SUMENEP – Musim tembakau sudah tiba. Para petani mulai melakukan pembibitan. Seperti dilakukan H. Salim, warga Kecamatan Batuan. Pria kelahiran 1955 itu mulai melakukan pembibitan tembakau di Desa Torbang, Kecamatan Batuan, Sumenep, Kamis (3/5).
Kepada Jawa Pos Radar Madura, Salim bercerita bahwa dirinya menanam sekitar satu kilo biji tembakau. Biji tersebut bukan bantuan dari pemerintah. Melainkan biji yang disimpannya sejak musim tembakau tahun lalu.
”Saya setiap musim tembakau biasanya memang selalu melakukan pembibitan,” kata Salim.
Banyak keuntungan yang bisa diperoleh dengan melakukan pembibitan tembakau. Dari satu kilo biji tembakau bisa menghasilkan ratusan ribu bibit. Biayanya pun tidak terelalu mahal.
Harga bibit tembakau setiap tahun mengalami fluktuasi. Di awal musim biasanya cukup mahal. Itu terjadi manakala musim kemarau berjalan normal. Berbeda saat musim kemarau basah, harga bibit biasanya di awal musim murah.
”Harga normal antara Rp 35 ribu sampai Rp 40 ribu di awal masa tanam per seribu pohon. Di pertengahan biasanya Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu,” jelasnya. ”Kalau bibitnya langka bisa mencapai Rp 50 ribu lebih,” tegasnya.
Pembibitan bisa membutuhkan waktu antara 40–50 hari. Dengan demikian, jika melakukan pembibitan sekarang, baru bisa ditanam akhir Ramadan. ”Kalau sebelum Ramadan sepertinya belum ada yang bisa ditanam,” paparnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kasi Tanaman Semusim Dispertapahorbun Sumenep Bejo Budiono belum bisa memastikan kapan awal tanam tembakau yang baik. Sebab, dirinya masih belum mendapat informasi dari BMKG Surabaya. Pihaknya hanya bisa memprediksi sesuai dengan cuaca yang ada sekarang.
Menurut dia, jika cuaca kemarau normal, pertengahan Mei sudah bisa dilakukan penanaman tembakau. ”Kalau tetap tidak hujan, pada pertengahan Mei ini sudah bisa menanam,” katanya. ”Namun, sebaiknya para petani menunggu informasi dulu sebelum melakukan tanam tembakau,” tukasnya.
Editor : Abdul Basri