BANGKALAN, RadarMadura.id – Lembaga pendidikan yang melaksanakan Program Sekolah Penggerak (PSP) di bawah naungan Dinas Pendidikan (Dispendik) Provinsi Jawa Timur baru dua sekolah. Yakni, SMA Darul Mustofa dan SLBN Keleyan.
Kasi SMA PK PLK Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur (Jatim) Wilayah Bangkalan Moh. Fauzi menyatakan, dua lembaga itu menjadi pelaksana PSP sejak 2022.
Setelah itu tidak ada lagi pendaftaran PSP. Dengan demikian, jumlahnya tetap.
Lembaga pendidikan di bawah naungannya mencapai ratusan. Sedangkan yang melaksanakan PSP hanya dua lembaga, satu lembaga negeri dan satu swasta.
Baca Juga: Honor 198 Operator SIKS-NG Rp 600 Juta, Dinsos Pamekasan Sebut Hanya Cukup Sepuluh Bulan
Fauzi mengungkapkan, ada beberapa kendala yang membuat sekolah pelaksana PSP belum banyak.
Di antaranya, belum memenuhi syarat yang ditentukan. Terutama status dan usia kepala sekolah.
”Misalnya kepala sekolah tidak boleh Plt (pelaksana tugas) dan usia tidak boleh lebih 51 tahun. Namun, waktu itu banyak yang tidak terpenuhi,” jelasnya.
Ada beberapa keunggulan yang didapatkan oleh lembaga pendidikan yang menjadi PSP.
Di antaranya, kolektivitas sekolah lebih besar, mendapatkan bantuan TIK, menerima dana bantuan operasional sekolah (BOS) kinerja, dan mendapat bimbingan dari fasilitator.
Baca Juga: Ratusan PPPK Belum Terima SK, BKPSDM Sampang Sebut Tunggu NIK
”Ketika sekolah jadi PSP, akan mendapatkan fasilitas yang luar biasa. Dapat banyak bantuan. Artinya, bisa menuju program pemerintah yang telah dicanangkan,” ucapnya.
Fauzi menyatakan, ada beberapa sekolah yang saat ini siap didaftarkan menjadi PSP.
Namun, hingga saat ini pendaftaran PSP belum dibuka kembali. Sehingga, yang berjalan tidak hanya Program Guru Penggerak (PGP).
”Saya ingin PGP dan PSP berjalan bersamaan. Apalagi, PSP manfaatnya lebih luas untuk sekolah. Berbeda dengan PGP yang hanya untuk individual,” imbuhnya.
Sementara Kepala SLB Negeri Keleyan Syaiful Huda menyampaikan sekolahnya telah menjadi PSP sejak 2021. Banyak sekali manfaat yang bisa dirasakan menjadi sekolah penggerak.
Terutama sistem pembelajaran yang lebih fokus pada siswa dan membantu kemajuan sekolah.
”Seperti pada PMM (Platform Merdeka Mengajar) kami bisa mendapatkan banyak materi. Selain itu, sekolah ada suasana baru dibanding sebelumnya, yang pembelajarannya lebih berfokus pada siswa,” tandasnya. (ay/jup)
Editor : Fatmasari Margaretta