alexametrics
21.5 C
Madura
Sunday, May 22, 2022

SMA-SMK Negeri Kurang Ribuan Siswa

SEMENTARA itu, sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) negeri di Pamekasan kekurangan ribuan siswa baru. Hal tersebut diketahui dari data rekapitulasi final pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2019.

”Hanya SMAN 2 yang memenuhi pagu. Lainnya kekurangan siswa dengan jumlah yang bervariasi,” kata Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa TImur (Jatim) Wilayah Pamekasan Slamet Goestiantoko kemarin (26/6).

Kebutuhan pagu SMK negeri 2.208 siswa. Namun hanya terisi 1.019 siswa. Pagu tersisa 1.189. Sementara kebutuhan pagu SMA negeri 2.101 siswa dan hanya terisi 1.418. Pagu SMA negeri tersisa 683.

”Jadi, total SMA-SMK kekurangan siswa seribu delapan ratus tujuh puluh dua orang dari pagu empat ribu tiga ratus sembilan siswa,” kata Slamet (lihat grafis).

Pendaftaran masuk SMA/SMK menggunakan system offline dan online. Sesuai petunjuk teknis (juknis) jalur offline 30 persen. Terdiri atas 5 persen prestasi, 5 persen kepindahan orang tua, dan 20 persen siswa miskin atau anak buruh. ”Namun dari tiga puluh persen tersebut tidak juga terpenuhi,” terangnya.

Slamet mengaku belum mengetahui penyebab sekolah kekurangan siswa. Kekurangan pagu tersebut tidak hanya terjadi di Pamekasan, tetapi hampir di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur. Kecuali Surabaya dan Sidoarjo. ”Madura kekurangan semua,” tegasnya.

Baca Juga :  Kunjungan Wisman Tak Capai Target

Namun dia memprediksi, kekurangan siswa tersebut dimungkinkan karena masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui sistem PPDB online. ”Solusinya kita akan memaksimalkan sosialisasi untuk tahun depan. Karenanya, kita kaji dan evaluasi,” terangnya.

Pengamat Pendidikan Achmad Muhlis meminta sekolah-sekolah lebih berinovasi agar banyak yang tertarik mendaftar. Pengelola pendidikan harus menyiapkan siswa berprestasi baik akademik maupun nonakademik. ”Lulusan SMP/MTs itu berkisar 15 ribuan. Jadi banyak yang tidak melanjutkan ke SMA/SMK negeri,” terangnya.

Bisa jadi, kata dia, lulusan SMP/MTs tersebut masuk ke sekolah swasta atau MAN. Ada juga yang memilih melanjutkan ke pondok pesantren. ”Ponpes saat ini menjadi pilihan favorit yang diminati oleh siswa dan wali murid,” tukasnya.

Hingga tahapan pendaftaran ulang ditutup Selasa (25/6), sejumlah sekolah di Sumenep juga masih kekurangan siswa baru. Dari total 15 SMA/SMK negeri di Bumi Sumekar, hanya SMAN 1 Sumenep dan SMAN 1 Kalianget yang memenuhi pagu.

Kepala Cabang Disdik Jawa Timur Wilayah Sumenep Sugiono Eksantoso meminta semua sekolah yang belum memenuhi pagu untuk segera melaporkan ke cabang dinas. Termasuk mengusulkan penambahan peserta didik baru. ”Baru nanti kami ajukan ke Disdik Jatim. Secepatnya akan kami laporkan ke provinsi,” ungkapnya.

Baca Juga :  Satu-Satunya di Madura, es.téh dengan 18 Varian Rasa Buka Cabang

Beberapa sekolah yang kekurangan siswa baru sudah ada yang mengajukan. Namun pihaknya masih menunggu semua sekolah melapor dan usulan penambahan peserta didik baru. Setelah rampung, pihaknya akan mengajukan ke Disdik Jatim. ”Kami yakin provinsi akan mengizinkan sekolah menambah siswa baru. Kemungkinan diberi waktu 3 hari. Kalau tetap tidak terpenuhi, tidak boleh menambah lagi,” jelas Sugiono.

Pada jenjang SMK, beberapa kejuruan minim pendaftar. Bahkan, banyak kejuruan dengan peserta didik baru di bawah jumlah data pokok pendidikan (dapodik). Sugiono mengaku heran sekolah-sekolah negeri di Kota Keris sepi peminat.

”Ada satu kejuruan hanya 10 sampai 15 siswa. Tidak bisa terbaca di dapodik. Minimal 20 siswa,” ucapnya heran.

Sugiono memperkirakan, minimnya peserta didik baru di SMA/SMK negeri di Sumenep dikarenakan banyak lulusan SMP/MTs memilih melanjutkan pendidikan di lembaga swasta. Ada juga kemungkinan yang pindah ke luar daerah. ”Sekolah di mana pun tidak masalah. Yang terpenting anak-anak jangan sampai putus sekolah,” tukasnya.

