa yang akan didengar langsung oleh penonton, tetapi di dalam teater berbasis digital, suara itu bisa mengalami beberapa simulasi, misalnya, suara bisa diganti oleh suara orang lain, jadi suara aktor yang jelek bisa kelihatan jadi bagus, karena ada proses lipsing atau proses penggantian suara. Jadi, kita mempertanyakan otoritas nya dimana?
Simulasi yang lain, misalnya, lewat teknologi audio, suara-suara itu bisa diamplifikasi sedemikian rupa, sehingga kekurangan-kekurangan teknik dari aktor kemudian dimanipulasi oleh teknologi. Terakhir, teater yang berbasis panggung, nasibnya memang ephemeral, artinya hanya berlangsung dalam satu durasi, setelah itu selesai. Tapi, teater yang berbasis digital bisa continual, bisa berlangsung terus, bisa diulang ratusan kali, ribuan kali secara terus-menerus, sehingga sebetulnya ia masuk pada proses mekanisasi, dan proses mekanisasi yang hilang dari nilai pertunjukan adalah dimensi auratiknya.
Dedi Pramayosa: Saya kira, kesempatan ini akan digunakan untuk mengatakan; bahwa sebenarnya eksperimentasi media elektronik itu dimanfaatkan untuk memperkaya khasanah dan ekspresi teater. Bahkan dulu TVRI sebagai televisi paling digjaya di masanya, menghadirkan elektronik untuk memperluas kemungkinan penonton dengan memanfaatkan layar, dan kemajuan teknologi.
Apa yang dialami dewasa ini oleh teater dengan tantangan lahirnya digitalisasi, dimana style sebagai sebuah tontonan, teater ditantang untuk menunjukkan hal-hal yang membuatnya berbeda dengan tontonan yang lain, bila pertunjukan mengharapkan penonton hadir seperti semula, tentu harus melihat dirinya kembali, apakah sifat-sifat yang dulu merupakan keunggulan sebagai satu genre pertunjukan masih menjadi keunggulan di masa ini?
Pandemi datang membuat tantangan menjadi semakin besar, karena salah satu cara untuk mengatasinya dianjurkan mengurangi kegiatan-kegiatan yang menimbulkan kerumunan, dan mendorong orang untuk lebih menjaga jarak. Artinya untuk kebutuhan bertahan dalam situasi pandemi, seniman teater justru mendapatkan tantangan tepat di jantung pertahanannya sebagai seni yang mengandalkan pertemuan-pertemuan langsung secara fisik antara para pelaku dengan para penonton.
Saya kira kalau kita melihat sebagai keharusan dari adanya perubahan konvensi di dalam cara mencipta pertunjukan teater, dan cara orang menikmati pertunjukan teater, maka, bukan hal yang baru, kalau melihat sejarah teater dunia. Lahirnya konvensi-konvensi besar maupun kecil di dalam khazanah teater, juga didorong oleh perubahan-perubahan revolusioner, yang mengubah cara hidup hampir pada semua sektor dalam pengertian, pandemi juga bisa berdampak atas bagaimana cara kita mencipta pertunjukan teater dan bagaimana cara orang menikmati teater.
Tema serupa ini menjadi salah satu yang saya amati sejak pertama kali pandemi datang di Indonesia. Jadi, ada kegelisahan untuk menemukan siasat dramaturgis baru untuk mengatasi situasi yang dialami_ juga ditanggapi oleh teman-teman hampir di semua daerah di Indonesia. Ada banyak teman yang mencoba bereksperimentasi, bagaimana cara memanfaatkan platform digital untuk tetap melahirkan tontonan teater, tetapi perdebatan menjadi perhatian semua pekerja teater dalam bereksperimentasi dengan cara-baru mencipta pertunjukan. Misalnya, pertanyaan tentang sifat-sifat auratik dan sifat-sifat ephemeralitas dari pertunjukan menjadi tidak auratik lagi, karena tidak unity, tidak sekali untuk selamanya. Ia bisa diulang berkali-kali begitu bersentuhan dengan platform digital yang tersebar di media internet pada waktu itu.
Diskusi-diskusi serupa, beberapa orang atau kelompok mencoba melakukan eksperimentasi di awal-awal pandemi, ada Anwari dengan Kama Theatre, mencoba merespon cepat situasi yang ada, melahirkan serial-serial teater digital, bisa ditonton oleh teman-teman di platform YouTube. Afrizal Malna, dengan serial tontonan yang tersebar di Channel YouTube; satu serial pertunjukan yang dinamakan proyek teater masker, karena memang masker sebagai benda tiba-tiba harus ada, akrab dengan kita. Beberapa grup salah satunya teater Garasi dengan proyek Ur-Fear, mencoba untuk memformat berbeda dan tidak memanfaatkan platform digital yang sudah ada, melainkan membuat website sendiri untuk penonton harus mendaftarkan diri, baru mendapatkan “tiket” sebagai kode untuk mengakses websait pada waktu yang ditentukan.
Perihal Ur-Fear ini, tulisannya Michael tentang proyek Ur-Fear dimuat di jurnal kajian seni edisi November 2020 yang lalu. Antara lain yang disajikan oleh Michael adalah; bahwa di dalam proyek Ur-Fear, ternyata tidak semua pertunjukan bisa ditampilkan secara langsung atau live streaming. Beberapa diantaranya juga mengalami proses atau lebih tepat kita sebut sebagai pemutaran dokumentasi. Kira-kira eksperimentasi serupa ini akan masih terus berlanjut, apalagi pandemi masih belum selesai. Pekerja teater semakin gelisah untuk menemukan siasat dramaturgis baru dalam mencipta pertunjukan, ia tetap mempertahankan hal-hal yang dianggap kekuatan teater dan dua diantaranya, yaitu, auratisme dan ephemeralitas-nya.
Menggunakan platform digital agar bisa mempertahankan keunikan pertunjukan karena sekali ditonton untuk selamanya, sambil menghubungkan dengan kebutuhan-kebutuhan tontonan masa kini. Untuk mendialogkan konsep tersebut yang paling penting adalah perlunya riset artistik secara terus-menerus, sembari memanfaatkan keunggulan-keunggulan dari media digital dengan tetap mempertahankan kekuatan teater sebagai satu agen resmi pertunjukan.
Di beberapa tempat, selain mencoba mendialogkan dua kekuatan ini, beberapa grup dan perorangan bereksperimen melalui teater terapan bukan hanya pada artistik pertunjukan saja, tapi juga bagaimana teater bisa mengintervensi hidup sehari-hari dan bisa menjadi medium untuk menawarkan alternatif hidup. Perubahan konvensi yang mulai tampak karena desakan digitalisasi masuk ke semua lini, termasuk ke teater.
Pertanyaan Made: Tadi sempet Kang Dede menyinggung soal TVRI yang pernah melakukan program teatronik, dan di tahun 90-an saya dengan teater Lakon, di Jakarta Barat saya pentas teatronik yang membawakan naskah Terdakwa, tetapi proses yang kami lakukan ketika sampai kepada pementasan yang dibangun set-nya secara panggung prosenium di sebuah Studio di TVRI, kami lakukan dengan proses seperti halnya proses berteater. Bahkan ketika pengambilan gambar di dalam studio TVRI, kami bermain di atas panggung prosenium yang disiapkan sedemikian rupa, kemudian dilakukan perekaman dengan lima kamera, dan sama sekali tidak mengintervensi gerakan-gerakan atau visualisasi di atas panggung, hubungannya dengan kamera. Artinya atmosfer yang dibangun, perasaan yang tercipta, aura yang didapatkan masih seperti ketika bermain di atas panggung. Walaupun harus melakukan pembayangan kepada penonton yang demikian banyak. Waktu itu hanya diwakili oleh beberapa teman-teman yang juga ikut hadir, dan beberapa Crew TVRI yang juga hadir disitu. Beberapa penonton yang kurang lebih belasan itu masih menjadi aura bagi pertunjukan. Saya pada waktu itu bermain sebagai Atma di dalam lakon Terdakwa Pikiran Negara.
Baca Juga: Wadahi Pelaku Seni, CV Jawara Internasional Gelar Lomba Daul Se-Madura
Masih meragukan bahwa itu adalah pertunjukan teater yang tidak ada hubungannya dengan proses digitalisasi sekarang, karena itulah pada hasil karya yang kami pentaskan kemudian dipublikasi lewat program penyiaran, itu persoalan lain. Itu proses yang kami lakukan di teatronik. Artinya, ditingkat tersebut belum seperti kondisi sekarang.
Kondisi sekarang, persoalannya adalah ketika digitalisasi masuk ke ranah prosesnya seperti yang pak, Beny, bilang, teater tidak memiliki otoritas diri. Ada otoritas lain yang menjadi bagian dari rekayasa estetika panggung, untuk di masukkan ke dalam estetika digital.
Pertanyaanya, di mana teknologi digital ini ditempatkan dalam proses berteater kita, untuk mempertahankan bahwa teater masih punya aura, memiliki jati dirinya, ketika harus berhadapan dengan penonton yang yang tak terkunci. Apakah kemudian teater masih bisa memiliki kekuatan jati dirinya di dalam proses digitalisasi sekarang ini?
Pak Benny: Kita harus membaca sisi kehadiran teknologi digital dalam dua Point of View. Pertama, adalah sudut pandang aplikasi, kita bisa melakukan beberapa bentuk akselerasi untuk mengadopsi kekuatan-kekuatan intrinsik teknologi digital yang sebagian sudah dilakukan secara holistik oleh produksi teater Garasi, tetapi itu adalah medan aplikasi sudut pandang. Kedua, sudut pandang introgasi kehadiran medikal, kita sikapi sebagai medan introgasi dan kita bisa mengambil sikap yang efektif, tetapi juga perspektif.
Ilustrasi yang digambarkan Made, ketika dia menggarap Lakon Kedua, dalam format teater panggung, dalam istilah Fani, di freming dengan pendekatan digital. Artinya direkam, lalu ada aspek-aspek interupsi kamera seperti sorot kamera yang sangat memperhitungkan bentuk-bentuk close-up. Kita tahu, Made, menggarap teater Terdakwa dengan asumsi bahwa teater masih ada di dalam era teater literal. Artinya naskah itu memang di panggungkan untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran yang direpresentasikan lewat kata-kata, lewat dialog, jadi bobot kontennya itu konten literal. Ketika konten literal mau disambungkan dengan penonton, maka yang akan ditangkap oleh penonton adalah muatan diskursif nya, gagasan si penulis naskah, pemikiran, dan aspek-aspek kontemplasinya.
Di sisi yang lain, media digital sebetulnya mengubah konsep narasi secara fundamental menjadi narasi literal. Di dalam media digital menjadi narasi Transmedia. Artinya lebih mengutamakan muatan optis gaya pada muatan diskursif. Jadi yang lebih banyak berbicara adalah gambar, maka kekuatan gambar inilah yang menjadi bahasa baru, atau gramatika baru di dalam teater berbasis digital. Yang harus kita ingat sifat gambar itu tidak diskursif, melainkan seduktif (menggoda), Jadi kalau teater akan beranjak dari dimensi literal ke dimensi digital, maka dia harus mengubah konsep narasinya dari narasi literal ke narasi Transmedia, dan itu mengubah muatannya dari muatan diskursif ke muatan optis. Artinya kita tidak bisa mengharapkan lagi kekuatan kata-kata, tapi kekuatan gambar. Teater masa depan yang berbasis digital memang teater seduktif harus menggoda. Teater seduktif itu tidak memberikan semua eksplanasi, karena kalau ada eksplanasi, dia akan kembali jadi diskursif.
Sekarang apakah kita punya gramatika baru untuk menata pengalaman seduktif itu? Disinilah kira-kira tempatnya teknologi digital bisa bertemu kembali dengan eksistensi aura teater, karena seduksi itu godaan visual auratik.
