BANGKALAN, RadarMadura.id – Panahan tradisional atau yang dikenal jemparingan merupakan olahraga unik dan menarik. Selain mengangkat unsur budaya, panahan tradisional ini juga menggambarkan fashion batik.
Ketua Pedepokan Seni dan Budaya Sunggosukmo Bangkalan Muhammad bin Rachmad menyampaikan, dalam setiap perlombaan harus menggunakan pakaian adat. Selain mengangkat nilai tradisi dan budaya, pakaian ini juga menggambarkan jiwa nilai keanggunan, kesopanan, keberanian, dan kesatria.
Baca Juga: Polres Pamekasan Imbau Masyarakat Jaga Keluarga agar Terhindar dari Bahaya Narkoba
”Memanah bukan soal menarik anak panah saja, melainkan bagaimana ada nilai di baliknya,” katanya.
Pakaian adat yang digunakan disesuaikan dengan pakaian khas daerah tersendiri. Khusus di Madura, atlet jemparingan akan menggunakan pakaian nyutro untuk laki-laki dan kebaya untuk perempuan. Tren fashion yang bisa ditonjolkan dalam pakaian adat ini adalah komposisi batik kontemporer, khususnya batik khas Madura.
”Semua ada filosofisnya. Termasuk warna yang digunakan itu menggambarkan keberanian untuk warna merah yang dominan di pakaian ini,” tambahnya.
Penggunaan batik pada pakaian panahan ini terletak pada sampir dan ikat kepala. Pakaian perempuan komposisi batik ada pada sampir dan ikat kepala yang khas. Misalnya untuk bawahan perempuan yang menikah dan belum menikah itu berbeda pada ukuran.
”Untuk bawahan perempuan muda atau belum menikah itu boleh sampai lutut, tapi jika sudah menikah harus sampai mata kaki,” ucap pria yang juga pembina Persatuan Panahan Tradisional (Perpatri) Bangkalan itu.
Perempuan yang sudah menikah harus menggunakan pakaian lebih tertutup. Jika menggunakan sampir harus lebih panjang dan harus ada wiru atau wiron. ”Wiru itu lipatan yang ada di depan sampir, jumlahnya harus ganjil. Untuk perempuan lipatan harus dari kiri,” terangnya.
Baca Juga: 43 Tim Futsal Pamekasan Semarakkan Jawara Cup
Pria yang akrab dipanggil Aang itu mengatakan, ikat kepala perempuan diberikan kebebasan. Namun, harus berbahan batik sebagai identitas keberanian perempuan Madura. Bisa menggunakan odheng atau kain biasa yang diikatkan pada kepala.
Sementara untuk pakaian pria telah menjadi pakem dan tidak bisa diinovasikan. Seperti menggunakan pakaian adat nyutro, menggunakan tongkos, sampir, kaus, dan celana. Untuk pria yang sudah menikah, wajib menggunakan sampir batik sepanjang mata kaki dengan wiru terlipat dari kanan. ”Terlebih, sampir batik yang digunakan tidak boleh dijahit. Ini untuk menghargai perajinnya.” (ay/luq)
Editor : Fatmasari Margaretta