alexametrics
27.2 C
Madura
Thursday, June 30, 2022

Akses Menuju Kota Sumenep Tak Seindah Dulu

SUMENEP – Merawat lebih sulit daripada membangun. Pepatah itu kiranya cocok disematkan atas kondisi taman kota di sepanjang Jalan Raya Sumenep–Pamekasan. Sebab, taman dari depan kampus Unija hingga perbatasan kota dan Kecamatan Saronggi itu tidak lagi dirawat.

Pantauan Jawa Pos Radar Madura, taman tersebut sudah tidak berwujud layaknya taman kota. Rumput liar tumbuh di mana-mana. Sebagian besar tembok taman di pinggir jalan raya rusak.

Selain itu, puluhan pot bunga hilang. Tanaman hias banyak yang mati. Tidak ada penanaman ulang dari dinas terkait. Sudah bertahun-tahun taman tersebut tak tersentuh perawatan.

Padahal, taman yang selesai dibangun pada 2012 itu dilengkapi beragam anjuran perawatan. Seperti tulisan ”Jangan Lupa Aku Dirawat dan Disiram”. Tetapi, persis di depan tulisan tersebut banyak sampah berserakan dan rumput liar tumbuh subur.

Baca Juga :  Dirawat Petugas Puskesmas, Berikut Identitas 12 Nelayan asal Lamongan

Moh Ali, salah seorang warga Kecamatan Saronggi, menuturkan, sebelum taman itu rusak, pemandangan dari Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi, hingga Kota Sumenep terlihat indah. Tapi saat ini, menurut dia, sudah tidak sedap dipandang mata.

”Awal dibangun itu sangat bagus. Tapi, sekarang sudah tidak layak disebut taman. Lebih mirip semak belukar,” katanya.

Dia berharap Pemkab Sumenep segera merevitalisasi taman di sepanjang jalan tersebut. Sebab, taman menjadi pintu masuk Kota Sumenep. Jika taman yang bertulis nama-nama organisasi perangkat daerah (OPD) itu dirawat, akan memperindah suasana Kota Keris.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep M. Syahrial mengaku, taman kota sudah lama rusak. Bahkan, tutur dia, sudah rusak ketika masih berada di bawah naungan dinas kebersihan dan pertamanan. Tetapi sejak 2017, dinas tersebut dihapus dan wilayah taman menjadi wewenang DLH. ”Itu rusaknya sudah lama waktu pertamanan menjadi instansi tersendiri,” kata Syahrial.

Baca Juga :  Napi Tampilkan Hadrah pada Peringatan Maulid Nabi

Ditanya apakah tidak ada anggaran untuk revitalisasi taman sepanjang Jalan Raya Sumenep–Pamekasan? Syahrial mengaku tidak ada. Kalaupun akan direvitalisasi, sangat sulit dilakukan. Sebab, menurut dia, taman tersebut rusak karena pelebaran jalan.

”Kalau kita bangun lagi sulit karena areanya sudah sempit. Sementara di kanan kiri jalan ada selokan,” tukasnya.

SUMENEP – Merawat lebih sulit daripada membangun. Pepatah itu kiranya cocok disematkan atas kondisi taman kota di sepanjang Jalan Raya Sumenep–Pamekasan. Sebab, taman dari depan kampus Unija hingga perbatasan kota dan Kecamatan Saronggi itu tidak lagi dirawat.

Pantauan Jawa Pos Radar Madura, taman tersebut sudah tidak berwujud layaknya taman kota. Rumput liar tumbuh di mana-mana. Sebagian besar tembok taman di pinggir jalan raya rusak.

Selain itu, puluhan pot bunga hilang. Tanaman hias banyak yang mati. Tidak ada penanaman ulang dari dinas terkait. Sudah bertahun-tahun taman tersebut tak tersentuh perawatan.


Padahal, taman yang selesai dibangun pada 2012 itu dilengkapi beragam anjuran perawatan. Seperti tulisan ”Jangan Lupa Aku Dirawat dan Disiram”. Tetapi, persis di depan tulisan tersebut banyak sampah berserakan dan rumput liar tumbuh subur.

Baca Juga :  Dirawat Petugas Puskesmas, Berikut Identitas 12 Nelayan asal Lamongan

Moh Ali, salah seorang warga Kecamatan Saronggi, menuturkan, sebelum taman itu rusak, pemandangan dari Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi, hingga Kota Sumenep terlihat indah. Tapi saat ini, menurut dia, sudah tidak sedap dipandang mata.

”Awal dibangun itu sangat bagus. Tapi, sekarang sudah tidak layak disebut taman. Lebih mirip semak belukar,” katanya.

Dia berharap Pemkab Sumenep segera merevitalisasi taman di sepanjang jalan tersebut. Sebab, taman menjadi pintu masuk Kota Sumenep. Jika taman yang bertulis nama-nama organisasi perangkat daerah (OPD) itu dirawat, akan memperindah suasana Kota Keris.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep M. Syahrial mengaku, taman kota sudah lama rusak. Bahkan, tutur dia, sudah rusak ketika masih berada di bawah naungan dinas kebersihan dan pertamanan. Tetapi sejak 2017, dinas tersebut dihapus dan wilayah taman menjadi wewenang DLH. ”Itu rusaknya sudah lama waktu pertamanan menjadi instansi tersendiri,” kata Syahrial.

Baca Juga :  Rencanakan Tambah 15 Hektare untuk Hutan Kota

Ditanya apakah tidak ada anggaran untuk revitalisasi taman sepanjang Jalan Raya Sumenep–Pamekasan? Syahrial mengaku tidak ada. Kalaupun akan direvitalisasi, sangat sulit dilakukan. Sebab, menurut dia, taman tersebut rusak karena pelebaran jalan.

”Kalau kita bangun lagi sulit karena areanya sudah sempit. Sementara di kanan kiri jalan ada selokan,” tukasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/