Dendy Madya: Yang menarik dari pertunjukan ada tiga sejarah yang bertemu. Pertama, sejarah teater atau seni pertunjukan. Kedua, sejarah sinema. Ketiga, komputerisasi. Perkembangannya sampai sekarang banyak teman-teman kita berada dalam tiga sejarah ini. Beberapa teman yang aktif dalam teater digital meski belum bisa keluar dari apa yang dikatakan sebagai basis panggung. Pertanyaan untuk tiga narasumber, bila sejarah ini bertemu, apakah konvensi dalam teater itu seperti auratik, yang ephemeral, dan liveness teater, status quo berubah stagnan atau berubah dalam kondisi seperti sekarang ini?
Dedi Pramayosa: Perubahan konvensi teater, beberapa konsep dasar yang membuat teater menjadi medium spesifik dalam genre pertunjukan, yang membedakan dirinya dengan genre pertunjukan lain, tentu saja ada sejarah sebagai sebuah disiplin dari tumbuhnya rasionalisme di Eropa dengan genre pertunjukan, mengintrogasi hal-hal yang yang ontologis dari dirinyadirinya, yang selama ini dipahami atau terkonversi sebagai sifat-sifat yang dipandang ontologis dari teater dan membedakannya dengan jenis seni yang lain.
Apakah dia harus menjadi status quo ataukah berubah, tentu saja sebagian orang akan melihat bahwa hadirnya tantangan era digital bisa menjadi berakhirnya era teater, dalam pengertian pertama ketika membedakan dirinya dengan genre seni yang lain. Tetapi, ada juga yang bisa melihat tantangan ini justru akan membuka kemungkinan untuk memperbaharui pemaknaan atau pendefinisian kita atas teater itu sendiri. Mereka yang terus bereksperimentasi dengan kemungkinan pengayaan ekspresi, dan intensitas tontonan di masa era digital ini, adalah mereka yang berpikir bahwa pemahaman kita tentang teater itu masih mungkin kita perbaharui dan bukan status quo.
Namun dua hal ini, akan tetap ada yang mempertahankan bahwa dengan hadirnya kemungkinan baru yang dibawa oleh kemajuan teknologi digital, maka beberapa hal yang yang tadinya menjadi kekuatan dari teater kemungkinakan sangat terganggu. Contoh, kalau misalnya kekuatan keaktoran selama ini, medium utamanya adalah ekspresi tubuh manusia untuk menyampaikan diskursus, maka itu akan segera tergantikan oleh beberapa percobaan atau eksperimen yang dilakukan teman-teman pekerja teater di Indonesia dengan efek-efek digital. Maka kekuatan tubuh bukan menjadi medium utama lagi.
Apakah dia harus menjadi status quo atau atau tidak, mungkin ini kesempatan untuk mendiskusikan ulang karena jangan-jangan dengan maraknya digitalisasi, teater bisa menjadi alternatif dari serangan digitalisasi yang memungkinkan orang mengakses banyak informasi pada waktu yang bersamaan, kemudian menghadirkan kesadaran tentang pentingnya pertemuan-pertemuan fisik itu secara inten untuk merasakan kembali kemanusiaan kita, misalnya.
Pak Benny: Di satu sisi manusia itu tetap membutuhkan bentuk-bentuk interaksi yang nyata, dan bersifat fisik, tetapi di sisi lain mereka juga harus mencoba untuk mengakselerasi nilai-nilai baru yang dihibahkan dari teknologi digital. Kalau membaca tulisan Michael Raditya yang mencoba mencari formulasi, bagaimana kita bisa memberikan konsep tentang virtual liveness. Jadi pelangsungan virtual, apakah bisa menjadi bentuk pengalaman yang sebanding dengan sesuatu yang kita alami langsung di dalam pengalaman menonton teater berbasis panggung. Itu yang bisa membangun energi bersama, memberikan aproksimasi dan sebagai media untuk mengintegrasi kandungan-kandungan diskursif dari petunjuk. Virtuall Liveness di sisi lain adalah sebuah upaya untuk mencoba memberikan aksentuasi kepada fungsi pertunjukan digital sendiri, tetapi yang harus dirubah secara fundamental adalah posisi penonton.
