Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Milenial Madura dan Masa Depan

Abdul Basri • Selasa, 14 Februari 2023 | 17:41 WIB
Photo
Photo
Oleh M. H. Said Abdullah

ADALAH Alexis Abramson, seorang ahli pengelompokan generasi (generational cohorts) yang membagi generasi berdasarkan waktu kelahiran dan kecenderungan karakternya. Ia mengelompokkan generasi dalam lima kelompok. Yakni, generasi baby boomer yang lahir pada rentang 1946–1964. Berikutnya generasi X yang lahir di rentang 1965–1980, generasi Y atau milenial dilahirkan pada tahun 1981–1994, generasi Z lahir pada 1995–2010, dan generasi alpha 2011 sampai sekarang.

Pembagian periode waktu dan karakter ini lebih merujuk pada intensitas interaksi mereka terhadap teknologi dan karena interaksi itu membentuk pola hidup dan karakter sehari-hari. Artinya, dulu mereka yang sehari-hari bersentuhan dengan mesin ketik sangat berbeda dengan generasi sekarang yang bersentuhan dengan compact device yang didukung dengan artificial intelligence, bahkan peradabannya juga telah jauh berbeda.

Istilah milenial dipopulerkan oleh penulis William Strauss dan Neil Howe dalam bukunya The History of America’s Future Generations, 1584 to 2069 yang diterbitkan tahun 1991 dan Millennials Rising: The Next Great Generation yang diterbitkan tahun 2000. Pasca terbitnya dua buku ini, dunia jurnalistik banyak merujuk dan menggunakan istilah milenial. Majalah Time pada 2003 membuat ulasan tentang milenial bertajuk Me Me Me Generation.

Straus dan Howe mengakui bahwa generasi Y dan Z cukup sulit untuk dibedakan. Perbedaan itu sedikit terlihat ketika generasi Y dan Z sudah sama-sama menginjak usia dewasa. Saya lebih sepakat era milenial justru sampai pada era awal 2000-an. Sebab itu, sangat masuk akal bila generasi Y dan Z masuk generasi milenial, bukan hanya generasi Y. Saya mendasarkan asumsi ini pada kategori yang dibuat oleh United State Census Bureau (USCB), yang merentangkan umur milenial merujuk pada kelahiran 1982–2000.

Ramai menjadi pergunjingan publik dunia, Jean Twenge mengkritik konsep tentang milenial dalam bukunya Generation Me: Why Today Young American Ar More Confident, Assertive, Entitled, and More Miserable Than Ever Before tahun 2006. Menurut Twenge, milenial adalah mereka yang berusia 10–20 tahun saat tragedi runtuhnya menara WTC di New York pada 11 September 2001 atau 9/11.

Twenge sosok psikolog. Karena itu, ia menandai peristiwa 9/11 punya pengaruh besar atas karakter anak-anak muda Amerika Serikat. Merujuk pada rentang waktu ini, maka kategori yang dibuat Twenge meletakkan era milenial otomatis hingga di awal 2000.

Jika kita meletakkan generasi milenial adalah mereka yang lahir di rentang 1981–2000, umur mereka saat ini antara 23–42 tahun. Merujuk rentang usia ini, milenial termuda saat ini telah fresh graduate, bagi yang menempuh kesarjanaan. Sementara generasi milenial tertua sedang menapaki kematangan jiwanya di awal 40-an tahun.

Milenial Agraris

Seluruh narasi tentang milenialitas memang cenderung bias kota (urban) karena meletakkan teknologi digital sebagai habitus yang membentuk kebiasaan mereka sehari-hari. Seperti yang digambarkan dalam berbagai literatur, generasi milenial punya hubungan dengan kebudayaan global melalui jejaring virtual. Sebab, relasi global membentuk cara berpikir yang open minded, terbuka terhadap nilai-nilai baru.

Kebiasaan serbavirtual menempatkan generasi milenial terbiasa dengan keseluruhan layanan online. Mulai bulanja, pemanfaatan transportasi, berkorespondensi, bahkan cenderung narsis karena merambahnya media sosial yang dengan mudah memberi tempat ”ekspresi diri”. Kemudahan layanan sosial di berbagai ruang membuat milenial cenderung akrab dengan budaya instan.

