alexametrics
21 C
Madura
Friday, May 27, 2022

Puluhan Sekolah Tak Bisa Gelar UNBK

SUMENEP – Di Kota Keris masih ada 30 SMA/SMK/MA yang tidak bisa melaksanakan ujian sekolah berbasis komputer (UNBK) secara mandiri. Penyebabnya, rata-rata masalah ketersediaan sarana dan prasarana (sarpras). Akibatnya, sekolah tersebut harus bergabung ke lembaga yang lain.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Disdik) Jatim Wilayah Sumenep Sugiono Eksantoso mengutarakan, ada 296 lembaga sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) sederajat yang akan melaksanakan UNBK tahun ini.

”Dalam pelaksanaan UNBK, pendaftaran siswa lembaga MA melalui kami,” tegas Sugiono kemarin (25/2).

Dia mengakui, tidak semua lembaga dapat melaksanakan UNBK secara mandiri. Yakni, 30 lembaga harus bergabung dengan sekolah lain untuk melaksanakan UNBK. Perinciannya, 24 SMA dan MA serta 6 SMK.

Ada beberapa alasan puluhan lembaga itu tidak dapat melaksanakan UNBK di sekolah masing-masing. Di antaranya, siswa yang akan mengikuti UNBK kurang dari 10 orang, sekolah belum terakreditasi atau masih terakreditasi C, dan minimnya ketersediaan sarpras UNBK. ”Rata-rata yang harus bergabung itu terkendala sarpras,” ungkap Sugiono.

UNBK SMA dan MA akan dilaksanakan Senin (30/3) hingga Kamis (2/4). Sementara untuk SMK akan digelar lebih awal. Yakni, Senin (16/3) sampai Kamis (19/3). ”Simulasi sudah dilakukan. Sosialisasi dan pengukuhan panitia subrayon juga telah dilaksanakan,” tegasnya.

Baca Juga :  Ribuan Aset Pemkab Rawan Sengketa

Mantan Kacabdin Lumajang itu memastikan, selama UNBK, pasokan listrik dan internet dipastikan tidak ada hambatan. Sebab, dua hal itu sudah menjadi atensi pihaknya dan seluruh panitia UNBK tahun ini.

Kendati demikian, ada dua lembaga penyelenggaraan UNBK secara offline. Sebab, jaringan internet tidak memungkinkan untuk pelaksanaan UNBK. Yaitu, SMAN 1 Masalembu dan SMK Ismailiyah Masalembu.

”Ujiannya tetap menggunakan komputer. Tetapi, soalnya disediakan melalui hard disk. Jawabannya juga akan tersedia di hard disk itu,” jelasnya.

Sugiono menyatakan, UNBK akan dilaksanakan tiga sesi dalam sehari. Namun, sebagian lembaga pendidikan ada yang hanya melaksanakan dua sesi. Itu disebabkan pelaksanaan UNBK bergantung pada ketersediaan komputer tiap lembaga.

Sugiono menerangkan, UNBK tidak menjadi penentu kelulusan siswa. Sebab, kewenangan untuk meluluskan siswa menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan masing-masing. Meski begitu, pihaknya berharap ada keseriusan semua lembaga pendidikan untuk mendorong siswanya supaya memilih nilai yang bagus.

Baca Juga :  Ajak Santri Cintai Dunia Tulis-menulis

Sebab, lanjut Sugiono, tahun lalu Kota Keris menjadi penyandang nilai UNBK terendah ketiga dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Pihaknya menargetkan, tahun ini Sumenep bisa masuk 10 kabupaten/kota dengan nilai tertinggi.

”Kami sudah meminta semua sekolah untuk serius memberikan pendidikan kepada siswa. Misalnya, memberikan tambahan belajar,” imbaunya.

Dia berjanji beberapa hal yang menjadi kendala lembaga pendidikan tidak dapat melaksanakan UNBK akan disikapi. Terutama lembaga pendidikan swasta yang masih minim ketersediaan sarpras maupun pendidik.

”Salah satu penyebab pendidikan kita masih lemah karena banyak guru yang tidak linier. Akibatnya, pendidikannya tidak maksimal,” ujarnya.