Di dalam teater yang berbasis digital, kita tidak bisa mengasumsikan penonton itu sebagai penonton di dalam teater yang berbasis panggung, karena selama ini yang terjadi adalah teaternya menggunakan media digital, tapi penontonnya masih diposisikan sebagai penonton di dalam teater yang berbasis panggung, penonton itu kemudian bergerak dari fungsinya sebagai the real speak theatre dalam tradisi teater berbasis panggung menjadi pengintip dalam teater yang disampaikan melalui media digital.
Ketika kita menyaksikan pertunjukan digital posisi kita adalah mengintip dalam kepasifan, karena masih berada dalam posisi sebagai penonton speak theatre dalam teater yang berbasis panggung. Jadi untuk mencari virtual Liveness, maka menurut saya harus dicari satu formulasi tentang konsep penonton dan itu harus dirubah secara fundamental. Contoh yang sudah digagas oleh Studio Klampisan dengan konsep “bertukar” merupakan awal untuk menukar posisi penonton bisa menjadi pemain lewat pertunjukan dikonstruksi sebagai Game.
Secara konsep Speak Theatre harus digeser menjadi Speak Actor. Jadi, penonton diposisikan sebagai aktor lain, karena ia bukan lagi menjadi pengintip, tapi bagian yang aktif di dalam medan pertunjukan berbasis digital. Saya kira yang harus dicari landasan teoritiknya bagaimana supaya sifat ephemeral itu masih tetap ada, meskipun di dalam pertunjukan berbasis digital. Artinya, pertunjukan itu memang hanya berlangsung dalam waktu yang secara material sama antara apa yang terjadi di medan digital dengan yang terjadi di medan physical penonton. Ini bagian dari konsep-konsep yang harus dimatangkan, bagaimana supaya konsep ephemeral dapat di pahami dengan mengubah posisi penonton dari speak theatre menjadi speak actor. Artinya, sebuah logika komunikasi baru, dimana penonton itu bukan lagi sebagai pengintip pertunjukan, tapi aktor dari spektrum yang lain.
Ucok: Teater saat ini menjadi kaya dan bereksplorasi menerima situasi pandemi, membuat konsep sinema dicampur dengan konsep teater dan konsep digital dari pertunjukannya sudah cukup menarik menurut aku, dan teman-teman teaterawan sudah membuat karya digital. Problem saat ini adalah respon dari para akademisi untuk membuat studi atau merespon dari teman-teman membuat karya melalui platform baru saat ini.
Kita belum menemukan catatan dari para akademisi memberi reaksi bagi teman-teman yang membuat platform saat ini. Catatan-catatan itu bisa menjadi sebuah bahan kajian tentunya untuk kami yang sudah melakukan proses teater digital. Pertanyaannya adalah, bagaimana merespon ini apakah akan menjadi sebuah catatan studi atau hanya sekedar catatan lisan dalam komunikasi membaca proses daring kreativitas teman-teman teater.
Pak Benny: Harapan dari, Coki itu harapan yang baik bahwa memang fenomena-fenomena pergeseran, di mana adopsi media digital pada seni teater itu harus dicatat, dipelajari. Kalau saya harus jujur pada diri saya sendiri, saya adalah bagian dari generasi literal dan saya tidak bisa beranjak berpura-pura bisa menjadi bagian dari masyarakat digital, karena itu cara saya memandang kehadiran media digital masih saya tatap dalam kesadaran sebagai generasi literal, karena saya mencoba memberikan aspek-aspek interogatif meski belum tentu benar.