- Advertisement -

SEMENTARA itu, sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) negeri di Pamekasan kekurangan ribuan siswa baru. Hal tersebut diketahui dari data rekapitulasi final pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2019.

”Hanya SMAN 2 yang memenuhi pagu. Lainnya kekurangan siswa dengan jumlah yang bervariasi,” kata Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa TImur (Jatim) Wilayah Pamekasan Slamet Goestiantoko kemarin (26/6).

Kebutuhan pagu SMK negeri 2.208 siswa. Namun hanya terisi 1.019 siswa. Pagu tersisa 1.189. Sementara kebutuhan pagu SMA negeri 2.101 siswa dan hanya terisi 1.418. Pagu SMA negeri tersisa 683.


”Jadi, total SMA-SMK kekurangan siswa seribu delapan ratus tujuh puluh dua orang dari pagu empat ribu tiga ratus sembilan siswa,” kata Slamet (lihat grafis).

Pendaftaran masuk SMA/SMK menggunakan system offline dan online. Sesuai petunjuk teknis (juknis) jalur offline 30 persen. Terdiri atas 5 persen prestasi, 5 persen kepindahan orang tua, dan 20 persen siswa miskin atau anak buruh. ”Namun dari tiga puluh persen tersebut tidak juga terpenuhi,” terangnya.

Slamet mengaku belum mengetahui penyebab sekolah kekurangan siswa. Kekurangan pagu tersebut tidak hanya terjadi di Pamekasan, tetapi hampir di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur. Kecuali Surabaya dan Sidoarjo. ”Madura kekurangan semua,” tegasnya.

Baca Juga :  Ingatkan Netralitas, Forum Ulama dan Habib Datangi Bawaslu Pamekasan

Namun dia memprediksi, kekurangan siswa tersebut dimungkinkan karena masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui sistem PPDB online. ”Solusinya kita akan memaksimalkan sosialisasi untuk tahun depan. Karenanya, kita kaji dan evaluasi,” terangnya.

Pengamat Pendidikan Achmad Muhlis meminta sekolah-sekolah lebih berinovasi agar banyak yang tertarik mendaftar. Pengelola pendidikan harus menyiapkan siswa berprestasi baik akademik maupun nonakademik. ”Lulusan SMP/MTs itu berkisar 15 ribuan. Jadi banyak yang tidak melanjutkan ke SMA/SMK negeri,” terangnya.

Bisa jadi, kata dia, lulusan SMP/MTs tersebut masuk ke sekolah swasta atau MAN. Ada juga yang memilih melanjutkan ke pondok pesantren. ”Ponpes saat ini menjadi pilihan favorit yang diminati oleh siswa dan wali murid,” tukasnya.

Hingga tahapan pendaftaran ulang ditutup Selasa (25/6), sejumlah sekolah di Sumenep juga masih kekurangan siswa baru. Dari total 15 SMA/SMK negeri di Bumi Sumekar, hanya SMAN 1 Sumenep dan SMAN 1 Kalianget yang memenuhi pagu.

Kepala Cabang Disdik Jawa Timur Wilayah Sumenep Sugiono Eksantoso meminta semua sekolah yang belum memenuhi pagu untuk segera melaporkan ke cabang dinas. Termasuk mengusulkan penambahan peserta didik baru. ”Baru nanti kami ajukan ke Disdik Jatim. Secepatnya akan kami laporkan ke provinsi,” ungkapnya.

Baca Juga :  Bangkalan Terbanyak, Sampang Salip Pamekasan dan Sumenep

Beberapa sekolah yang kekurangan siswa baru sudah ada yang mengajukan. Namun pihaknya masih menunggu semua sekolah melapor dan usulan penambahan peserta didik baru. Setelah rampung, pihaknya akan mengajukan ke Disdik Jatim. ”Kami yakin provinsi akan mengizinkan sekolah menambah siswa baru. Kemungkinan diberi waktu 3 hari. Kalau tetap tidak terpenuhi, tidak boleh menambah lagi,” jelas Sugiono.

Pada jenjang SMK, beberapa kejuruan minim pendaftar. Bahkan, banyak kejuruan dengan peserta didik baru di bawah jumlah data pokok pendidikan (dapodik). Sugiono mengaku heran sekolah-sekolah negeri di Kota Keris sepi peminat.

”Ada satu kejuruan hanya 10 sampai 15 siswa. Tidak bisa terbaca di dapodik. Minimal 20 siswa,” ucapnya heran.

Sugiono memperkirakan, minimnya peserta didik baru di SMA/SMK negeri di Sumenep dikarenakan banyak lulusan SMP/MTs memilih melanjutkan pendidikan di lembaga swasta. Ada juga kemungkinan yang pindah ke luar daerah. ”Sekolah di mana pun tidak masalah. Yang terpenting anak-anak jangan sampai putus sekolah,” tukasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/