alexametrics
21.1 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Gubernur hingga Presiden Pernah Mencicipi Sate 35 Bluto

SUMENEP – Madura identik dengan sate. Di mana-mana, di kota-kota besar, ketika berbicara tentang Madura, pasti langsung ingat dengan sate. Sebab, sate Madura memang memiliki rasa yang khas nan maknyus.

Banyak warung sate yang bisa ditemui di berbagai daerah di Pulau Garam. Tapi, tidak semua sate bisa melegenda. Beda halnya dengan Sate 35 Bluto yang sudah masyhur di masyarakat.

Warung Sate 35 Bluto berada di Jalan Raya Sumenep-Pamekasan. Warung ini dekat dengan Pasar Bluto. Jika berkendara dari arah Kota Sumenep menuju Pamekasan, warung sate ini berada di sisi timur.

Saat ini, warung Sate 35 Bluto dikelola oleh Susmiati. Perempuan kelahiran 1967 ini merupakan generasi keenam pengelola sate tersebut. Dia melanjutkan menjual sate di warung tersebut sejak 1990. ”Katanya warung sate ini sudah ada sejak zaman Jepang,” ujar Susmiati saat ditemui di warungnya pada Jumat malam (25/5).

Baca Juga :  Bebek Sinjay Kuliner dari Bangkalan yang Sangat Populer

Dijelaskan, resep masakan di sini memang sudah diwariskan secara turun-temurun. Akan tetapi, sejak dipegang Susmiati, banyak perubahan yang dilakukan. Terutama pada bumbunya. ”Bumbunya saya perbaharui biar tambah enak,” paparnya.

Di warung ini tersedia tiga jenis sate. Yakni, sate kambing, sapi, dan ayam. Dari tiga menu itu, kambing dan sapi paling banyak diminati warga.

Untuk menambah selera, sate dihidangkan dengan gulai. Sembari menikmati sate, warga bisa menyeruput kuah gulai. Rasanya juga maknyus karena diolah dengan bumbu lengkap.

Setiap hari banyak warga membeli sate di warung tersebut. Itu bisa dilihat dari omzet yang didapat. Per hari Susmiati bisa meraup omzet sekitar Rp 15 juta.

Baca Juga :  Nasi Serpang, Makanan Kampung yang Populer di Kota

Yang berkunjung ke warung sate ini juga bukan orang sembarangan. Gubernur Jawa Timur Soekarwo pernah mencicipinya. Termasuk, Presiden RI Joko Widodo juga lahap makan sate Bluto ini.

”Dari Polda juga sering makan di sini,” tutu Susmiati. ”Tidak tahu kenapa. Kata pelanggan di sini, sate banyak, tapi rasanya tidak sama dengan yang di sini,” tambahnya.

 

 

SUMENEP – Madura identik dengan sate. Di mana-mana, di kota-kota besar, ketika berbicara tentang Madura, pasti langsung ingat dengan sate. Sebab, sate Madura memang memiliki rasa yang khas nan maknyus.

Banyak warung sate yang bisa ditemui di berbagai daerah di Pulau Garam. Tapi, tidak semua sate bisa melegenda. Beda halnya dengan Sate 35 Bluto yang sudah masyhur di masyarakat.

Warung Sate 35 Bluto berada di Jalan Raya Sumenep-Pamekasan. Warung ini dekat dengan Pasar Bluto. Jika berkendara dari arah Kota Sumenep menuju Pamekasan, warung sate ini berada di sisi timur.


Saat ini, warung Sate 35 Bluto dikelola oleh Susmiati. Perempuan kelahiran 1967 ini merupakan generasi keenam pengelola sate tersebut. Dia melanjutkan menjual sate di warung tersebut sejak 1990. ”Katanya warung sate ini sudah ada sejak zaman Jepang,” ujar Susmiati saat ditemui di warungnya pada Jumat malam (25/5).

Baca Juga :  Bom Ikan Meledak, Satu Nyawa Melayang

Dijelaskan, resep masakan di sini memang sudah diwariskan secara turun-temurun. Akan tetapi, sejak dipegang Susmiati, banyak perubahan yang dilakukan. Terutama pada bumbunya. ”Bumbunya saya perbaharui biar tambah enak,” paparnya.

Di warung ini tersedia tiga jenis sate. Yakni, sate kambing, sapi, dan ayam. Dari tiga menu itu, kambing dan sapi paling banyak diminati warga.

Untuk menambah selera, sate dihidangkan dengan gulai. Sembari menikmati sate, warga bisa menyeruput kuah gulai. Rasanya juga maknyus karena diolah dengan bumbu lengkap.

Setiap hari banyak warga membeli sate di warung tersebut. Itu bisa dilihat dari omzet yang didapat. Per hari Susmiati bisa meraup omzet sekitar Rp 15 juta.

Baca Juga :  Kota Sumekar Surga Wisata Kuliner Penggoda Selera

Yang berkunjung ke warung sate ini juga bukan orang sembarangan. Gubernur Jawa Timur Soekarwo pernah mencicipinya. Termasuk, Presiden RI Joko Widodo juga lahap makan sate Bluto ini.

”Dari Polda juga sering makan di sini,” tutu Susmiati. ”Tidak tahu kenapa. Kata pelanggan di sini, sate banyak, tapi rasanya tidak sama dengan yang di sini,” tambahnya.

 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/