alexametrics
25.4 C
Madura
Monday, May 16, 2022

Hari Ini Sidang Tuntutan Mantan Teller BRI

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Mantan teller BRI Cabang Sumenep Unit Pragaan Novia Arvianti hari ini akan menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Surabaya dengan agenda pembacaan tuntutan. Perempuan berusia 36 tahun itu terbukti telah menyalahgunakan wewenang.

Modus terdakwa yakni uang yang telah disetor nasabah tidak dimasukkan ke pembukuan keuangan. Tetapi, uang tersebut diambil untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan pribadi.

Kajari Sumenep Adi Tyogunawan mengungkapkan, dalam kasus tersebut ada 13 nasabah yang menjadi korban. Menurut Adi, terdakwa itu sebagai teller 2 di BRI Unit Pragaan. Sejak 2019, tugas utama dan fungsi terdakwa adalah melaksanakan layanan transaksi. Mulai transaksi tunai, nontunai, entri transaksi setoran pajak, pengecekan keaslian uang nasabah, dan keabsahan dokumen. Selain itu, pemberian informasi untuk meningkatkan layanan prima kepada nasabah.

Tugas yang lain yaitu melaksanakan pengelolaan kas teller selama jam pelayanan kas maupun akhir hari. Termasuk menjaga maksimum kas untuk memastikan kelancaran transaksi terhadap nasabah.

Baca Juga :  Tuntutan Mantan Anggota DPRD Ini Ditunda

”Dia juga bertugas melaksanakan pemasaran, penggunaan produk-produk, dan meningkatkan transaksi perbankan di BRI sebagai satu kesatuan yang terintegrasi untuk mencapai integrated banking solution,” sebutnya.

Namun, tugas dan kewenangan itu disalahgunakan. Terdakwa melakukan perbuatan melawan hukum dengan cara menerima transaksi setoran tunai rekening simpanan tabungan dari nasabah. Lalu, setoran itu tidak dimasukkan ke pembukuan. Parahnya, terdakwa menarik simpanan tabungan tanpa sepengetahuan nasabah.

 Semisal, ketika ada nasabah yang melakukan penyetoran tunai atau menitipkan setoran tunai kepada terdakwa selaku teller. Uang setoran tersebut diterima, namun tidak langsung dilakukan pembukuan ke rekening simpanan nasabah.

”Alasan terdakwa kepada nasabah, jaringan sedang offline dan berjanji dana setoran tersebut akan dilakukan pembukuan pada sore hari atau keesokan harinya. Begitu modusnya,” terang Adi.

Dia menyampaikan, selama melancarkan modus itu, terdakwa berhasil mengambil setoran tunai nasabah Rp 500 juta lebih. Namun, Rp 100 juta sudah dikembalikan. Kini, sisa Rp 414 juta yang belum dikembalikan.

Baca Juga :  Ratusan CASN Ikut SKB Hari Ini

”Tapi, kami sudah sita dua unit rumah milik nasabah sebagai pengamanan barang bukti,” kata Adi.

Dua unit rumah itu berlokasi di Jalan Pahlawan, Nomor 26, Desa Pamolokan, dan Jalan Sepanjang, Perumnas Pamolokan. ”Kedua unit rumah itu atas nama terdakwa,” terangnya.

Sementara itu, Widya Ruchi selaku kuasa hukum terdakwa mengatakan, dari awal terdakwa sudah kooperatif. Bahkan, sudah mengakui perbuatannya. ”Karena itu, dari tim kuasa hukum meminta keringanan,” kata Widya.

Dia mengatakan, sejauh ini pihaknya belum bisa memberikan pembelaan. Sebab, sidang tuntutan belum dibacakan. ”Kita pelajari dulu tuntutan dari JPU besok (hari ini),” ucapnya.

Yang jelas, terdakwa sudah ada iktikad baik untuk mengembalikan uang Rp 100 juta sekian itu. Menurut dia, hal itu menunjukkan bahwa terdakwa sangat kooperatif. ”Apalagi, dua unit rumahnya itu belum laku. Itu mungkin nanti bisa dihitung untuk mengurangi kerugian uang negara,” tandasnya.

