alexametrics
19 C
Madura
Thursday, June 30, 2022

Jenazah Warga Saobi Tak Dibawa Pulang

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Duka keluarga Aliana berlipat-lipat. Pasalnya, jenazah pasien rujukan dari Pulau Kangean itu tidak bisa dibawa pulang ke Desa/Saobi, Kecamatan Kangayan. Penyebabnya, cuaca di perairan Sumenep saat ini tidak memungkinan untuk dunia pelayaran.

Heri Susanto, perwakilan keluarga mengatakan, kerabat di tanah kelahirannya sangat berharap agar jenazah Aliana dimakamkan di Desa Saobi. Mereka sangat ingin ada kapal yang berlayar dari Pelabuhan Kalianget ke Pulau Kangean. Namun, kondisi cuaca sedang ekstrem.

Menurut dia, selain terhalang cuaca, kapal feri tidak bisa digunakan untuk mengangkut jenazah. Rencana awal jenazah akan diberangkatkan dari Pelabuhan Kalianget dini hari kemarin. Namun, upaya itu gagal.

”Sebenarnya ada ambulans laut punya masyarakat Kangean. Tetapi cuaca saat ini masih buruk,” terangnya kemarin (29/1).

Badan Klimatologi, Meteorologi, dan Geofisika (BKMG) mengeluarkan imbauan untuk tidak melakukan pelayaran hingga beberapa hari ke depan. Karena kondisi cuaca tidak mendukung, pihak keluarga memutuskan untuk memakamkan jenazah Aliana di Pulau Poteran. Sebelumnya, jenazah disucikan di RSUD dr H Moh. Anwar Sumenep.

Baca Juga :  Tiga Ribu Pelanggan di Kangean Jadi Prioritas PLN

”Aliana dikebumikan di Talango karena memiliki kerabat di sana. Dari Kalianget ke Talango naik tongkang,” imbuhnya. Proses pemakaman dilangsungkan sekitar pukul 20.00.

Proses pemakaman tidak disaksikan keluarga besar. Anak dan ayah Aliana masih berada di Saobi. Mereka juga tidak bisa berlayar karena tidak ada kapal menyeberang. ”Yang ikut ke pemakaman suami dan ibunya,” ucap Heri.

Aliana berasal dari Desa/Pulau Saobi, Kecamatan Kangayan. Dia menikah sebelum lulus dari bangku SMA. Wanita berkerudung ini memiliki satu anak laki-laki. Saat ini berumur 18 bulan. Keseharian Aliana sebagai ibu rumah tangga.

Sebelumnya, perempuan 17 tahun itu dirawat di Puskesmas Kangayan selama 10 hari. Selama sepuluh hari dirawat di puskesmas tidak ada ada tanda-tanda membaik. Bahkan, kondisinya semakin memburuk sehingga dirujuk ke Rumah Sakit Abuya di Kecamatan Arjasa.

Baru dua hari dirawat di rumah sakit baru itu kemudian diminta untuk dirujuk ke rumah sakit di daratan. Sebab, hemoglobinnya (Hb) rendah. Hanya 3,7 gram/deciliter (g/dl). Selain itu, perlu dilakukan transfusi darah. Di Kangean stok darah tidak tersedia.

Baca Juga :  Pasien Meninggal setelah Melahirkan

Karena itu, ibu satu anak itu dirujuk ke RSI Garam Kalianget. Tetapi, saat perjalanan menuju daratan, nyawanya tidak terrolong. Aliana meninggal sekitar pukul 04.30. Saat itu KMP Dharma Bahari Sumekar III yang membawanya sudah masuk ke perairan Kalianget.

KMPDharma Bahari Sumekar III berlayar dari Pulau Kangean menuju Pelabuhan Kalianget. Kapal buatan PT Adiluhung Saranasegara Indonesia (ASSI) Bangkalan itu menempuh perjalanan sekitar 8 hingga 9 jam.Setelah kapal bersandar ke dermaga pelabuhan, jenazah Aliana digotong ke salah satu rumah warga.

