alexametrics
21.1 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

SPAM Miliaran Rupiah Belum Berfungsi

SUMENEP – Pembangunan sistem penyediaan air minum (SPAM) di Kecamatan Dungkek, Sumenep, selesai pada 2017. Namun, proyek Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS) itu belum dapat dinikmati warga Pulau Giliyang. Padahal, hasil kegiatan tersebut telah diserahkan kepada Pemkab Sumenep.

Pengeboran air yang dipusatkan di Desa Candi, Kecamatan Dungkek, telah selesai. Bahkan, pemasangan pipa dan pembangunan tandon sudah beres. Termasuk, pipa bawah laut di perairan Dungkek juga telah dipasang.

Namun, proyek yang menghabiskan dana miliaran rupiah melalui BPWS itu benar-benar belum berguna. Masyarakat pulau yang terdiri atas Desa Banraas dan Bancamara itu belum bisa menikmati bantuan air bersih sesuai janji pemerintah. Padahal, tandon sudah lama berdiri di dua desa tersebut.

Suhri, 42, warga Desa Banraas, Pulau Giliyang, mengaku heran karena program SPAM tidak kunjung dioperasikan. Padahal, bantuan air bersih ini sangat dibutuhkan warga. Terutama, ketika musim kemarau. ”Bagi warga sini, air bersih itu nomor satu,” kata dia kemarin (28/1).

Suhri mengutarakan, air bersih dari SPAM ini sudah lama dinanti masyarakat Pulau Oksigen. Tetapi, hingga sekarang tidak ada kabar. Padahal, pipa sudah terpasang di bawa laut. Dua tandon di Desa Banraas dan Bancamara juga telah lama berdiri.

Baca Juga :  Pekerja SPAM Diduga Bukan dari Pemenang Lelang

”Kapan dialirkan? Jangan beri harapan palsu dong. Dibangun, tapi tidak diapa-apain,” cetusnya.

Anggota Komisi II DPRD Sumenep Masdawi menyampaikan, masyarakat Pulau Giliyang sangat berharap proyek SPAM itu segera dioperasikan. Sebab, fasilitas tersebut sudah lama dibangun, tetapi tidak kunjung dioperasikan. ”Selesai 2017. Sudah diserahkan ke pemkab untuk dikelola,” kata dia.

Menurut Masdawi, pada Maret 2018 Bupati Sumenep A. Busyro Karim sudah melaksanakan rapat koordinasi di Surabaya dengan pihak BPWS dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Hasil rapat tersebut, bupati memberikan pernyataan segera memfungsikan SPAM itu. ”Lantas sampai sekarang kok belum difungsikan?” tanyanya.

Politikus Partai Demokrat itu mengaku tidak mengerti kendalanya sehingga fasilitas tersebut belum difungsikan. Apakah persoalan debit air, pipa, atau memang sengaja tidak mau difungsikan. ”Tolong masyarakat jangan digantung harapannya,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur PDAM Sumenep Ach. Supandi mengaku sangat siap mengoperasikan SPAM tersebut. Namun, hanya sebagai operator. Sebab, pelaksanaannya ada di dinas perumahan rakyat, kawasan permukiman (DPRKP), dan cipta karya. ”Kami menunggu tindak lanjut dari cipta karya (DPRKP dan cipta karya, Red). Terutama berkenaan dengan penambahan daya listrik,” katanya.

Baca Juga :  Terkendala Sumur, SPAM Sulit Beroperasi

Dalam program SPAM itu, terdapat dua sumur di Desa Candi. Sementara listrik yang terpasang hanya cukup satu sumur. Kewenangan menambah daya listrik itu menjadi tanggung jawab DPRKP dan cipta karya. ”Kapan bisa beroperasi SPAM itu? Ya bergantung cipta karya,” ucapnya.

Pernyataan berbeda disampaikan Kepala DPRKP dan Cipta Karya Sumenep Bambang Irianto. Dia menuding pihak PDAM hanya asal ngomong. Padahal sesuai perintah bupati, PDAM yang harus mengoperasikan SPAM. Pihaknya hanya menyiapkan listrik dan itu sudah selesai dengan menghabiskan anggaran Rp 300 juta. ”PDAM itu lepas tangan,” kata mantan Kadisbudparpora itu.

Pada 14 Januari lalu, pihaknya melaksanakan rapat persiapan serah terima pengelolaan barang milik negara (BMN) bersama PDAM dan BPWS. Hasil rapat tersebut, pengelolaan SPAM itu menjadi tanggung jawab PDAM Sumenep. ”Dan pihak PDAM siap. Itu ada notulanya lengkap. Hadir direkturnya. Pas sekarang mau mengelak PDAM,” sebutnya. (daf/luq)

 

SUMENEP – Pembangunan sistem penyediaan air minum (SPAM) di Kecamatan Dungkek, Sumenep, selesai pada 2017. Namun, proyek Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS) itu belum dapat dinikmati warga Pulau Giliyang. Padahal, hasil kegiatan tersebut telah diserahkan kepada Pemkab Sumenep.

