alexametrics
20.8 C
Madura
Wednesday, August 17, 2022

Puncak Musim Hujan Desember–Februari, Bencana  Alam Mengintai

SUMENEP – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalianget memprediksi musim hujan kali ini lebih basah daripada tahun lalu. Puncak musim hujan akan terjadi pada Desember 2017 hingga Februari 2018. Dengan demikian, ancaman terjadinya bencana alam seperti banjir dan longsor masih besar.

Pengamat meteorologi BMKG Kalianget Agus Arif Rakhman mengatakan, hampir seluruh wilayah di Indonesia, termasuk Kabupaten Sumenep, telah memasuki musim hujan. Itu sesuai prediksi awal musim bahwa hujan akan turun pada November. ”Sumenep sudah beberapa kali mendapat hujan dengan intensitas lumayan tinggi,” katanya Minggu (26/11).

Hingga saat ini, kata dia, dinamika atmosfer masih menunjukkan kondisi nertal. Tetapi, indeks El-Nino Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan kemungkinan adanya La-Nina lemah. Agus menjelaskan, kondisi atmosfer dikatakan La-Nina apabila indeks ENSO kurang dari minus 0,5. Saat ini indeks ENSO masih berada di angka minus 0,9.

Baca Juga :  200 KPM Bakal Digraduasi Sebagai Penerima PKH

Berdasar analisis, BMKG Kalianget mendapati kondisi curah hujan di Sumenep lebih basah dibandingkan dengan musim hujan tahun lalu. ”Dengan tingginya intensitas hujan, kemungkinan terjadinya bencana alam akan lebih besar,” jelasnya.

Agus memprediksi, puncak musim hujan di Sumenep akan terjadi pada Desember 2017 hingga Februari 2018. Saat ini, kata dia, ada beberapa indikasi penyebab hujan lebat di Indonesia, termasuk di kabupaten ujung timur Madura. Salah satunya, munculnya bibit siklon tropis di Samudra Hindia selatan Jawa Timur.

Dia memperkirakan ada peningkatan potensi hujan lebat disertai angin kencang selama beberapa hari ke depan. ”Diperkirakan dalam beberapa hari ke depan masih terdapat peningkatan potensi hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Baca Juga :  Soroti Anggaran Besar Disdik

 

 

SUMENEP – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalianget memprediksi musim hujan kali ini lebih basah daripada tahun lalu. Puncak musim hujan akan terjadi pada Desember 2017 hingga Februari 2018. Dengan demikian, ancaman terjadinya bencana alam seperti banjir dan longsor masih besar.

Pengamat meteorologi BMKG Kalianget Agus Arif Rakhman mengatakan, hampir seluruh wilayah di Indonesia, termasuk Kabupaten Sumenep, telah memasuki musim hujan. Itu sesuai prediksi awal musim bahwa hujan akan turun pada November. ”Sumenep sudah beberapa kali mendapat hujan dengan intensitas lumayan tinggi,” katanya Minggu (26/11).

Hingga saat ini, kata dia, dinamika atmosfer masih menunjukkan kondisi nertal. Tetapi, indeks El-Nino Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan kemungkinan adanya La-Nina lemah. Agus menjelaskan, kondisi atmosfer dikatakan La-Nina apabila indeks ENSO kurang dari minus 0,5. Saat ini indeks ENSO masih berada di angka minus 0,9.

Baca Juga :  Tiket Mudik Kapal Gratis Ludes

Berdasar analisis, BMKG Kalianget mendapati kondisi curah hujan di Sumenep lebih basah dibandingkan dengan musim hujan tahun lalu. ”Dengan tingginya intensitas hujan, kemungkinan terjadinya bencana alam akan lebih besar,” jelasnya.

Agus memprediksi, puncak musim hujan di Sumenep akan terjadi pada Desember 2017 hingga Februari 2018. Saat ini, kata dia, ada beberapa indikasi penyebab hujan lebat di Indonesia, termasuk di kabupaten ujung timur Madura. Salah satunya, munculnya bibit siklon tropis di Samudra Hindia selatan Jawa Timur.

Dia memperkirakan ada peningkatan potensi hujan lebat disertai angin kencang selama beberapa hari ke depan. ”Diperkirakan dalam beberapa hari ke depan masih terdapat peningkatan potensi hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Baca Juga :  Bersejarah, Sumenep Raih Opini WTP

 

- Advertisement -

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/