BANGKALAN, RadarMadura.id – Kesenian kejung layak dibanggakan sebagai warisan budaya leluhur yang harus dilestarikan.
Namun, di Kabupaten Bangkalan belum ada upaya regenerasi serius karena tidak ada generasi muda yang bisa ngejung.
Seni ngejung biasanya dilantunkan dalam pentas seni panggung. Seperti halnya sbobet dalam pentas kesenian sandur.
Pesatnya perkembangan teknologi membuat kesenian tersebut makin asing bagi kalangan anak muda.
Masuknya pertunjukan modern juga menjadi salah satu pemicu menurunnya minat masyarakat terhadap seni kejung.
Hal itu dapat dibuktikan dengan tidak adanya pergelaran terhadap seni Madura itu.
Seniman asal Bangkalan Sudarsono menjelaskan, masyarakat zaman dahulu mempunyai anggapan jika punya acara tidak mengundang kesenian kejung, dianggap tidak kaya.
Bahkan, hajatnya dianggap tidak sah. ”Sehingga, waktu itu kesenian kejung menjanjikan terhadap kehidupan pelaku, artinya dapat dijadikan penopang hidup,” katanya Sabtu (11/5).
Ketua Sanggar Tarara itu menyatakan, kesenian sandur dan kejung mempunyai keterikatan yang erat.
Jika Sandur jarang ditampilkan, maka seni kejung juga akan bernasib sama dan akan semakin asing di telinga anak muda.
”Sebuah grup kesenian itu sebenarnya tidak perlu dihidupkan, banyaknya pergelaran sebenarnya yang akan semakin menghidupkan kesenian itu,” jelasnya.
Baca Juga: Diskan Bangkalan Belum Salurkan Bantuan Pengembangan Budi Daya dari Pemprov Jatim
Meski demikian, tidak ada yang patut disalahkan dengan tidak diminatinya kesenian kejung oleh generasi muda.
Sebab, pelestarian budaya dan tradisi merupakan tanggung jawab semua pihak.
Darso berpendapat, anak muda tidak senang tradisi dan budaya karena beranggapan sudah ketinggalan zaman.
”Sekarang pelakunya sudah sangat sedikit, itu pun sudah tua-tua, jadi sudah saatnya anak muda untuk belajar dan melestarikan tradisi ini,” ujarnya. (c1/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti