Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Plus Minus Jalur Laut dan Udara Menuju Kepulauan di Sumenep

Abdul Basri • Senin, 30 September 2019 | 20:47 WIB
Plus Minus Jalur Laut dan Udara Menuju Kepulauan di Sumenep
Plus Minus Jalur Laut dan Udara Menuju Kepulauan di Sumenep

Terdapat 126 pulau di Sumenep. Namun, yang berpenghungi 48 pulau. Sebelum ada jasa transportasi udara, masyarakat kepulauan hanya mengandalkan jalur laut. Mereka sudah terbiasa menempuh waktu perjalanan hingga berjam-jam mengarungi lautan.


UNTUK pertama kalinya pemerintah resmi membuka pelayanan penerbangan umum ke kepulauan, Rabu (25/9). Yakni, rute Sumenep–Pagerungan. Penerbangan dilakukan setelah pengalihan status bandara khusus Pagerungan menjadi bandara umum.


Secara efisiensi waktu, jalur udara menjamin kecepatan menempuh perjalanan jarak jauh dari salah satu kepulauan di Kecamatan Sapeken. Menggunakan pesawat perintis dari maskapai Susi Air, Sumenep–Pagerungan mampu ditempuh sekitar 55 menit. Hanya, harga tiket memang lebih mahal dibandingkan jalur laut.


Berdasarkan jadwal yang ditetapkan maskapai, pesawat dijadwalkan berangkat setiap Rabu pukul 09.00 dari Bandara Trunojoyo, Sumenep. Diperkirakan tiba di Bandara Pagerungan pukul 09.55. Kemudian pesawat akan kembali ke Sumenep pukul 10.25 dan diperkirakan sampai di Bandara Trunojoyo pukul 11.20.


Sementara untuk jalur laut, banyak armada kapal yang melayani penyeberangan ke sejumlah kepulauan. Di antaranya Kapal Motor (KM) Sabuk Nusantara yang biasa beroperasi sepekan sekali. Jadwal keberangkatan kapal ini menyesuaikan dengan ketentuan dari operator.


Kemudian, KMP Dharma Bahari Sumekar (DBS) III juga berlayar sepekan sekali setiap Kamis. Sedangkan KMP DBS I beroperasi tiga kali sepekan, yakni pada Minggu, Selasa, dan Jumat. Ada juga KM Express Bahari yang beroperasi tiga kali dalam sepekan, yakni setiap Senin, Kamis, dan Sabtu.


Untuk harga tiket penyeberangan bervariasi. Mulai dari harga termurah Rp 18 ribu hingga Rp 207 ribu. Menyesuaikan dengan rute penyeberangan dan kapal yang beroperasi. Waktu tempuh perjalanannya juga berbeda-beda (selengkapnya lihat grafis).


Kepala Unit Penyelenggara Bandara Kelas III Trunojoyo Sumenep Indra Triyantono menyampaikan, dengan adanya penerbangan Sumenep–Pagerungan, diharapkan bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat, khususnya masyarakat di kepulauan.


Mengingat, perjuangan untuk membuka penerbangan tersebut tidak mudah dan membutuhkan waktu lama. ”Dua tahun kami bersama Pemkab Sumenep memperjuangkan agar ada penerbangan ini. Jadi harus benar-benar dimanfaatkan,” ungkap Indra kemarin (29/9).


Sumenep kini memiliki rute penerbangan Sumenep–Pagerungan dan Sumenep–Bawean yang dilayani pesawat perintis Susi Air. Kemudian untuk rute Sumenep–Surabaya dilayani pesawat Wings Air. ”Kami berharap antusias masyarakat untuk memanfaatkan jalur penerbangan semakin bertambah,” harap Indra.


Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Sumenep Agustino Sulasno mengatakan, selama ini untuk ke wilayah Sapeken dilayani transportasi laut. Biasanya, waktu tempuh bisa mencapai di atas 12 jam.


Dengan dibukanya rute penerbangan ini, diharapkan masyarakat di Kecamatan Sapeken dan sekitarnya bisa memanfaatkan moda transportasi udara tersebut. ”Untuk bisa memperpendek waktu tempuh menuju pusat kota Sumenep. Untuk Kangean dan Masalembu insyaallah akan mulai dibuka tahun 2020 mendatang,” kata pria yang akrab disapa Agus itu.


Diterangkan, jika animo masyarakat tinggi, pemerintah akan tambah jadwal penerbangan ke wilayah tersebut. Dengan demikian, pesawat tidak hanya terbang sepekan sekali, melainkan bisa dua sampai tiga kali. Pihaknya mengaku akan melihat antusias masyarakat untuk menggunakan jasa transportasi udara dalam jangka waktu satu bulan ke depan.


”Apalagi harga tiket masih terjangkau. Bandingkan saja, jalur laut harus ditempuh dengan waktu belasan jam, sedangkan melalui jalur udara sekitar satu jam saja,” terangnya.


Memang, lanjut Agus, daya tampung pesawat perintis ini terbatas. Hanya 10 kursi untuk penumpang. Meski demikian, pihaknya meyakini pengguna jasa penerbangan Sumenep–Pagerungan akan sangat antusias. Terlihat dari jalur penyeberangan laut yang setiap harinya selalu banyak penumpang.


”Kapal Express saja, yang tiketnya tidak jauh berbeda dengan pesawat perintis ini masih banyak yang memanfaatkan. Dengan selisih waktu tempuh yang lebih cepat,” ucap Agus.


Inspektur Angkutan Udara Direktorat Angkutan Udara Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Andy Ardy memaparkan, dengan kondisi normal, pesawat perintis bisa melayani penerbangan sesuai jadwal. Namun, kendala transportasi udara tidak jauh berbeda dengan jalur laut.


Pesawat berpotensi membatalkan penerbangan jika kondisi cuaca kurang bersahabat. Terlebih pada musim penghujan.


Jika jalur laut harus berhadapan dengan angin kencang dan gelombang tinggi. Sementara di jalur udara, angin kencang juga berpotensi membahayakan penerbangan.


Menurutnya, pada kondisi cuaca seperti ini pilot akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memastikan jalur yang akan dilalui aman. ”Kalau sudah dikonfirmasi tidak membahayakan, pesawat bisa melanjutkan perjalanan. Cuaca buruk tentu tetap jadi perhatian,” paparnya.

Editor : Abdul Basri