Sangat terlihat, narasi ini bisa bertolak belakang dengan situasi milenial di kampung halaman saya di Sumenep, apalagi di daerah Kangean. Jangankan mengakrabi layanan online, internet saja belum mencakup keseluruhan wilayah yang terbagi dalam 48 pulau berpenghuni dari 129 keseluruhan pulau. Sejak masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, baru gencar dibangun jaringan internet di wilayah 3 T (terluar, terpencil, dan terdepan). Namun, tahapan 100 persen wilayah Indonesia terlayani internet belum tuntas, termasuk di kawasan Kangean.

Tantangan demografis bagi generasi milenial, terkhusus di Madura adalah meningkatkan tingkat pendidikan mereka. Dengan tingkat pendidikan yang lebih berkualitas, harapan mereka menangkap peluang masa depan lebih baik dan semakin terbuka lebar. Pendidikan berkualitas membekali mereka keahlian yang diharapkan kompatibel dengan pasar lapangan kerja, khususnya di sektor formal.

Kita tidak berpuas diri walaupun tingkat pengangguran di Madura rendah. Merujuk pada data BPS, hanya di Bangkalan (2022) yang relatif tinggi, yakni 8,05 persen. Sementara Sampang 3,11 persen; Pamekasan 1,40 persen; dan Sumenep 1,36 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibanding Jawa Timur 5,49 persen dan nasional 5,86 persen.

Bukan hanya tingkat pengangguran di Madura yang relatif rendah, rata rata pendapatan bersih warga di Madura juga jauh lebih baik dibanding wilayah lain di Jawa Timur. Rata rata pendapatan bersih warga Madura per bulan di Bangkalan Rp 1,8 juta; Sampang Rp 1,4 juta; Pamekasan Rp 1,5 juta; dan Sumenep Rp 1,78 juta. Sedangkan rerata Jawa Timur sebesar Rp 1,45 juta. Tingkat penghasilan ini dirujuk pada pendapatan mereka di sektor formal.

Namun, ada sejumlah tantangan lain yang harus dibenahi, khususnya bagi perbaikan kualitas hidup generasi milenial Madura, bahkan generasi alpha sebagai penerus. Angka kemiskinan di Madura sangat tinggi dibandingkan dengan kawasan lain di Jawa Timur. Tingkat kemiskinan di Bangkalan 2021 mencapai 21,57 persen; Sampang 23,76 persen; Pamekasan 15,3 persen; dan Sumenep 20,5 persen, sedangkan Jatim 11,4 persen dan nasional 9,7 persen.

Jika ditengok berdasarkan tingkat pendapatan rerata per bulan yang tinggi, lantas mengapa tingkat kemiskinan di Madura juga tinggi? Bukankah dengan tingkat pendapatan yang tinggi dan pengangguran yang rendah seharusnya menurunkan tingkat kemiskinan? Untuk mengukur tingkat kemiskinan, BPS menggunakan dasar perhitungan pada tingkat konsumsi mereka rerata per hari.

Kemungkinan besar, banyak sekali sektor informal yang menopang daya hidup ekonomi orang Madura dan hal ini tidak terekam cukup utuh oleh survei BPS. Selain itu, kebiasaan kultural orang Madura yang hemat terhadap pola konsumsi. Jadi, sangat masuk akal jika dalam perhitungan tingkat konsumsi orang Madura yang rendah, terutama terhadap mereka yang melewati fase angkatan kerja, lalu hal ini direkam oleh BPS sebagai kelompok rumah tangga miskin.

Agar usia produktif yang kita definisikan kelompok milenial pada tulisan ini, yang setidaknya dua hingga tiga dekade ke depan masih memegang peran penting atas masa depan Madura, bisa mendapatkan layanan pendidikan dan kesehatan yang terus membaik. Dengan bekal indeks pembangunan manusia (IPM) yang baik, seharusnya kualitas hidup dan masa depan Madura juga semakin baik. (*)

*)Anggota DPR RI, Wakil PDI Perjuangan Asal Madura

  Editor : Abdul Basri
#ketua banggar dpr ri said abdullah #MH Said Abdullah #madura