BANGKALAN, RadarMadura.id – Budayawan dan tokoh masyarakat ambil bagian dalam HUT Ke-78 Hari Kemerdekaan RI. Mereka melaksanakan upacara kemerdekaan di halaman Museum Mini Ambyar, Desa Langkap, Kecamatan Burneh, Bangkalan. Kemudian, dilanjutkan dengan ramah tamah dan pengajian dengan topik mensyukuri kemerdekaan.
Pendiri Museum Mini Ambyar Nyamil menyampaikan, peserta upacara tahun ini lebih sedikit daripada tahun sebelumnya. Sebab, masyarakat mengikuti upacara yang dilaksanakan instansi masing-masing, baik pemerintah kabupaten (pemkab), pemerintah kecamatan, maupun pemerintah desa (pemdes). Sementara tahun lalu masih pandemi sehingga banyak pegawai instansi pemerintah yang bergabung mengikuti upacara di Museum Mini Ambyar.
Nyamil menjelaskan, kemerdekaan Indonesia ini harus diteruskan. Paling tidak, bisa setara dengan negara-negara maju. Karena itu, semua pihak harus mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal positif.
Sementara budayawan Sri Suryo menjelaskan, kemerdekaan sesungguhnya terletak pada jiwa, bukan sekadar gerak badan. Merdeka secara umum yaitu ketika pemerintah mampu menunjang kebutuhan rakyat (masyarakat). Kemudian, masyarakat bisa memanfaatkan untuk keberlangsungan hidup sejahtera.
Peserta upacara dari Pamekasan Imam Syafii menuturkan, arti proklamasi kemerdekaan yaitu harus menjaga persatuan dan kesatuan. ”Kita harus lebih baik lagi mempertahankan kemerdekaan yang sudah berhasil direbut dengan berdarah-darah ini,” ucapnya.
Sementara Kiai Masudi selaku penceramah memaknai kemerdekaan sebagai rahmat dari Allah mulai 1945 sampai hari kiamat. Merah Putih merupakan simbol. Merah adalah darah yang mengalir, sedangkan putih adalah hati nurani yang ikhlas.
”Saat menghormat bendera, janganlah sekedar menghormat kainnya, tetapi hormatlah pada pahlawan-pahlawan yang telah mengorbankan darah dan hartanya untuk kemerdekaan Indonesia ini,” pesannya. (luq)
Editor : Berta SL Danafia