BANGKALAN, RadarMadura.id – Kreativitas istri nelayan tidak hanya membuat makanan hasil laut. Namun, juga mampu mendatangkan cuan dari hasil laut.
Misalnya membuat olahan kerupuk dari sejumlah hewan laut.
Salah satu pelaku usaha hasil laut itu Siama, warga Desa Junganyar, Kecamatan Socah, Bangkalan.
Sebelum membuka usaha sendiri, dia hanya mengirim hasil tangkap suaminya untuk dijual kepada pengepul. Sedangkan hasilnya tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari.
”Sekarang, karena demi kebutuhan keluarga, jadi berinisiatif diolah dan dijual sendiri,” katanya Sabtu (16/12).
Hasil laut yang diolah menjadi kerupuk berasal dari teripang atau terung. Selain itu, mengolah ikan laut menjadi gimbal ikan layur, kerupuk udang, dan kerupuk kerang.
Hasil laut ini sebagian digoreng dengan pasir yang kemudian dilanjutkan dengan minyak goreng.
”D isini juga ada kerupuk jarot yang kami olah dari urat teripang yang paling best seller,” tambahnya.
Siama hampir memproduksi setiap hari. Sekali memproduksi lebih dari satu kilogram mentahan hewan laut atau ikan laut.
Hal itu dikarenakan permintaan konsumen cukup banyak. Hasil produksinya sudah masuk pasar Jember, Pasuruan, dan daerah lain.
”Dulu sebelum berjualan, hanya produksi setiap setahun sekali. Sekarang karena permintaan pembeli, jadi setiap hari produksi dan jualan,” ungkap perempuan 38 tahun itu.
Perempuan tiga anak itu mengatakan, kerupuk olahan ikan laut buatannya dinilai lebih murah dan enak dari kerupuk olahan laut lainnya.
Rasa kerupuknya yang gurih dan renyah hanya dipatok dari harga Rp 10 ribu hingga Rp 35 ribu. Bergantung jumlah ukuran pada kemasan.
”Jika jarot itu dari Rp 22 ribu isi 80 gram, kerupuk udang dan kerang itu Rp 10 ribu untuk 120 gram, dan lain sebagainya,” ucapnya.
Siama menyampaikan, dalam satu bulan mengumpulkan omzet sekitar Rp 1,5 juta. Sedangkan untungnya bekisar Rp 1 juta dalam satu bulan.
Dia bersyukur karena mampu membantu suami dan memenuhi kebutuhan keluarga.
”Alhamdulillah banyak yang suka, jadi bisa bertahan hingga satu tahun ini. Sehingga, tidak perlu memikirkan uang jajan,” tuturnya. (ay/luq)
Editor : Abdul Basri