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Mantan teller BRI Cabang Sumenep Unit Pragaan Novia Arvianti hari ini akan menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Surabaya dengan agenda pembacaan tuntutan. Perempuan berusia 36 tahun itu terbukti telah menyalahgunakan wewenang.

Modus terdakwa yakni uang yang telah disetor nasabah tidak dimasukkan ke pembukuan keuangan. Tetapi, uang tersebut diambil untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan pribadi.

Kajari Sumenep Adi Tyogunawan mengungkapkan, dalam kasus tersebut ada 13 nasabah yang menjadi korban. Menurut Adi, terdakwa itu sebagai teller 2 di BRI Unit Pragaan. Sejak 2019, tugas utama dan fungsi terdakwa adalah melaksanakan layanan transaksi. Mulai transaksi tunai, nontunai, entri transaksi setoran pajak, pengecekan keaslian uang nasabah, dan keabsahan dokumen. Selain itu, pemberian informasi untuk meningkatkan layanan prima kepada nasabah.

Tugas yang lain yaitu melaksanakan pengelolaan kas teller selama jam pelayanan kas maupun akhir hari. Termasuk menjaga maksimum kas untuk memastikan kelancaran transaksi terhadap nasabah.

Baca Juga :  Hindari Lubang, Hantam Pikap dan Toko

”Dia juga bertugas melaksanakan pemasaran, penggunaan produk-produk, dan meningkatkan transaksi perbankan di BRI sebagai satu kesatuan yang terintegrasi untuk mencapai integrated banking solution,” sebutnya.

Namun, tugas dan kewenangan itu disalahgunakan. Terdakwa melakukan perbuatan melawan hukum dengan cara menerima transaksi setoran tunai rekening simpanan tabungan dari nasabah. Lalu, setoran itu tidak dimasukkan ke pembukuan. Parahnya, terdakwa menarik simpanan tabungan tanpa sepengetahuan nasabah.

 Semisal, ketika ada nasabah yang melakukan penyetoran tunai atau menitipkan setoran tunai kepada terdakwa selaku teller. Uang setoran tersebut diterima, namun tidak langsung dilakukan pembukuan ke rekening simpanan nasabah.

”Alasan terdakwa kepada nasabah, jaringan sedang offline dan berjanji dana setoran tersebut akan dilakukan pembukuan pada sore hari atau keesokan harinya. Begitu modusnya,” terang Adi.

Dia menyampaikan, selama melancarkan modus itu, terdakwa berhasil mengambil setoran tunai nasabah Rp 500 juta lebih. Namun, Rp 100 juta sudah dikembalikan. Kini, sisa Rp 414 juta yang belum dikembalikan.

Baca Juga :  KMP Dharma Bahari Sumekar III Tak Bisa Dioperasikan

”Tapi, kami sudah sita dua unit rumah milik nasabah sebagai pengamanan barang bukti,” kata Adi.

Dua unit rumah itu berlokasi di Jalan Pahlawan, Nomor 26, Desa Pamolokan, dan Jalan Sepanjang, Perumnas Pamolokan. ”Kedua unit rumah itu atas nama terdakwa,” terangnya.

Sementara itu, Widya Ruchi selaku kuasa hukum terdakwa mengatakan, dari awal terdakwa sudah kooperatif. Bahkan, sudah mengakui perbuatannya. ”Karena itu, dari tim kuasa hukum meminta keringanan,” kata Widya.

Dia mengatakan, sejauh ini pihaknya belum bisa memberikan pembelaan. Sebab, sidang tuntutan belum dibacakan. ”Kita pelajari dulu tuntutan dari JPU besok (hari ini),” ucapnya.

Yang jelas, terdakwa sudah ada iktikad baik untuk mengembalikan uang Rp 100 juta sekian itu. Menurut dia, hal itu menunjukkan bahwa terdakwa sangat kooperatif. ”Apalagi, dua unit rumahnya itu belum laku. Itu mungkin nanti bisa dihitung untuk mengurangi kerugian uang negara,” tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/