alexametrics
23.6 C
Madura
Monday, August 15, 2022

Ambruk Lima Menit setelah Siswa Pulang

SUMENEP – Empat guru SDN Sendir 16, Lenteng, Sumenep, terperanjat dari tempat duduknya ketika tiba-tiba dua ruang kelas ambruk kemarin (28/1). Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa sekitar pukul 11.30 tersebut. Hanya satu motor Supra X 125 rusak akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

Belum diketahui pasti penyebab bangunan itu ambruk. Ada yang menyebut karena hujan deras dalam dua hari terakhir. Ada pula yang menyebut karena kondisi bangunan gedung sudah tua. Saat kejadian berlangsung, siswa sudah pulang.

Pihak sekolah memulangkan siswa lebih awal karena punya firasat kurang baik. Tanda-tanda sekolah itu akan ambruk terlihat sejak beberapa hari terakhir. ”Tembok di bagian utara sudah retak. Rencana mau diperbaiki dan dipasangi tiang penyangga,” jelas Irianto, guru di sekolah itu.

Sebelum kejadian, tidak ada angin kencang atau puting beliung. Pagi hujan cukup deras. Tak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, pihak sekolah memindahkan siswa ke ruang kelas lain. ”Yang terdampak kelas 1, 2, dan 3. Tapi, yang ambruk dan rata dengan tanah hanya dua ruangan. Sedang satu ruangan lainnya hanya sebagian atapnya yang rusak,” paparnya.

Di sekolah ini ada sekitar 59 siswa yang mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM). Kelas 1–3 dihuni sekitar 34 siswa. Karena guru khawatir dengan kondisi gedung sekolah, mereka dipulangkan sekitar pukul 11.25. Lima menit setelah siswa pulang, dua ruang sekolah ambruk. ”Paling para murid belum sampai di rumah masing-masing, sekolah ini sudah ambruk,” imbuhnya.

Baca Juga :  Jumlah PPK Kembali Ditambah, KPU Sumenep Lakukan Rekrutmen

Sekolah ini direnovasi sekitar tiga atau empat tahun lalu. Saat itu hanya rehab ringan. Bagian atap yang direhab, sedangkan tembok di bagian bawah tetap dibiarkan. Bahkan ruang lantai tiga belum menggunakan keramik. ”Gedung ini memang sudah tua, sudah puluhan tahun umurnya,” tegasnya.

Kapolsek Lenteng AKP Jawali turut meninjau sekolah yang ambruk tersebut. Dia memperhatikan dari berbagai sudut bangunan yang rata dengan tanah itu. ”Kita lidik dulu lah. Karena tadi menurut informasi, cuaca hujan deras. Memang sebelumnya tembok itu sudah retak,” jelasnya di lokasi.

Camat Lenteng Joko Satrio belum bisa membersihkan reruntuhan bangunan karena masih dalam proses penyelidikan aparat kepolisian. Kasubbag Perencanaan Keuangan dan Barang Milik Daerah Disdik Sumenep Edy Suprayitno sudah mendengar informasi ambruknya SDN Sendir 16. Disdik segera mencarikan pos anggaran untuk pembangunan gedung yang ambruk tersebut.

Sementara itu, pasien dan pengunjung Puskesmas Pasean, Pamekasan, riuh dini hari kemarin (28/1). Pada saat hujan mengguyur dan terjangan angin kencang, lampu PLN tiba-tiba padam. Ditambah, sekitar pukul 02.50 atap ruang rawat inap ambruk.

Baca Juga :  Penerbangan Sumenep–Surabaya Dibuka Lagi

Seteketika itu, keluarga pasien berhamburan. Mereka menyelamatkan diri. Khawatir, bangunan puskesmas roboh dan menimpa mereka. ”Hujan lebat terjadi sejak siang,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan Ismail Bey.

Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam insiden tersebut. Sebab, bangunan itu memang tidak ditempati sejak Desember 2018. Bangunan yang atapnya ambruk itu dibangun pada 1993. Tahun lalu Komisi IV DPRD Pamekasan melakuakn sidak dan menyatakan bahwa gedung di bagian belakang puskesmas itu harus direhabilitasi.

Usai sidak, dinkes berinisiatif mengosongkan gedung tersebut. Pada awal bulan lalu, pemerintah mendatangkan konsultan untuk menghitung kebutuhan biaya rehabilitasi ruang inap itu. Hitung-hitungan biaya tersebut belum selesai hingga saat ini. Sementara waktu, pasien rawat inap ditempatkan di ruangan lain.

Kerugian akibat musibah tersebut ditaksir Rp 50 juta. Sebab, kayu atap beserta genting hancur. ”Kalau temboknya masih kokoh, tidak rusak,” ujar pejabat eselon II yang akan pensiun Maret mendatang itu.

Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Muhammad Sahur mengatakan, pemerintah harus menginventarisasi bangunan yang tidak layak huni. Kemudian, diusulkan rehabilitasi. Sarana kesehatan harus dalam kondisi baik. ”Jangan sampai buruknya kondisi bangunan membahayakan keselamatan pasien dan keluarga pasien,” pesannya.

