21.6 C
Madura
Sunday, May 28, 2023

Tak Tebus Rastra Berarti Pemdes Abaikan Hak Gakin

SUMENEP – Persoalan distribusi bantuan beras sejahtera (rastra) tak kunjung selesai. Rendahnya penebusan beras hingga saat ini menjadi masalah kronis. Bahkan, ada desa yang tidak pernah menebus sama sekali dalam setahun.

Sejak Januari, serapan rastra di Sumenep baru mencapai 72,46 persen atau 16.697.100 ton dari 23.042.880 ton selama 2017. Batas akhir penebusan hingga 15 Desember 2017. Sisa 6.345.780 ton beras di bulog terancam hangus.

Kabag Perekonomian Setkab Sumenep Mustangin melalui Plt Kasubbag Sarana Perekonomian Suharjono mengatakan, pemerintah daerah telah mengingatkan tim rastra di desa dan kecamatan. Mereka diimbau segera melakukan penebusan.

Namun, upaya itu tidak berhasil maksimal. ”Kami sudah melakukan sosialisasi dan selalu berkoordinasi agar semua desa bisa menebus secara penuh,” katanya.

Baca Juga :  Terobos Tembok, Mobil Jadi Begini

Jika tidak ditebus hingga batas akhir tahun, rastra tersebut hangus. Dia mengungkapkan, ada desa yang belum melakukan penebusan secara tuntas. Bahkan, Desa Marengan Daya dan Desa Pamolokan, Kecamatan Kota, tidak menebus sejak Januari.

”Kalau tim rastra desa tidak menebus jatah rastra, berarti kan sudah mengabaikan hak warganya yang masuk pada penerima manfaat. Harusnya, rastra itu ditebus setiap bulan karena tujuan utamanya adalah meringankan beban mereka,” ucapnya.

Sejak awal tahun desa di 27 kecamatan daratan dan kepulauan mayoritas tidak melakukan penebusan secara aktif. Rastra itu tidak sampai tepat waktu kepada keluarga miskin (gakin) selaku penerima manfaat. Padahal, pemerintah menginginkan, program tersebut terealisasi tepat sasaran dan tepat waktu.

Baca Juga :  Tercium Pungli Blangko Ijazah MA

”Secara ideal tim rastra desa memang menebusnya setiap bulan agar penerima manfaat benar-benar merasa terbantu dengan adanya program pemerintah tersebut. Sementara ini, di Sumenep penebusan rastra itu terjadi penumpukan di akhir-akhir tahun,” tegasnya.

Pihaknya berharap, tim rastra desa terus melakukan penebusan hingga tuntas. Jika ada desa yang sampai tidak menebus secara tuntas, apalagi sampai tidak menebus sama sekali akan berdampak pada bantuan rastra tahun berikutnya.

”Semoga tim rastra di desa masih memikirkan nasib rakyatnya yang tercatat sebagai penerima manfaat sehingga melakukan penebusan. Penerima manfaat pasti sangat berharap akan adanya rastra itu. Apalagi saat ini baru masuk musim tanam,” tandasnya.

SUMENEP – Persoalan distribusi bantuan beras sejahtera (rastra) tak kunjung selesai. Rendahnya penebusan beras hingga saat ini menjadi masalah kronis. Bahkan, ada desa yang tidak pernah menebus sama sekali dalam setahun.

Sejak Januari, serapan rastra di Sumenep baru mencapai 72,46 persen atau 16.697.100 ton dari 23.042.880 ton selama 2017. Batas akhir penebusan hingga 15 Desember 2017. Sisa 6.345.780 ton beras di bulog terancam hangus.

Kabag Perekonomian Setkab Sumenep Mustangin melalui Plt Kasubbag Sarana Perekonomian Suharjono mengatakan, pemerintah daerah telah mengingatkan tim rastra di desa dan kecamatan. Mereka diimbau segera melakukan penebusan.


Namun, upaya itu tidak berhasil maksimal. ”Kami sudah melakukan sosialisasi dan selalu berkoordinasi agar semua desa bisa menebus secara penuh,” katanya.

Baca Juga :  Puluhan Pengembang Labrak Perda

Jika tidak ditebus hingga batas akhir tahun, rastra tersebut hangus. Dia mengungkapkan, ada desa yang belum melakukan penebusan secara tuntas. Bahkan, Desa Marengan Daya dan Desa Pamolokan, Kecamatan Kota, tidak menebus sejak Januari.

”Kalau tim rastra desa tidak menebus jatah rastra, berarti kan sudah mengabaikan hak warganya yang masuk pada penerima manfaat. Harusnya, rastra itu ditebus setiap bulan karena tujuan utamanya adalah meringankan beban mereka,” ucapnya.

Sejak awal tahun desa di 27 kecamatan daratan dan kepulauan mayoritas tidak melakukan penebusan secara aktif. Rastra itu tidak sampai tepat waktu kepada keluarga miskin (gakin) selaku penerima manfaat. Padahal, pemerintah menginginkan, program tersebut terealisasi tepat sasaran dan tepat waktu.

- Advertisement -
Baca Juga :  Pencairan DD Tahap Tiga Molor

”Secara ideal tim rastra desa memang menebusnya setiap bulan agar penerima manfaat benar-benar merasa terbantu dengan adanya program pemerintah tersebut. Sementara ini, di Sumenep penebusan rastra itu terjadi penumpukan di akhir-akhir tahun,” tegasnya.

Pihaknya berharap, tim rastra desa terus melakukan penebusan hingga tuntas. Jika ada desa yang sampai tidak menebus secara tuntas, apalagi sampai tidak menebus sama sekali akan berdampak pada bantuan rastra tahun berikutnya.

”Semoga tim rastra di desa masih memikirkan nasib rakyatnya yang tercatat sebagai penerima manfaat sehingga melakukan penebusan. Penerima manfaat pasti sangat berharap akan adanya rastra itu. Apalagi saat ini baru masuk musim tanam,” tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/