Akan sangat berbeda kalau sudut pandangnya disuarakan oleh generasi yang memang terendam lebih menyeluruh dalam pengalaman digital. Mungkin, Dede, yang lebih muda masih bisa bergeser dari aspek-aspek bawaan sebagai generasi literal ke generasi digital. Kalau saya susah menggeser. Di samping aspek-aspek technical dari media digital juga harus dipelajari dan tidak bisa diimprovisasi, sedangkan kosmologi tentang dunia digital tidak bisa pulang-pergi. Saya hanya bisa memposisikan diri saya sebagai bagian dari generasi literal. Kalau saya mempelajari beberapa gejala tentang bagaimana media digital mempengaruhi aspek-aspek dramaturgis teater ke generasi literal.
Tentu kita harus mencari orang-orang akademisi yang berhasil menjalankan rekoneksi keilmuan, karena dunia digital itu dunia rekoneksi, dunia yang menyambungkan berbagai disiplin keilmuan, sehingga kalaupun ada harapan akademisi yang menulis teater digital, menurut pandangan saya harusnya bukan orang teater, melainkan ahli komunikasi visual, ahli desain visual, ahli teknologi algoritma, dan itu yang nanti akan menyumbangkan rekoneksi keilmuan baru pada teater, sebab kalau dari sudut pandang teater pasti yang muncul pertama adalah sikap defensif, kedua sikap yang terlalu mengidealisasi.
Kita tahu, bahwa fenomena adopsi media digital di perkembangan teater Indonesia, sebetulnya memang belum dibarengi oleh produksi pengetahuan. Tidak seimbang antara eksplorasi praktik dengan penajaman diskursusnya. Tidak ada dialektika yang bisa membangun satu akselerasi pengetahuan untuk bisa masuk lebih jauh ke medan digital, mungkin berbeda dengan teater-teater Eropa yang literasi teknologinya, dan proses rekoneksi keilmuannya sudah lebih berjalan antara para seniman teater dengan para ahli teknologi sehingga bentuk-bentuk teater digital di Eropa secara umum sudah melakukan banyak eksplorasi, misalnya, mulai dari penggunaan multimedia kemudian penggunaan syiar atau virtual reality. Ada konsep tentang Liquid arsitektur, ada penggunaan webcam, dan bahkan ada Live Cyber Performent, hal ini didukung oleh literasi teknologi yang terus-menerus di produksi bersama-sama, antara seniman pertunjukan dengan ahli teknologi virtual dan visual.
Bagaimana cara dunia teater bisa mengundang ketertarikan para ilmuwan di bidang teknologi sehingga bisa terjadi rekoneksi keilmuan, ini tugas besar dari visi Perguruan tinggi seni, perguruan tinggi seni memang harus responsif, bagaimana mencoba memberikan bentuk-bentuk program supaya semakin terbentuk rekoneksi keilmuan.
Closing Statement
Pak Beny: Kebudayaan teknologi yang berbasis digital memang secara niscaya akan mempengaruhi aspek kehidupan manusia secara umum, tetapi khususnya di dalam seni teknologi tidak boleh menjadi kekuatan yang mendominasi kemanusiaan kita, karena teknologi memiliki sifat yang reduktif, dan membawa otoritasi manusia meskipun kita harus mengelola kehadiran teknologi digital secara eksploratif. Tetapi kita juga harus memiliki kemampuan, untuk melakukan interogasi terhadap kehadiran dusta dunia digital agar tidak mereduksi, atau membawa otoritas kemanusiaan, sebab yang menjalankan teknologi itu adalah manusia yang harus lebih berperan untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan, bukan sebaliknya.
Dedi Pramayosa: Kalau kita melihat konvensi yang berubah di dalam semesta teater, barangkali konvensi yang sebenarnya kembali ke awal. Tantangan digitalisasi justru bisa mengembalikan kita pada beberapa sifat-sifat ontologis dari teater, dan teater punya sifat semangat eksperimental yang besar dan hadirnya tantangan yang dibawa oleh kemajuan teknologi digital, justru bisa mengintensifkan, dan menguatkan semangat eksperimentasi. Digitalisasi selalu bisa dilihat sebagai suatu tantangan ketimbang sebagai ancaman teater. (*)
Editor : Ina Herdiyana