Keluarga Aliana berharap rumah sakit di kepulauan milik pemerintah segera dilengkapi fasilitas kesehatan yang memadai. Dengan begitu, pasien tidak perlu dirujuk ke daratan. Apalagi, tempat tinggal masyarakat tersebar di pulau-pulau kecil. Untuk menuju pulau yang menjadi pusat kota kecamatan butuh nyali untuk menyeberangi laut. (mi)

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Duka keluarga Aliana berlipat-lipat. Pasalnya, jenazah pasien rujukan dari Pulau Kangean itu tidak bisa dibawa pulang ke Desa/Saobi, Kecamatan Kangayan. Penyebabnya, cuaca di perairan Sumenep saat ini tidak memungkinan untuk dunia pelayaran.

Heri Susanto, perwakilan keluarga mengatakan, kerabat di tanah kelahirannya sangat berharap agar jenazah Aliana dimakamkan di Desa Saobi. Mereka sangat ingin ada kapal yang berlayar dari Pelabuhan Kalianget ke Pulau Kangean. Namun, kondisi cuaca sedang ekstrem.

Menurut dia, selain terhalang cuaca, kapal feri tidak bisa digunakan untuk mengangkut jenazah. Rencana awal jenazah akan diberangkatkan dari Pelabuhan Kalianget dini hari kemarin. Namun, upaya itu gagal.


”Sebenarnya ada ambulans laut punya masyarakat Kangean. Tetapi cuaca saat ini masih buruk,” terangnya kemarin (29/1).

Badan Klimatologi, Meteorologi, dan Geofisika (BKMG) mengeluarkan imbauan untuk tidak melakukan pelayaran hingga beberapa hari ke depan. Karena kondisi cuaca tidak mendukung, pihak keluarga memutuskan untuk memakamkan jenazah Aliana di Pulau Poteran. Sebelumnya, jenazah disucikan di RSUD dr H Moh. Anwar Sumenep.

Baca Juga :  Diskop Sumenep Komitmen Tumbuh Kembangkan UMKM

”Aliana dikebumikan di Talango karena memiliki kerabat di sana. Dari Kalianget ke Talango naik tongkang,” imbuhnya. Proses pemakaman dilangsungkan sekitar pukul 20.00.

Proses pemakaman tidak disaksikan keluarga besar. Anak dan ayah Aliana masih berada di Saobi. Mereka juga tidak bisa berlayar karena tidak ada kapal menyeberang. ”Yang ikut ke pemakaman suami dan ibunya,” ucap Heri.

Aliana berasal dari Desa/Pulau Saobi, Kecamatan Kangayan. Dia menikah sebelum lulus dari bangku SMA. Wanita berkerudung ini memiliki satu anak laki-laki. Saat ini berumur 18 bulan. Keseharian Aliana sebagai ibu rumah tangga.

Sebelumnya, perempuan 17 tahun itu dirawat di Puskesmas Kangayan selama 10 hari. Selama sepuluh hari dirawat di puskesmas tidak ada ada tanda-tanda membaik. Bahkan, kondisinya semakin memburuk sehingga dirujuk ke Rumah Sakit Abuya di Kecamatan Arjasa.

Baru dua hari dirawat di rumah sakit baru itu kemudian diminta untuk dirujuk ke rumah sakit di daratan. Sebab, hemoglobinnya (Hb) rendah. Hanya 3,7 gram/deciliter (g/dl). Selain itu, perlu dilakukan transfusi darah. Di Kangean stok darah tidak tersedia.

Baca Juga :  Bisa Dibuktikan dengan Tes DNA

Karena itu, ibu satu anak itu dirujuk ke RSI Garam Kalianget. Tetapi, saat perjalanan menuju daratan, nyawanya tidak terrolong. Aliana meninggal sekitar pukul 04.30. Saat itu KMP Dharma Bahari Sumekar III yang membawanya sudah masuk ke perairan Kalianget.

KMPDharma Bahari Sumekar III berlayar dari Pulau Kangean menuju Pelabuhan Kalianget. Kapal buatan PT Adiluhung Saranasegara Indonesia (ASSI) Bangkalan itu menempuh perjalanan sekitar 8 hingga 9 jam.Setelah kapal bersandar ke dermaga pelabuhan, jenazah Aliana digotong ke salah satu rumah warga.

Keluarga Aliana berharap rumah sakit di kepulauan milik pemerintah segera dilengkapi fasilitas kesehatan yang memadai. Dengan begitu, pasien tidak perlu dirujuk ke daratan. Apalagi, tempat tinggal masyarakat tersebar di pulau-pulau kecil. Untuk menuju pulau yang menjadi pusat kota kecamatan butuh nyali untuk menyeberangi laut. (mi)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/