Ditambah lagi, masih banyak tenaga pendidik yang mengajar tanpa berpedoman pada rencana pelaksanaan pembelajaran. Karena itu, materi pembelajaran tidak terkonsep dengan baik. ”Yang negeri sudah cukup bagus. Yang menjadi masalah saat ini yaitu lembaga swasta,” tukasnya. (jup)

SUMENEP – Di Kota Keris masih ada 30 SMA/SMK/MA yang tidak bisa melaksanakan ujian sekolah berbasis komputer (UNBK) secara mandiri. Penyebabnya, rata-rata masalah ketersediaan sarana dan prasarana (sarpras). Akibatnya, sekolah tersebut harus bergabung ke lembaga yang lain.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Disdik) Jatim Wilayah Sumenep Sugiono Eksantoso mengutarakan, ada 296 lembaga sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) sederajat yang akan melaksanakan UNBK tahun ini.

”Dalam pelaksanaan UNBK, pendaftaran siswa lembaga MA melalui kami,” tegas Sugiono kemarin (25/2).


Dia mengakui, tidak semua lembaga dapat melaksanakan UNBK secara mandiri. Yakni, 30 lembaga harus bergabung dengan sekolah lain untuk melaksanakan UNBK. Perinciannya, 24 SMA dan MA serta 6 SMK.

Ada beberapa alasan puluhan lembaga itu tidak dapat melaksanakan UNBK di sekolah masing-masing. Di antaranya, siswa yang akan mengikuti UNBK kurang dari 10 orang, sekolah belum terakreditasi atau masih terakreditasi C, dan minimnya ketersediaan sarpras UNBK. ”Rata-rata yang harus bergabung itu terkendala sarpras,” ungkap Sugiono.

UNBK SMA dan MA akan dilaksanakan Senin (30/3) hingga Kamis (2/4). Sementara untuk SMK akan digelar lebih awal. Yakni, Senin (16/3) sampai Kamis (19/3). ”Simulasi sudah dilakukan. Sosialisasi dan pengukuhan panitia subrayon juga telah dilaksanakan,” tegasnya.

Baca Juga :  Mau Dapatkan Layanan Rias Gratis di Melita Make Up, Ini Syaratnya

Mantan Kacabdin Lumajang itu memastikan, selama UNBK, pasokan listrik dan internet dipastikan tidak ada hambatan. Sebab, dua hal itu sudah menjadi atensi pihaknya dan seluruh panitia UNBK tahun ini.

Kendati demikian, ada dua lembaga penyelenggaraan UNBK secara offline. Sebab, jaringan internet tidak memungkinkan untuk pelaksanaan UNBK. Yaitu, SMAN 1 Masalembu dan SMK Ismailiyah Masalembu.

”Ujiannya tetap menggunakan komputer. Tetapi, soalnya disediakan melalui hard disk. Jawabannya juga akan tersedia di hard disk itu,” jelasnya.

Sugiono menyatakan, UNBK akan dilaksanakan tiga sesi dalam sehari. Namun, sebagian lembaga pendidikan ada yang hanya melaksanakan dua sesi. Itu disebabkan pelaksanaan UNBK bergantung pada ketersediaan komputer tiap lembaga.

Sugiono menerangkan, UNBK tidak menjadi penentu kelulusan siswa. Sebab, kewenangan untuk meluluskan siswa menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan masing-masing. Meski begitu, pihaknya berharap ada keseriusan semua lembaga pendidikan untuk mendorong siswanya supaya memilih nilai yang bagus.

Baca Juga :  Rehab Kelas Belum Selesai, Siswa Belajar di Langgar

Sebab, lanjut Sugiono, tahun lalu Kota Keris menjadi penyandang nilai UNBK terendah ketiga dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Pihaknya menargetkan, tahun ini Sumenep bisa masuk 10 kabupaten/kota dengan nilai tertinggi.

”Kami sudah meminta semua sekolah untuk serius memberikan pendidikan kepada siswa. Misalnya, memberikan tambahan belajar,” imbaunya.

Dia berjanji beberapa hal yang menjadi kendala lembaga pendidikan tidak dapat melaksanakan UNBK akan disikapi. Terutama lembaga pendidikan swasta yang masih minim ketersediaan sarpras maupun pendidik.

”Salah satu penyebab pendidikan kita masih lemah karena banyak guru yang tidak linier. Akibatnya, pendidikannya tidak maksimal,” ujarnya.

Ditambah lagi, masih banyak tenaga pendidik yang mengajar tanpa berpedoman pada rencana pelaksanaan pembelajaran. Karena itu, materi pembelajaran tidak terkonsep dengan baik. ”Yang negeri sudah cukup bagus. Yang menjadi masalah saat ini yaitu lembaga swasta,” tukasnya. (jup)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/