SUMENEP – Empat guru SDN Sendir 16, Lenteng, Sumenep, terperanjat dari tempat duduknya ketika tiba-tiba dua ruang kelas ambruk kemarin (28/1). Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa sekitar pukul 11.30 tersebut. Hanya satu motor Supra X 125 rusak akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

Belum diketahui pasti penyebab bangunan itu ambruk. Ada yang menyebut karena hujan deras dalam dua hari terakhir. Ada pula yang menyebut karena kondisi bangunan gedung sudah tua. Saat kejadian berlangsung, siswa sudah pulang.

Pihak sekolah memulangkan siswa lebih awal karena punya firasat kurang baik. Tanda-tanda sekolah itu akan ambruk terlihat sejak beberapa hari terakhir. ”Tembok di bagian utara sudah retak. Rencana mau diperbaiki dan dipasangi tiang penyangga,” jelas Irianto, guru di sekolah itu.


Sebelum kejadian, tidak ada angin kencang atau puting beliung. Pagi hujan cukup deras. Tak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, pihak sekolah memindahkan siswa ke ruang kelas lain. ”Yang terdampak kelas 1, 2, dan 3. Tapi, yang ambruk dan rata dengan tanah hanya dua ruangan. Sedang satu ruangan lainnya hanya sebagian atapnya yang rusak,” paparnya.

Di sekolah ini ada sekitar 59 siswa yang mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM). Kelas 1–3 dihuni sekitar 34 siswa. Karena guru khawatir dengan kondisi gedung sekolah, mereka dipulangkan sekitar pukul 11.25. Lima menit setelah siswa pulang, dua ruang sekolah ambruk. ”Paling para murid belum sampai di rumah masing-masing, sekolah ini sudah ambruk,” imbuhnya.

Baca Juga :  Ruang Rawat Inap Runtuh, Pasien Puskesmas Pasean Kaget

Sekolah ini direnovasi sekitar tiga atau empat tahun lalu. Saat itu hanya rehab ringan. Bagian atap yang direhab, sedangkan tembok di bagian bawah tetap dibiarkan. Bahkan ruang lantai tiga belum menggunakan keramik. ”Gedung ini memang sudah tua, sudah puluhan tahun umurnya,” tegasnya.

Kapolsek Lenteng AKP Jawali turut meninjau sekolah yang ambruk tersebut. Dia memperhatikan dari berbagai sudut bangunan yang rata dengan tanah itu. ”Kita lidik dulu lah. Karena tadi menurut informasi, cuaca hujan deras. Memang sebelumnya tembok itu sudah retak,” jelasnya di lokasi.

- Advertisement -

Camat Lenteng Joko Satrio belum bisa membersihkan reruntuhan bangunan karena masih dalam proses penyelidikan aparat kepolisian. Kasubbag Perencanaan Keuangan dan Barang Milik Daerah Disdik Sumenep Edy Suprayitno sudah mendengar informasi ambruknya SDN Sendir 16. Disdik segera mencarikan pos anggaran untuk pembangunan gedung yang ambruk tersebut.

Sementara itu, pasien dan pengunjung Puskesmas Pasean, Pamekasan, riuh dini hari kemarin (28/1). Pada saat hujan mengguyur dan terjangan angin kencang, lampu PLN tiba-tiba padam. Ditambah, sekitar pukul 02.50 atap ruang rawat inap ambruk.

Baca Juga :  Mengunjungi SDN Palesanggar 5 yang Ambruk sejak Lima Bulan Lalu

Seteketika itu, keluarga pasien berhamburan. Mereka menyelamatkan diri. Khawatir, bangunan puskesmas roboh dan menimpa mereka. ”Hujan lebat terjadi sejak siang,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan Ismail Bey.

Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam insiden tersebut. Sebab, bangunan itu memang tidak ditempati sejak Desember 2018. Bangunan yang atapnya ambruk itu dibangun pada 1993. Tahun lalu Komisi IV DPRD Pamekasan melakuakn sidak dan menyatakan bahwa gedung di bagian belakang puskesmas itu harus direhabilitasi.

Usai sidak, dinkes berinisiatif mengosongkan gedung tersebut. Pada awal bulan lalu, pemerintah mendatangkan konsultan untuk menghitung kebutuhan biaya rehabilitasi ruang inap itu. Hitung-hitungan biaya tersebut belum selesai hingga saat ini. Sementara waktu, pasien rawat inap ditempatkan di ruangan lain.

Kerugian akibat musibah tersebut ditaksir Rp 50 juta. Sebab, kayu atap beserta genting hancur. ”Kalau temboknya masih kokoh, tidak rusak,” ujar pejabat eselon II yang akan pensiun Maret mendatang itu.

Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Muhammad Sahur mengatakan, pemerintah harus menginventarisasi bangunan yang tidak layak huni. Kemudian, diusulkan rehabilitasi. Sarana kesehatan harus dalam kondisi baik. ”Jangan sampai buruknya kondisi bangunan membahayakan keselamatan pasien dan keluarga pasien,” pesannya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/