Pengeboran air yang dipusatkan di Desa Candi, Kecamatan Dungkek, telah selesai. Bahkan, pemasangan pipa dan pembangunan tandon sudah beres. Termasuk, pipa bawah laut di perairan Dungkek juga telah dipasang.

Namun, proyek yang menghabiskan dana miliaran rupiah melalui BPWS itu benar-benar belum berguna. Masyarakat pulau yang terdiri atas Desa Banraas dan Bancamara itu belum bisa menikmati bantuan air bersih sesuai janji pemerintah. Padahal, tandon sudah lama berdiri di dua desa tersebut.


Suhri, 42, warga Desa Banraas, Pulau Giliyang, mengaku heran karena program SPAM tidak kunjung dioperasikan. Padahal, bantuan air bersih ini sangat dibutuhkan warga. Terutama, ketika musim kemarau. ”Bagi warga sini, air bersih itu nomor satu,” kata dia kemarin (28/1).

Suhri mengutarakan, air bersih dari SPAM ini sudah lama dinanti masyarakat Pulau Oksigen. Tetapi, hingga sekarang tidak ada kabar. Padahal, pipa sudah terpasang di bawa laut. Dua tandon di Desa Banraas dan Bancamara juga telah lama berdiri.

Baca Juga :  SPAM Pangelen Beroperasi Akhir Tahun

”Kapan dialirkan? Jangan beri harapan palsu dong. Dibangun, tapi tidak diapa-apain,” cetusnya.

Anggota Komisi II DPRD Sumenep Masdawi menyampaikan, masyarakat Pulau Giliyang sangat berharap proyek SPAM itu segera dioperasikan. Sebab, fasilitas tersebut sudah lama dibangun, tetapi tidak kunjung dioperasikan. ”Selesai 2017. Sudah diserahkan ke pemkab untuk dikelola,” kata dia.

Menurut Masdawi, pada Maret 2018 Bupati Sumenep A. Busyro Karim sudah melaksanakan rapat koordinasi di Surabaya dengan pihak BPWS dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Hasil rapat tersebut, bupati memberikan pernyataan segera memfungsikan SPAM itu. ”Lantas sampai sekarang kok belum difungsikan?” tanyanya.

Politikus Partai Demokrat itu mengaku tidak mengerti kendalanya sehingga fasilitas tersebut belum difungsikan. Apakah persoalan debit air, pipa, atau memang sengaja tidak mau difungsikan. ”Tolong masyarakat jangan digantung harapannya,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur PDAM Sumenep Ach. Supandi mengaku sangat siap mengoperasikan SPAM tersebut. Namun, hanya sebagai operator. Sebab, pelaksanaannya ada di dinas perumahan rakyat, kawasan permukiman (DPRKP), dan cipta karya. ”Kami menunggu tindak lanjut dari cipta karya (DPRKP dan cipta karya, Red). Terutama berkenaan dengan penambahan daya listrik,” katanya.

Baca Juga :  H Wiwid, Politisi Berlatar Pengusaha Yang Low Profile

Dalam program SPAM itu, terdapat dua sumur di Desa Candi. Sementara listrik yang terpasang hanya cukup satu sumur. Kewenangan menambah daya listrik itu menjadi tanggung jawab DPRKP dan cipta karya. ”Kapan bisa beroperasi SPAM itu? Ya bergantung cipta karya,” ucapnya.

Pernyataan berbeda disampaikan Kepala DPRKP dan Cipta Karya Sumenep Bambang Irianto. Dia menuding pihak PDAM hanya asal ngomong. Padahal sesuai perintah bupati, PDAM yang harus mengoperasikan SPAM. Pihaknya hanya menyiapkan listrik dan itu sudah selesai dengan menghabiskan anggaran Rp 300 juta. ”PDAM itu lepas tangan,” kata mantan Kadisbudparpora itu.

Pada 14 Januari lalu, pihaknya melaksanakan rapat persiapan serah terima pengelolaan barang milik negara (BMN) bersama PDAM dan BPWS. Hasil rapat tersebut, pengelolaan SPAM itu menjadi tanggung jawab PDAM Sumenep. ”Dan pihak PDAM siap. Itu ada notulanya lengkap. Hadir direkturnya. Pas sekarang mau mengelak PDAM,” sebutnya. (daf/luq)

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/