BANGKALAN, RadarMadura.id – Tanaman salak di Kabupaten Bangkalan melimpah. Potensi tersebut kemudian dikembangkan menjadi sejumlah olahan makanan seperti kue bakpia. Hasilnya cukup mendatangkan rupiah.
Pemilik Usaha Anna Kue Pia Bangkalan Sri Hayati menyampaikan, menekuni kue bakpia salak atas inisiatif sendiri untuk mengisi kekosongan saat pandemi. Inisiaif itu muncul karena melihat buah salak yang sangat melimpah.
”Saya lihat buah salak ini dibuang-buang, karena memang peminatnya kurang,” katanya Sabtu (18/11).
Hayati ingin menyuguhkan buah salak dengan cara lain. Yakni, dengan diolah menjadi bakpia. Yakni, adonan bakpia yang di dalamnya berisi selai salak.
”Rasa keasamannya tidak saya hilangkan, tapi tetap diimbangkan dengan rasa manis,” tambahnya.
Pembuatan kue bakpia harus melewati sejumlah tahapan. Buah salak yang dipilih harus berkualitas agar cita rasa yang disajikan enak dan nikmat. ”Alhamdulillah, saya berhasil mempertahankan cita rasa dan keawetan kue,” terangnya.
Satu pak bakpia dipatok Rp 15 ribu berisi 12 kue. Pemasarannya mulai berkembang di sejumlah pertokoan lokal.
”Karena kue ini merupakan olahan salak yang banyak ditemui di Bangkalan, saya ingin kue ini menjadi ikon Kota Bangkalan,” paparnya.
Sekali produksi, Hayati bisa memperoleh 12 pak. Setiap produksi, dia bisa meraup untung Rp 500 ribu.
”Saya belum bisa merekrut karyawan, jadi produksinya terbatas. Tapi, pernah ada pesanan 350 pak, alhamdulillah saya bisa menyelesaikan,” pungkasnya. (ay/pen)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti